Anak Sebagai Pelopor dan Pelapor Perangi Bullying di Sekolah

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Jakarta (Liranews.com ) Saat ini kasus kekerasan terhadap anak masih marak terjadi di dunia pendidikan tanah air. Fenomena bullying masih menjadi kekerasan yang menghantui anak-anak di Sekolah. Untuk itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melakukan Sosialisasi Pencegahan Bullying di Lingkungan Sekolah, tepatnya di Sekolah Bina Bangsa, Pantai Indah Kapuk, Jakarta.16/9/2019.

“Berdasarkan Hasil Survey Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2018 menunjukkan bahwa 2 dari 3 anak Indonesia berusia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya, baik berupa kekerasan fisik, emosi, ataupun seksual. Mirisnya, hampir 70% pelaku kekerasan tersebut adalah teman sebaya,” ungkap Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat, Indra Gunawan dalam sambutannya.

Indra menambahkan bahwa Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2018 menyebutkan ada 107 kasus anak yang menjadi korban kekerasan dan bullying (perundungan). Selain itu, 127 kasus anak menjadi pelaku kekerasan dan bullying.

“Nah Anak-anak, melihat angka ini, adakah di sini yang pernah mengalami kekerasan? Seperti Bullying, biasanya dalam bentuk kekerasan verbal, kekerasan fisik. Coba bapak mau dengar, siapa di antara kalian yang pernah mengalami dan bagaimana bentuk kekerasannya?” tanya Indra kepada para pelajar.

Beberapa anak mengangkat tangannya dan tertarik untuk berbagi pengalaman terkait kasus bullying yang mereka alami. Salah satunya, Carisa, siswi SMA Bina Bangsa yang kerap mengalami kekerasan verbal dan fisik ketika duduk di kelas 5 SD dan dilakukan oleh teman-teman sekelasnya.

“Saya sering dipanggil gendut dan cengeng, teman-teman juga pernah cubit dan tampar saya. Awalnya, saya sempat mengadu ke sesama teman tapi malah disuruh diamkan saja. Lama-lama saya beranikan diri untuk lawan mereka,” terang Carisa.

Selain Carisa, ada Nathan dan Vi yang juga membagikan pengalaman pahit mereka ketika mengalami bullying di Sekolah Dasar.

“Ketika duduk di Sekolah Dasar, saya sering menerima perlakuan rasis dari teman-teman, mereka seenaknya memanggil saya Cina. Selain itu, beberapa teman juga pernah mengintip dan mengambil foto sekaligus video dengan seenaknya ketika saya buang air di toilet. Saya siram saja mereka dengan air, setelah itu saya laporkan ke guru dan orangtua saya,” ujar Nathan dengan kesal.

Di sisi lain, Vi, salah satu siswi yang juga pernah mengalami bullying berupa kekerasan verbal oleh teman sekolahnya, justru memberikan dukungan moril bagi para korban bullying. “Sebagai korban bullying, ayo ubah pola pikir kita untuk jangan mudah menyerah dan terpuruk. Kita harus bangkit, berjuang mempertahankan diri dari siapapun yang membully kita,” tegas Vi.

“Bullying bisa terjadi di mana saja, kapan saja dan menimpa siapa saja, bahkan diri kalian sendiri. Bullying merupakan bentuk intimidasi atau penindasan yang tidak hanya terjadi antar pelajar, bahkan juga sering kali dilakukan oleh guru. Padahal dampak bullying ini luar biasa berbahaya bagi anak. Anak bisa depresi dan mengalami gangguan psikologis, prestasi menurun dan dua kali lipat berpotensi melakukan kekerasan ketika dewasa, sebagai balas dendam akan tindakan bullying yang pernah dirasakan,” ungkap Indra.

Indra menegaskan bahwa peran keluarga dan masyarakat sangat penting dalam melindungi anak dari segala bentuk kekerasan bullying. Orangtua dan guru harus bisa bersifat terbuka dengan anak, dengarkan keluhan dan cerita mereka, pantau anak dalam berinteraksi sosial, berikan pendidikan karakter yang dapat meminimalisir bullying pada anak. Ke depan sekolah juga harus melakukan kampanye-kampanye efektif dalam memerangi kasus bullying.

“Anak-anak, kita harus bertindak memerangi kasus bullying di lingkungan sekolah. Jika kalian mengalami atau melihat teman menjadi korban bullying, segera laporkan ke guru, orangtua maupun orang di sekitar. Kalian harus bisa menjadi pelapor dan pelopor bagi lingkungan dan kesejahteraan anak-anak Indonesia,” pungkas Indra.(Bbg)

Tue Sep 17 , 2019
Makassar, LiraNews – Camat Biringkanaya, Dr Andi Syahrum Makkuradde SS SE M,Si, buka Sosialisasi Penyuluhan penyelenggaraan Keamanan dan Kenyamanan Lingkungan Tahap VII Tingkat Kecamatan Biringkanaya Tahun 2019 yang diadakan di Kantor Kecamatan Biringkanaya pada hari Selasa (17/09/2019), di Aula Kantor Camat lantai 3. Dalam sambutannya, Camat menyampaikan agar kita terus […]