Alun-alun Kota Probolinggo yang Muram dan Sendu

Gravatar Image
  • Whatsapp

Probolinggo, LiraNews – Dahi anda akan mengkerut melihat pemandangan alun-alun Kota Probolinggo yang jorok dan tidak terawat.

Alun-alun yang mestinya menjadi icon kebanggan dan jantung sebuah kota, justru menjadi tempat yang tidak nyaman bagi masyarakat.

Read More
banner 300250

Jangan bayangkan akan ada pemandangan asri, segar, dan bersih di alun-alun Kota Probolinggo. Yang ada malah pemandangan kotor, jorok, gersang, dan tak terawat.

Berdasarkan pantauan liranews.com di alun-alun Kota Probolinggo, nampak sampah berserakan di mana-mana, rumput kering, tak ada satu pun bunga yang tumbuh.

Tugu peninggalan Belanda yang terletak di tengah alun-alun dan menjadi icon Kota Probolinggo, kini hanya dipenuhi rumput ilalang yang mengering.

Hampir setiap sudut alun-alun ini kita diperlihatkan oleh barisan sampah bekas bungkus makanan dan minuman.

“Masalah sampah memang jadi tanggung jawab kita semua, namun di sisi lain pemerintah seharusnya lebih agresif lagi menangani permalasahan ini,” demikian ujar rekan wartawan dengan nada prihatin.

Sampah berserakan di Alun-alun Kota Probolinggo

Padahal dulunya, alun-alun Kota Probolinggo menjadi tempat hiburan alternatif bagi masyarakat Kota Probolinggo, sekaligus menjadi daya tarik wisatawan dari luar daerah.

Para pejabat daerah seperti tak mau ambil pusing dengan kondisi ini. Mereka cenderung ‘cuci tangan’ dan saling lempar tanggung jawab.

Saat dikonfirmasi via telpon bersama rekan wartawan, Kabid Konservasi dan Pertamanan pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo, Neli, mengatakan bahwa soal rumput kering itu masih tanggung jawab rekanan dari CV Binar Aulia Sari.

Sementara terkait sampah, ia mengatakan “Petugas DLH sudah sering membersihkan sampai di dalam alun-alun,” kata Neli.

Lalu, soal ketertiban, Neli menyebut bahwa hal itu menjadi tanggung jawab Satpol PP.

Neli menerangkan, sementara ini, DLH hanya memiliki kewenangan kebersihan alun-alun. Meskipun, kewenangan dari rekanan ke Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang, Perumahan, dan Permukiman (PUPR-Perkim) belum diserahkan ke DLH.

Dikonfirmasi terpisah, Kontaktor Pelaksana, Kurnia mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan pemeliharaan taman alun-alun. Hanya saja, ada beberapa kendala yang terjadi kala itu. Yakni kelistrikan yang belum menyala. “Saat penyiraman rumput, tertunda,” kata Kurnia.

Sementara, saat Kurnia berkoordinasi dengan DLH, truk milik DLH tak dapat masuk di alun-alun. Ia juga telah berusaha berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan setempat. “Akhirnya saklar bisa dihidupkan dan dapat menyiram,” ujarnya.

Kurnia memastikan dan menjamin bahwa, jenis rumput dan bunga di bagian tengah kondisinya masih hidup, meskipun kering. Kendati demikian, ia sudah melakukan penyemprotan terhadap gulma.

“Itu menunggu waktu untuk bisa dilakukan pemotongan,” katanya.

Kurnia menyebut keberhasilan tanaman rumput gajah mini yang mulai nampak hijau. Ia juga memastikan akan terus melakukan pemeliharaan sampai bulan Desember 2021.

Di lain sisi, saat menemui salah satu pengunjung, seperti yang diungkapkan oleh Ririn (40). Bahwa dulu alun-alun ini bersih sejuk dan nyaman. Berbanding 180 derajat dari sekarang yang gersang, kotor, dan jauh dari kata nyaman.

Padahal jika dibandingkan dengan kota dan kabupaten lain di Indonesia, Alun-Alun adalah simbol kebanggan bagi masyarakat dan tanda peradaban yang maju dan terbuka.

Ririn terbayang sebuah alun-alun dengan pepohonan yang tumbuh subur nan hijau, dengan air mancur yang mengalir, serta rumput yang terawat. Kemudian ada icon khas kota Probolinggo tempat berfoto selvi bagi masyarakat yang datang ke sana.

Tapi itu hanyalah mimpi yang mestinya bisa dijadikan kenyataan. “Masyarakat tentu berharap Pemerintah segera memperbaiki keadaan alun-alun ini,” tandas Ririn penuh harap.

Related posts