Agar Tahanan Bisa Shalat, Mui Minta Polisi Longgarkan Aturan

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews.com – Menutup aurat adalah syarat sah seseorang saat melakukan shalat selain harus mempunyai wudhu. Aurat laki-laki minimal dari pusar sampai lutut.

“Tapi demi keutamaan shalat tentu harus tahap kepantasan. Untuk itu, shalat dengan celana pendek yang tidak sampai lutut, atau di atas lutut tidak sah shalatnya,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. Cholil Nafis.

Untuk itu, dia meminta pihak kepolisian untuk melonggarkan aturan agar umat Islam yang tengah dipenjara diberi kebebasan  dalam  menjalankan ajaran agamanya untuk memakai celana panjang atau sarung yang menutup aurat.

Semestinya pihak kepolisian mencari cara agar para tahanan shalat tetap menutup aurat tanpa harus merasa khawatir sang tahanan bunuh diri dengan menggunakan celana panjang atau kain sarung. Salah satu caranya dengan pengawasan saat tahanan melakukan shalat.

“Jadi, kain sarung atau celana panjang hanya diberikan saat akan melakukan shalat. Setelah selesai shalat petugas polisi dapat mengambil kembali benda tersebut,” imbuhnya.

Polisi beralasan, pelarangan menggunakan celana panjang atau sarung adalah sesuai prosedur untuk mengantisipasi tahanan melakukan bunuh diri. Celana panjang dan kain sarung dinilai dapat digunakan tahanan untuk bunuh diri.

“Justru dengan shalat dapat meminimalisir dampak stres saat di penjara dan bisa mencegah keinginan untuk bunuh diri,” pungkasnya. LN-NRQ

banner 300x250

Related posts

banner 468x60