Aktivis Hamid Basyaib: Bangsa Tanpa Etika Lebih Parah dari Gerombolan

Jakarta, LiraNews.com – Aktivis sosial dan mantan jurnalis, Hamid Basyaib menegaskan masalah etika sangatlah fundamental dalam tegaknya sebuah negara.

Menurut Hamid, tema etika menjadi sangat penting, terlebih dalam konteks sekarang (Pemilu 2024, red) etika menjadi yang terpenting.

Read More
banner 300250

“Sebuah bangsa yang tidak mempunyai landasan etika hanya menjadi satu gerombolan. Padahal gerombolan juga mempunyai “etika”nya sendiri,” ungkap Hamid dalam diskusi LP3ES dan Universitas Paramadina dengan tema
“Peluang dan Tantangan Etika dan Politik Kenegaraan Indonesia” Selasa (16/1/2024).

Terkait etika, Hamid menyontohkan bagaimana Bangsa Yahudi Israel di dunia sekarang ini banyak yang mengecam tindakan brutal dari zionisme Israel yang membalas dengan berlebihan terhadap Hamas dan warga Gaza.

Kaum Yahudi dunia menjadi begitu perduli karena takut, jika pemerintahan Netanyahu dibiarkan begitu keji dan bengis, maka ke depan landasan etika negara Yahudi akan hancur.

“Bangunan etika negara Israel pelan-pelan akan tergerogoti habis dan tidak dipandang tidak lagi punya hak moral,” tandasnya.

Hamid lantas menyatakan, dalam contoh masalah etika yang paling dekat adalah ketika pengesahan Cawapers nomor urut 2 Gibran yang cacat namun dianggap sah, maka nanti para pendukungnya tidak lagi punya hak moral untuk mengatakan hal-hal ideal tentang Indonesia ke depan.

“Apalagi bicara tentang generasi emas Indonesia, yang menjadi tidak bemakna apa-apa. Hal itu karena sudah dicemari oleh tindakan anti hukum, anti etika yang benar-benar telanjang,” tandasnya.

Hamid menyerukan agar barisan panjang rakyat Indonesia yang bukan pendukung paslon cacat moral harus ikut bersuara, karena negara ini bukan milik kaum yang tidak menghormati hukum dan cacat etika, khususnya Joko Widodo dan keluarga serta kroninya.

“Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia yang mempunyai hak moral berbicara kebenaran dan etika hukum,” tukas Hamid.

Bagi Hamid, Indonesia masih memiliki peluang untuk menegakkan etika dan hukum dengan mengambil pelajaran dari para founding father dulu yang menjalankan proses politik bernegara dengan penuh etika dan ketaatan terhadap hukum, Meski tidak semua.

Masalahnya, Hamid mengaku ragu apakah para pelaku politik terkini di Indonesia mengerti sejarah etika itu. Misalnya biografi bung Hatta, Syahrir, Soekarno dan tokoh lain. Di mana kehidupan perpolitikannya amat jauh dari kepentingan pribadi dan keluarganya.

“Bisa dibayangkan jika betapa luhurnya perilaku politik dan sosial para founding father dulu amat berbeda jauh dengan para pejabat sekarang. Meski bandingannya hanya selevel anak bupati/walikota di daerah yang dengan mudah dapat mengangkangi hukum dan nir etika,” tuntas Hamid.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *