Capres-Cawapres Belum Serius Menggarap Isu Ekonomi Syariah

Diskusi Catatan Awal Tahun “Visi Capres dan Evaluasi Ekonomi Syariah di Indonesia” yang digelar INDEF pada Jumat (12/1/2024).

Jakarta, LiraNews.com – Wakil Rektor Bidang Pengelolaan Sumber Daya, Universitas Paramadina, Dr. Handy Rizal menilai para calon presiden dan calon wakil presiden belum serius dalam mengangkat isu Ekonomi Syariah secara mendalam.

Padahal menurut Handy, momentum pemilu ini dapat menjadikan ekonomi syariah menjadi isu yang strategis.

Read More
banner 300250

“Isu ekonomi syariah ada di dalam visi misi masing-masing paslon, tetapi dari segi skala prioritas masih belum jelas,” tandas Handy dalam Diskusi Catatan Awal Tahun “Visi Capres dan Evaluasi Ekonomi Syariah di Indonesia” yang digelar INDEF pada Jumat (12/1/2024).

Menurut Handy, Indonesia mengalami kesulitan terkait data industri halal, karena BPS belum mengakomodasi pendataan perkembangan industri halal di Indonesia.

“Indonesia belum punya satu ukuran yang diakui untuk mengukur perkembangan ekonomi syariah di Indonesia, jadi masih terpaku pada data SGIE,” jelasnya.

Nah, pada 2023 SGIE sudah mengeluarkan beberapa indikator, yaitu halal product, farmasi, islamic finance, dan halal lifestyle.

Jika dilihat angka dan datanya, terdapat tren yang positif pada industri nasional. Berdasarkan data Global Islamic Economy, ekonomi halal dapat meningkatkan PDB Indonesia sebesar 5,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp72,9 triliun per tahun melalui peluang ekspor dan investasi.

Perkembangan halal food Indonesia relatif stagnan, tetapi secara global memiliki share yang 16,6 persen. Yang perlu ditingkatkan adalah sebesar apa investasi halal food ini sehingga dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Di negara-negara non-muslim seperti Jepang, biasanya terdapat halal food corner sehingga negara-negara non-muslim dapat menjadi market halal food asal Indonesia”

Dari segi modest fashion, Indonesia berada pada peringkat ketiga (data Global Islamic Economy). Diperlukan upaya yang signifikan untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim di dunia.

“Dari segi pariwisata, Indonesia tidak ada di 10 besar, padahal potensi muslim friendly tourism Indonesia sangat besar, ungkap Handy.

Muslim friendly yaitu kawasan pariwisata yang memfasilitasi orang muslim untuk beribadah selama berwisata dan adanya makanan dan minuman halal. Adapun terkait media and recreation, Indonesia menempati peringkat ke-6.

“Terkait farmasi dan kosmetik, Indonesia menempati peringkat ke-5. Bahan baku obat banyak tersedia di Indonesia. Indonesia bisa menjadi leader pada pengembangan farmasi halal dan kosmetik halal,” tandas Handy.

Lebih jauh Handy memaparkan bahwa industri halal tanpa ditopang oleh sektor keuangan syariah tidak akan berkembang. Pada tahun 2021, terdapat 1,9 miliar penduduk Muslim di seluruh dunia dengan belanja sebesar 2 triliun dolar AS untuk produk halal.

Belanja ini tumbuh tinggi, hampir 9 persen (year-onyear) dan diperkirakan meningkat hingga mencapai 4,96 triliun dolar AS pada 2030.

“Sebagai negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia atau lebih dari 230 juta jiwa atau sekitar 87 persen dari total populasi Indonesia, maka Indonesia merupakan pasar produk halal yang besar,” tandas Handy.

Berdasarkan Indonesia Halal Markets Report 2021/2022, ekonomi halal dapat meningkatkan PDB Indonesia sebesar 5,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp72,9 triliun per tahun melalui peluang ekspor dan investasi.

“Perkembangan industri halal harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari grand design pembangunan nasional yang komprehensif, mulai dari RPJPN 2025-2045, RPJMN 20242029, dan visi-misi presiden terpilih,” tuntas Handy.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *