Azis Syamsudin Dalam Pusaran Korupsi, Nasibnya Tinggal Menunggu Ketok Palu KPK

Gravatar Image
  • Whatsapp

Jakarta, LiraNews – Nasib Azis Syamsudin tampaknya sudah diujung tanduk, dan sepertinya sudah tinggal menunggu ketok palu KPK untuk ditetapkan tersangka.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan sudah mengungkap peranan Azis saat sidang pembacaan surat dakwaan terhadap Stepanus Robin Pattuju dan pengacara Maskur Husain di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (13/9/2021).

Read More
banner 300250

Sosok Wakil Ketua DPR Azis Syamsudin mendapat banyak sorotan, karena secara eksplisit disebut berperan dalam perkara suap yang ditangani KPK.

Bahkan dalam perkara suap yang menyeret eks penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju ke meja peradilan, Azis Syamsudin bersama kader Partai Golkar Aliza Gunado disebut sebagai pemberi suap sebanyak Rp 3,613 miliar.

“Bahwa untuk mengurus kasus yang melibatkan Azis Syamsudin dan Aliza Gunado di KPK, terdakwa Stepanus Robin Pattuju dan Maskur Husain telah menerima uang dengan jumlah keseluruhan sekitar Rp3.099.887.000 dan 36.000 dollar AS (sekitar Rp 513 juta),” kata jaksa penuntut umum (JPU) KPK Lie Putra Setiawan.

Azis yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar tampaknya sudah sulit mengelak dan menyelamatkan diri dari jeratan KPK.

Apalagi namanya disebut terlibat dalam tiga perkara, yakni:

1. Kasus suap jual beli jabatan dengan terdakwa Wali Kota Tanjungbalai M. Syahrial.

2. Kasus dana alokasi khusus (DAK) Lampung Tengah 2017.

3. Kasus suap penyitaan aset dengan terpidana mantan Bupati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rita Widyasari.

Dalam kasus jual beli jabatan Kota Tanjungbalai, JPU KPK menyebut Azis berperan mengenalkan M. Syahrial dengan penyidik Stepanus dalam pertemuan ketiganya di rumah dinas Azis, Jalan Denpasar Raya, Jakarta Selatan, pada Oktober 2020.

Dalam pertemuan itu, Syahrial meminta Robin agar penyelidikan perkara jual beli jabatan di Kota Tanjungbalai tidak naik ke tahap penyidikan. Robin menyanggupi, dengan imbalan senilai Rp1,7 miliar, meski belakangan uang yang ditransfer senilai Rp1,695 miliar.

Sempat dijanjikan berhenti, kasus tersebut tetap naik ke tahap penyidikan. Syahrial kemudian kembali menghubungi Azis yang sama-sama sebagai kader partai Golkar, pada April 2021.

Adapun dalam kasus DAK Lampung Tengah 2017, Azis Syamsudin bersama mantan Ketua PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Aliza Gunado disebut memberikan uang Rp2 miliar dan USD36 ribu kepada Robin dan Maskur terkait perkara DAK Lampung Tengah 2017.

Dalam perkara ini, Azis sebelumnya juga sempat dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI atas dugaan pelanggaran kode etik. Azis saat itu menjabat Ketua Badan Anggaran DPR.

“Bahwa untuk mengurus kasus yang melibatkan Azis Syamsudin dan Aliza Gunado di KPK, terdakwa dan Maskur Husain telah menerima uang dengan jumlah keseluruhan sekitar Rp3.099.887.000 dan USD36.000,” ucap jaksa.

Kemudian di kasus penyitaan aset bekas Bupati Kukar, Jaksa KPK menyebut Azis berperan mengenalkan penyidik Robin dan pengacara Maskur dengan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari pada Oktober 2020.

Rita yang kala itu ditahan di Lapas Klas II Tangerang ditemui Robin dan Maskur. Mereka menawarkan jasa kepada Rita untuk memuluskan pengembalian aset yang disita KPK sekaligus pengajuan Peninjauan Kembali (PK) dalam kasus yang menjeratnya.

Dalam perkara ini, Robin disebut meminta imbalan Rp10 miliar kepada Rita. Jumlah itu belum termasuk imbalan jika pengembalian aset berhasil, dengan tambahan sebanyak 50 persen dari total nilai aset.

Dengan tiga perkara yang menyeret namanya ini, tampaknya Azis Syamsudin tinggi menunggu waktu saja untuk ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Saat ini nasib Azis Syamsudin sudah diujung palu KPK.

Related posts