Angka Penyebaran Covid-19 Makin Meningkat, IPW Imbau Polri Tak Keluarkan Izin Pertandingan Liga 1 dan 2

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews – Polri dihimbau tidak memberikan izin pelaksanaan pertandingan sepakbola Liga 1 dan 2, sebab pandemi Covid-19 saat ini makin menyalak, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan banyaknya klaster baru.

Selain itu dilarangnya Liga 1 dan 2 pada awal Oktober ini, sama artinya Polri akan menyelamatkan pelaksanaan Piala Dunia U-20 di Indonesia pada pertengahan 2021 mendatang.

Read More

banner 300250

Hal tersebut disampaikan Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S. Pane kepada para awak media melalui keterangan tertulis, Kamis (24/9/2020).

Neta menilai, masalah pandemi Covid-19, adalah faktor utama Polri untuk tidak memberi izin kepada PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan PSSI untuk melanjutkan kompetisi Liga 1, yang akan dimulai 1 Oktober serta Home Tournament Liga 2, yang digelar di empat kota Medan, Riau, Lampung dan Cilacap, pada 17 Oktober 2020.

“Alasannya, kondisi Covid-19 di Indonesia, semakin meningkat. Jika, LIB tetap menggelar Liga 1 yang dipusatkan di Jogja bagi enam klub di luar Jawa, seperti Persiraja Banda Aceh, Barito Putra, Borneo FC, Bali United, PSM Makassar dan Persipura Jayapura, dikhawatirkan akan melahirkan klaster baru pandemi Covid 19,” kata pria kelahiran Medan, 56 tahun yang lalu ini.

Neta menyebut, ada dua alasan mengapa Polri jangan memberi izin.

“Pertama, instruksi Presiden Jokowi yang menegaskan, masalah kesehatan dan kemanusian lebih diutamakan, ketimbang masalah ekonomi. Kedua, maklumat Kapolri Jenderal Idham Aziz tentang semboyan “Salus Populi Suprema Lex Esto” yaitu Keselamatan Rakyat Merupakan Hukum Tertinggi,” paparnya.

Menurut Neta, jika Liga 1 dan 2 tetap digelar dikhawatirkan akan banyak melahirkan klaster baru.

“Tentunya ini bertolak belakang pada sikap semua kepala daerah, yang sudah memberi instruksi kepada bawahannya, untuk menjalankan protokol kesehatan secara ketat,” jelas Penulis Buku Jangan Bosan Kritik Polisi ini.

Neta berpendapat, jika PT LIB dan PSSI tetap bandel menggelar kompetisi, dan melahirkan klaster-klaster baru penyebaran Covid-19 di Yogyakarta dan sekitarnya.

“Federasi sepakbola dunia (FIFA) pasti akan mempertimbangkan, apakah Indonesia masih pantas menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 atau tidak, padahal Piala Dunia U20 itu dijadwalkan pada 20 Mei-14 Juni 2021, dan diikuti 24 negara,” sebutnya.

“Artinya, jika Liga 1 dan 2 tetap digulirkan. Siapa yang menjamin protokol Covid-19 dijalankan oleh masing-masing penyelenggara? Siapa yang menjamin, suporter tidak datang ke sekitar stadion? Siapa yang menjamin, jika pemain dan ofisial klub yang datang dari luar Yogyakarta, tidak membawa Covid-19?,” tanya mantan Wapemred Harian Jakarta ini.

Neta menilai, indikasi klaster-klaster baru di kota besar, semakin mewabah sudah terlihat.

“Even sepakbola, sangat mudah terindikasi pandemik. Karena, masyarakat sepakbola Indonesia, cenderung tidak disiplin, dan sulit diatur,” terangnya.

Menurut Neta, jika Liga 1 dan 2 tetap digulirkan, dan klaster Covid-19 semakin meningkat, khususnya di kota Yogyakarta, tidak mustahil FIFA akan menunda atau membatalkan Piala Dunia U-20 di Indonesia.

“Sebab FIFA menilai PSSI dan Pemerintah dianggap lengah dan tidak peduli dengan pandemik Covid-19. Bukan mustahil pula ke 23 negara yang lolos ke Piala Dunia U-20 tahun 2021 akan menolak bermain di Indonesia,” tutur Neta.

Sebab, lanjut Neta, Pemerintah Indonesia dinilai tidak mampu menurunkan penyebaran pandemi Covid-19.

“Apalagi sampai hari ini, tingkat kematian bertambah. Kenaikan yang terkena Covid-19 di Indonesia juga semakin besar,” bebernya.

Neta menuturkan, saat ini saja telah ada 59 negara telah ‘me-lockdown’ Indonesia karena melonjaknya angka Covid-19 dan penyebaran virus seakan-akan bisa dikendalikan.

“Jadi, lebih baik Polri melakukan pencegahan untuk tidak memberi ijin kepada Liga 1 dan 2. Tujuannya agar Piala Dunia U-20 bisa diselamatkan dan berlangsung di Indonesia yang diikuti 23 negara. Daripada, dibatalkan FIFA, karena pemerintah Indonesia, tak mampu mengendalikan pandemik Covid-19,” pungkas mantan Redpel Koran Aksi ini. LN-RON

banner 300x250

Related posts

banner 468x60