Covid-19: Harta dan Nyawa

Jakarta, LiraNews – Angka baru korban serangan virus corona atau Covid-19 mulai diumumkan. Tak hanya membunuh manusia, Covid-19 melumpuhkan ekonomi China dan menggerogoti pertumbuhan ekonomi dunia. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia pun dipastikan tidak akan tercapai.

Hingga Rabu (26/2) pagi WIB, angka kematian akibat Covid-19 bertambah menjadi 2.712 korban jiwa. Dikutip dari www.worldometers.info, korban jiwa di China tercatat 2.664 orang. Angka ini bertambah sebanyak 71 orang dari hari sebelumnya.

Di luar China, Korea Selatan melaporkan 3 kematian baru, sehingga total korban jiwa di negara ini mencapai 11 orang. Jumlah infeksi mencapai 977 kasus. Dengan ini, Korsel menjadi negara dengan jumlah kasus Covid-19 terbesar di luar China.

Sementara Italia mencatat jumlah kasus yang dikonfirmasi mencapai 323, dengan total korban jiwa mencapai 11 orang.

Hingga Rabu, dari total 80.425 kasus virus corona di seluruh dunia, sebanyak 27.937 pasien berhasil sembuh. Di antara 49.776 pasien yang masih terinfeksi, 9.212 di antaranya berada dalam kondisi kritis, sedangkan 40.564 sisanya berada dalam kondisi yang stabil.

Di bawah Target

Selain mengambil nyawa, virus corona merenggut harta. Ekonomi dunia terganggu. Tanpa virus corona, International Monetary Fund (IMF) Oktober tahun lalu memprediksi ekonomi global tumbuh 3,4%. China diproyeksi tumbuh 5,8%. Volume perdagangan dunia diperkirakan tumbuh 3,2%.

Angka ini diprediksi tak akan tercapai akibat Covid-19. Ekonomi China lumpuh. Terganggunya ekonomi negeri Tirai Bambu ini berakibat buruk bagi ekonomi dunia.

Kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) China terhadap PDB dunia mencapai 15%. Pada 2019, elastisitas pertumbuhan ekonomi global terhadap pertumbuhan ekonomi China mencapai 0,49. Artinya, jika ekonomi China tumbuh 1%, maka ekonomi global tumbuh 0,49%. Begitu sebaliknya, ekonomi China turun maka turun pula ekonomi dunia.

China juga menjadi pusat produksi barang dunia dengan porsi mencapai 12,8% terhadap produksi barang di dunia. Sedangkan kontribusi dari jasa mencapai 4,8%. China dikenal mampu berproduksi dengan biaya murah.

Satu ukuran yang paling penting dari dominasi perdagangan China adalah surplus neraca perdagangannya. Neraca perdagangan China ke AS surplus hingga US$345 miliar pada 2019, sedangkan terhadap Uni Eropa surplus €109 miliar.

Selanjutnya, kekuatan wisatawan. Sebelum krisis keuangan global, China tumbuh double digit, yang pada gilirannya mendongkrak pendapatan per kapita penduduknya. Menurut catatan the World Travel and Tourism Council (2019), pertumbuhan sektor perjalanan dan pariwisata dunia pada 2018 mencapai 4,2%, China berkontribusi hingga 25% terhadap pertumbuhan tersebut.

Ekonomi China diprediksi akan tertekan pada triwulan I-2020. Senior Fellow pada The Peterson Institute for International Economics Nicholas R Ladry memprediksi, China hanya tumbuh 4%.

Pengaruh terhadap Indonesia

Lalu, bagaimana pengaruh virus ini terhadap ekonomi Indonesia? Abdul Manap Pulungan, peneliti Indef, mencatat ada beberapa jalur. Jalur pertama, lewat sektor perdagangan internasional. Porsi ekspor Indonesia ke China sekitar 16% dan menjadi yang tertinggi dibandingkan negara lain. Komoditas Indonesia ke China didominasi oleh bahan bakar mineral serta lemak dan minyak dari hewan maupun tumbuhan.

Faktanya, komoditas-komoditas tersebut relatif sulit mencari pasar baru ke negara-negara lain. Data 2019 menunjukkan, ekspor Indonesia ke China masih tumbuh sekitar 5,9% (yoy). Jika ekspor ke China turun, maka kemampuan Indonesia untuk menurunkan defisit neraca perdagangan semakin melemah. Artinya, kontribusi neraca perdagangan pada PDB diprediksi tetap negatif. Tahun 2019, neraca perdagangan (ekspor dikurangi impor) berkontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,49%.

Pusat Penelitian Ekonomi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut lebih dari 495 jenis komoditas atau 13% ekspor Indonesia dengan tujuan ekspor China. Sementara itu, sekitar 6,5% atau sebanyak 499 jenis barang impor dari China diperkirakan akan menyusut atau bahkan menghilang dari pasar Indonesia. Hal ini akan menyebabkan konsumsi rumah tangga turun hingga 0,8%.

Tidak hanya itu, sebagian besar produk yang merupakan barang konsumsi strategis akan memiliki implikasi serius terhadap inflasi dalam negeri.

Kedua, ada peningkatan kapasitas investasi langsung (foreign direct investment/FDI) China ke Indonesia, yang berpotensi menurun karena corona. Pada 2019, realisasi investasi langsung dari China menempati urutan ke dua setelah Singapura, mencapai Rp4,74 miliar. Dari segi kontribusi investasi China ke Indonesia meningkat dari 2,15% pada 2015 menjadi 16,82% pada 2019.

Ketiga, tekanan wisatawan. Keputusan pemerintah untuk menghentikan penerbangan dari dan ke China menekan sektor pariwisata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lalu lintas wisatawan asal China mencapai 2,07 juta orang pada 2019. Angka tersebut mencakup 12,8% dari total wisatawan asing sepanjang 2019.

Kepala P2E LIPI, Agus Eko Nugroho, menyebut sektor yang akan terdampak pertama kali adalah sektor pariwisata yang berpotensi mengancam devisa negara. Hasil simulasi yang dilakukan oleh P2E LIPI menunjukkan bahwa potensi kehilangan pendapatan dari sektor wisata mencapai US$2 miliar. Pada 2019 tercatat setidaknya ada 2 juta turis asal China yang berkunjung ke Indonesia dengan rata-rata lama tinggal adalah 6 hari dan menghabiskan US$157/orang/hari.

Realitas ini membuat Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,04% pada 2020 tidak akan tercapai. “Pertumbuhan nasional Indonesia diprediksi akan mengalami kontraksi,” kata Agus Eko Nugroho dalam siaran pers, Rabu (26/2).

Hasil perhitungan P2E LIPI menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terkoreksi sebesar minus 0,19% hingga 0.29%, maknanya pertumbuhan akan berada di angka 4,84% untuk kasus moderat dan hanya mencapai 4,74% jika kepanikan terus meluas. “Angka tersebut baru dampak pada putaran pertama saja,” imbuh Agus.

Langkah Stategis

Pemerintah sendiri telah mengambil langkah strategis untuk mereduksi potensi dampak negatif pelemahan perekonomian akibat wabah Covid -19.

Usai Rapat Terbatas dengan Presiden Jokowi, Selasa (25/2), Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut salah satu langkah yang diarahkan Presiden Jokowi adalah penyaluran Kartu Pra Kerja akan dipercepat. Kartu tersebut akan diluncurkan di tiga Provinsi yakni Sulawesi Utara, Bali, dan Kepulauan Riau.

Pemerintah juga sudah menyiapkan beberapa langkah untuk mendorong pariwisata. Salah satunya adalah pemberian insentif untuk industri penerbangan. “Ini alokasi tambahan sebesar Rp298 miliar terdiri dari alokasi airlines, kemudian ada anggaran promosi Rp103 miliar dan juga untuk kegiatan tourism Rp25 miliar dan influencer sebanyak Rp72 miliar,” kata Hartarto. “Khusus untuk wisatawan domestik diberi dukungan pemberian diskon 30 Persen untuk di 10 tujuan wisata,” sambungnya.

Diskon 30% itu diberikan untuk kuota 25 seat (kursi) di setiap penerbangan. Setiap penerbangan di 10 destinasi wisata itu berlaku selama tiga bulan, yakni Februari hingga Mei 2020. Apabila program itu dirasakan manfaatnya, akan diteruskan.

Sepuluh destinasi wisata itu adalah Danau Toba Sumut, Yogyakarta, Malang, Manado, Bali, Mandalika, Labuhan Bajo, Bangka Belitung, Batam dan Bintan.

Selanjutnya, dipaparkan Airlangga ada juga langkah pengurangan tarif Tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) sebesar 20% selama tiga bulan pada 10 destinasi itu.

Angkasa Pura memberikan diskon senilai Rp265, 6 miliar untuk PJP2U, lalu Pertamina memberikan diskon avtur di 10 bandara destinasi dengan total diskon senilai Rp265,5 miliar.

Selain itu, ada relokasi anggaran khusus untuk 10 daerah wisata. Realokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) itu sebanyak Rp147,7 miliar. Terakhir adalah insentif pajak hotel dan resto di 10 destinasi wisata tarifnya dinolkan (dihilangkan).

Menurut Menparekraf, Wishnutama, insentif tersebut diharapkan menarik wisatawan sebanyak 736 ribu orang. Nantinya pemerintah akan memfokuskan ke pasar pasar lain selain China. Wisatawan yang dibidik pun wisata tajir yang Aspanya di atas US$1.700 per kunjungan. Dengan begitu punya dampak ekonomi yang besar buat Indonesia. “Dari 736 ribu yang kita targetkan, itu kira-kira dapat menghasilkan devisa sebesar Rp13 triliun,” kata Wishnutama.

Upaya menangkal dampak serangan virus corona ini diharapkan bisa efektif sehingga kerugian yang ditimbulkan tidak terlalu parah. Hanya saja, LIPI tetap menyarankan kepada pemerintah, khususnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar memberikan kelonggaran jatuh tempo KUR bagi UMKM yang akan terdampak dari pelemahan ekonomi China tersebut.

Dimas Huda