Aliansi Peduli Sekata Sepekat Berantas Kejahatn Mafia Tanah di Aceh Singkil

Gravatar Image
  • Whatsapp

Aceh singkil, LiraNews– Sekumpulan rekan sejawat dari berbagai kalangan Lsm yang peduli pada kemajuan Aceh Singkil membuka jalur musyawarah dan menjalin bersilaturahmi menggagas ada beberapa hal yang diagendakan.

Penasehat Aliansi Peduli Sekata Sepekat yang juga mengetuai salah satu lembaga pemantau keuangan negara republik indonesia (LPK-RI), menyatakan bahwa saat ini fokus pada pemantauan pada penyelenggara negara dan juga menghawatirkan adanya beberapa penyebab tindakan kejahatan yang bersekala raksasa dan merasa kebal hukum diantara perusahaan HGU dan pejabat daerah di Aceh Singkil.

Read More
banner 300250

banner 300250

“Nantinya akan kita bongkar dengan cara khusus bekerjasama dengan aparat penegak hukum terpadu vertical terutama fokus pada maraknya mafia pertanahan pada sektor pengusaha yang memiliki hak guna usaha perkebunan,” ujarnya.

Pesannya ia tidak mau kedepannya tanah masyarakat di Aceh Singkil ini habis dikuasai oleh cukong cukong dari luar daerah dengan mengorbankan masyarakat dengan berbagai modus administrasi praktis inilah yang sering terjadi di Aceh Singkil kita tidak melarang para investor masuk kedaerah kita ini untuk mengelola sumber daya alam yang ada namun harus mengikuti mekanisme dan menjalankan peraturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah sebagai mana mestinya.

“Bukan malah sebagai pelanggar aturan ini sama saja pembodohan bagi masyarakat intinya kita tidak mau bumi bertuah ini habis dikuasai oleh cukong cukong yang tidak bertanggung jawab,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Khabakasah selaku ketua lembaga pemantau penyelenggara negara republik indonesia (LPPN RI), juga mengkritisi adanya salah satu perusahaan di aceh singkil dengan kuat menduga bahwa perusahaan tersebut telah melakukan penyerobotan disertai perusakan hutan kawasan dengan menggunakan alat berat. Sebagaimana diketahui bahwa didalam hutan kawasan tersebut terdapat banyak satwa dilindungi harus bergeser dari hutan belantara kepemukiman masyarakat dan pada akhirnya merusak tanaman masyarakat dikarenakan krisisnya mata rantai makanan disebabkan semakin merajalelanya oknum2 yang tidak bertanggung jawab telah merusak hutan kawasan tersebut

Hal ini lah menjadi perhatian tegas pada sejumlah lembaga swadaya masyarakat membentuk tim aliansi peduli sekata sepekat tegas khabakasah pada saat jumpa pers di halaman kanwil ATR/BPN Aceh Singkil.

Khabakasah juga mencontohkan banyak hal terjadi di Aceh Singkil ini diluar dugaan bahwa adanya peristiwa penangkapan pada pertengahan 2020 lalu.

Salah satu kepala desa Ketangkuhan, Kecamatan Suro Makmur, Kabupatrn Aceh Singkil ditahan hanya gara gara membawa alat berat di areal kebun sawit untuk membuat jalan usaha tani masyarakat.

Ada lagi masyarakat kecil ditangkap hanya gara gara membawa kayu jadi dengan becak motor pun juga jadi korban sementara ada perusahaan yang jelas jelas menyerobot hutan produksi bebas melenggang ada apa ini sebenaranya pihak KPH VI Aceh Singkil-Subulusalam.

Pihak KPH VI yang sebagai saksi ahli di Pengadilan Negeri Singkil menitik beratkan kepada kepala desa tersebut bahwa itu jalan itu masuk dalam hutan kawasan produksi.

“Inikan kezholiman seakan akan “hukum diaceh singkil ini berat sebelah seperti tajam kebawah tapi tumpul keatas,” tegasnya. LN-Den Manik

Related posts