Anak-anak di Garut Dibaiat Masuk NII, Habib Syakur: Gencarkan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan

Gravatar Image
  • Whatsapp

Jakarta, LiraNews – Inisiator Gerakan Nurani Kebangsaan (GNK) Habib Syakur Ali Mahdi Al Hamid, menyarankan pemerintah daerah kabupaten Garut, Jawa Barat, untuk lebih gencar menanamkan wawasan kebangsaan kepada anak-anak serta para orang tua.

Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat, terlebih anak-anak, tidak disusupi ideologi selain Pancasila. Apalagi di era keterbukaan media sosial maka pemerintah harus lebih massif lagi melakukan sosialisasi wawasan kebangsaan.

Read More
banner 300250

Hal itu disampaikan Habib Syakur merespons dugaan dibaiatnya puluhan warga, termasuk anak-anak di Garut oleh NII. Doktrin yang disampaikan bahwa Indonesia adalah negara thogut.

“Pemda harusnya melakukan sosialisasi produktif pentingnya penanaman wawasan kebangsaan. Saya rasa Pemda dan pemerintah pusat khususnya, telah memikirkan itu, tapi di zaman era keterbukaan adanya media sosial dan lain-lain, semua itu terfilter dengan adanya prinsip-prinsip dasar kekuatan keimanan agar menimbulkan rasa cinta tanah air,” kata Habib Syakur dalam dialog bertajuk “Ancaman NII di Kabupaten Garut” dengan RRI, Minggu (10/10/2021).

Habib Syakur menjelaskan, jika ingin memahami makna keberagaman, maka harus taat taat menjalankan perintah agama menjauhi larangan. Dengan selalu mengedepankan hati yang bersih, hati yang ikhlas terhadap sesama dan mengedepankan pentingnya cinta kasih, solidaritas dan kasih sayang dalam kemanusiaan.

“Itu lah ciri khas kita sebagai insan suci Pancasila dan insan Indonesia yang sejati,” ucapnya.

Peran orang tua, lanjut Habib Syakur, sangat penting dalam memastikan tumbuh kembang anak-anaknya dengan baik. Orang tua harus bisa menjadi figur yang menjadi panutan anaknya.

“Orang tua wajib menjaga anak-anaknya serta menanamkan prinsip-prinsip kebangsaan dalam keberagaman. Contoh, cinta tanah air dan bangsa, selalu menjaga kasih sayang dalam kemanusiaan. Karena sudah pasti jika itu dijalankan paham-paham apapun yg masuk yang dipelajari anak-anak, akan luntur dengan sendirinya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Habib Syakur juga menawarkan solusi untuk memutuskan mata rantai pergerakan NII agar tidak lagi berkembang. Caranya ialah memakai pendekatan humanis supaya mereka sadar.

“Mereka ini adalah oknum. Oknum ini adalah yang terkontaminasi, jadi harus kita rangkul. Biar tidak ada kesan lagi orang takut sama agama. Tidak ada kesan lagi orang berbicara egois atas nama agama. Saya berharap masyarakat semakin sadar pentingnya kebersamaan pentingnya gotong royong pentingnya musyawarah untuk mencapai mufakat,” ucapnya.

Kepada pemerintah pusat hingga desa, Habib Syakur berpesan agar mereka bisa merangkul dan membina orang-orang yang terindikasi terpapar pergerakan NII.

“Jangan kita langsung menindak. Lebih baik kita rangkul bersama-sama. Jangan kita langsung vonis kamu bersalah kamu benar, tapi kita nyatakan bahwa sudahlah akhiri semua yang tidak bermanfaat. Mari kita ciptakan kedamaian untuk negeri ini untuk hari depan. Keluarga yang hebat adalah keluarga yang bisa mengayomi anggotanya,” tandas Habib Syakur.

Related posts