Demi China Dan Ironi Baja Kita

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:

LiraNews.Com

Bagikan:

LiraNews, Jakarta — Ironis. Di tengah gencarnya pemerintah membangun infrastruktur yang butuh baja melimpah, perusahaan negara justru sekarat. Banjir baja impor, terutama dari China, kian menggila. Utang PT Krakatau Steel Tbk. (KS) menggunung. Kerugian BUMN ini makin tak terbendung.

Krakatau Steel memiliki utang yang sangat besar, yakni US$2,49 miliar atau) Rp34,86 triliun (kurs Rp 14.000) pada akhir 2018. Jumlah ini mengalami kenaikan 10,45% dibandingkan 2017 sebesar US$2,26 miliar.

Utang jangka pendek yang dimiliki Krakatau lebih besar dibandingkan utang jangka panjang. Utang jangka pendek senilai US$1,59 miliar, naik 17,38% dibandingkan 2017 senilai US$1,36 miliar. Sementara utang jangka panjang US$899,43 juta.

Utang yang menggunung itu memaksa Krakatau berbenah. BUMN ini antara lain berencana melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada 1.300 karyawan organiknya. PHK itu akan dilakukan secara bertahap, mulai 2019 hingga 2022. Hingga Maret 2019, PT KS memiliki 6.264 posisi dengan jumlah pegawai sebanyak 4.453 orang. PT KS akan melakukan perampingan posisi menjadi 4.352 posisi.

Aneh dan ajaibnya, di tengah kondisi yang memprihatinkan itu, pemerintah justru tampak asyik menggelar karpet merah untuk perusahaan asal China, Hebei Bishi Steel Group. Perusahaan ini membangun pabrik baja di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, dengan nilai investasi US$2,54 miliar. Pabrik tersebut rencananya yang terbesar di Asia karena mampu menyerap 6.000/ hingga 10.000 tenaga kerja. Serta direncanakan beroperasi pada 2019 ini atau paling lambat 2020.

Rupanya, perusahaan baja China ini paham betul, dengan mendirikan pabrik baja di Indonesia berarti telah memasuki jantungnya pasar. Nantinya, mereka tak perlu lagi mengirim baja dari negerinya. Kebutuhan baja untuk pembangunan infrastruktur di sini langsung mereka layani.

Menurut The South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI), pada tahun 2018, jumlah impor baja Indonesia mencapai 7,6 juta ton. Sedangkan berdasar Badan Pusat Statistik (2018), impor besi dan baja merupakan komoditas impor terbesar ketiga Indonesia. Impor benda keras ini 6,45% dari total impor. Indonesia merogoh kocek US$10,25 miliar untuk impor komoditas ini.

BPS juga mencatat pada Januari hingga April 2019 Indonesia mengimpor besi dan baja dari China sebesar US$768,62 juta. Para periode tersebut neraca perdagangan Indonesia defisit sebesar US$2,56 miiar. Defisit ini tercatat lebih besar ketimbang periode yang sama tahun lalu US$1,4 miliar.

Sejak tujuh Tahun

Krakatau Steel memang sudah bermasalah sejak  tujuh tahun silam.l Setidaknya begitu jika ditengok dari kinerjanya yang selalu merugi. Hanya saja, kondisi kini, bukannya sembuh, malah makin menyedihkan. Rapor BUMN ini merah membara pada kuartal I-2019. KS menderita rugi US$62,32 juta. Jika kurs Rp14.100 per US$, maka kerugian itu sama dengan Rp878,74 miliar. Jumlah kerugian dalam empat bulan saja sebesar itu sungguh kelewatan. Pada 2018 kerugian KS hanya US$4,85 juta atau Rp68,45 miliar.

Rugi Krakatau membengkak karena penjualannya merosot. Sepanjang kuartal I-2019 pendapatan perseroan turun 13,87% menjadi US$418,98 juta atau sekitar Rp5,90 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$486,17 juta atau Rp6,85 triliun. Penjualan baja KS di pasar domestik mencapai US$349,60 juta, turun 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$421,22 juta. Penjualan ekspor naik 78,88% menjadi US$16,69 juta. Pada periode yang sama tahun sebelumnya ekspor KS sebesar US$9,33 juta.

Sementara total aset perseroan susut menjadi US$4,16 miliar dari akhir Desember 2018 yang sebesar US$4,29 miliar.

Perdagangan Tidak Adil

Sesungguhnya Krakatau bisa diselamatkan asal pemerintah mau. BUMN ini perlu ditolong denganl memberi jalur distribusi baja ke proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang tersisa. Sebab selama 4,5 tahun terakhir kue bisnis baja untuk pembangunan infrastruktur tidak diperoleh secara optimal oleh perusahaan negara ini. Justru perusahaan China yang mendapat privilege lebih memasok baja untuk proyek-proyek pemerintah.

Masalahnya sekarangl ada pada political will pemerintah, apakah akan mempertahankan KS atau justru mempercepat BUMN besi-baja itu collapse masuk liang kubur digantikan perusahaan China itu.

Lebih jauh lagi, pemerintah perlu melindungi pasar baja dalam negeri dari tindakan perdaganganl yang tidak adil dengan cara melakukan secara massif instrumen trade remedies  (anti dumping, anti subsidi, safeguard).

Dukungan dari pemerintah bisa memberikan pengaruh positif terhadap industri baja secara nasional, menciptakan iklim persaingan yang sehat bagi pengusaha baja domestik. Pada akhirnya, bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan, dan mewujudkan kemandirian bangsa.

Krakatau Steel adalah BUMN vital. Terlebih, produk PT KS terkait eraty dengan industri lanjutan untuk produksi senjata dan kendaraan militer. Jangan dibiarkan KS bangkrut karena kecerobohan. Jangan lantas demi China, Krakatau dikorbankan!

Miftah H. Yusufpati, Wartawan Senior

Bagikan:
Komentari Melalui Facebook
Fri Jul 5 , 2019
LiraNews.Com