Diduga Banyak Kongkalikong, PADI HEBAT Tolak Seleksi Jabatan Eselon II di Kemenkes

  • Whatsapp
Bambang Sri Pujo Sukarno Sakti, SE. SH. MH
banner 468x60

Jakarta, LiraNews – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Advokasi Hukum Indonesia Hebat (PADI HEBAT) meminta Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin membatalkan proses seleksi jabatan pimpinan tinggi pratama (Esellon II) di lingkungan Kementerian Kesehatan yang diduga sarat permainan.

Kemenkes sendiri mengadakan 14 seleksi terbuka jabatan pimpinan tinggi pratama (Eselon II) di lingkungan Kementerian Kesehatan. Seleksi ini memakai Tahun Anggaran 2020, namun dilaksanakan pada tahun 2021.

Read More

banner 300250

“Kami minta seleksi ini dihentikan, karena jika terus dilaksanakan akan cacat hukum dan dikhawatirkan ada dugaan korupsi didalamnya,” ujar Ketua Umun PADI Hebat, Bambang Sri Pujo Sukarno Sakti dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (18/1/2021).

Bambang didampingi Sekretaris PADI HEBAT San Salvator Ngaro Keli menjelaskan, seleksi sebaiknya disiapkan lebih matang dan lebih terencana dengan sosialisasi yang luas. Dengan demikian akan dihasilkan pejabat terbaik di posisi yang pas dan layak.

“Kami minta Seleksi Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (Eselon II) di lingkungan Kementerian Kesehatan di Tahun Anggaran 2021 dilakukan dengan waktu sosialisasi yang cukup, sehingga mendapatkan calon-calon yang berkualitas, kredible, kompeten dan mumpuni pada bidangnya,” jelas Bambang.

Ia mengingatkan bahwa PADI HEBAT merasa terpanggil untuk ikut mengawal jalannya pemerintahan Bapak Presiden Ir.Joko Widodo dan berhak memberitahu jika adanya dugaan oknum – oknum yang tidak benar.

“Hal ini kami lakukan guna terselenggaranya pemerintahan yang bersih dan berwibawa,” lanjut Bambang.

PADI Hebat menilai Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang baru dilantik pada 23 Desember 2020 sangat sulit untuk mempelajari situasi dan kondisi Kementerian Kesehatan dalam hitungan hari.

Padahal, Bambang mengingatkan bahwa Menteri Kesehatan harus menterjemahkan instruksi Presiden Joko Widodo untuk “menggebuk” oknum-oknum yang tidak benar dalam kabinetnya.

“Lagi pula, waktu yang singkat dalam pemilihan seleksi jabatan yang sangat strategis dapat merugikan banyak pihak,” tegas Bambang.

Persoalannya lagi, Bambang mengatakan sangat lumrah apabila salah satu direktur rumah sakit spesialis berasal dari dokter spesialis rumah sakit tersebut.

Masing-masing adalah Rumah Sakit Khusus Anak, Rumah Sakit Khusus Kanker, Rumah Sakit Khusus Jantung, Rumah Sakit Khusus Mata.

Bambang menjelaskan, akibat waktu yang singkat dan kurangnya sosialisasi untuk pendaftaran seleksi pejabat di Kemenkes tersebut, maka diduga adanya calon – calon formalitas yang tidak sesuai dengan kompetensinya.

Bahkan diduga ada calon/kandidat bukan Dokter dan menjabat di Rumah Sakit Khusus tersebut, baru bekerja kurang lebih sembilan bulan, dan tidak punya pengalaman sama sekali pada Rumah Sakit Khusus tersebut.

Bambang Sri Pujo Sukarno Sakti.,SE.,SH.,MH, Ketua Umum PADI HEBAT

Parahnya lagi, diduga ada calon kandidat yang Tingkat Pendidikannya tidak memungkinkan untuk memimpin rumah sakit dengan pelayanan setingkat Dokter Specialis dan sub Specialis.

“Ada juga terkait attitude/prilaku yang kurang baik, diduga adanya kandidat yang terkena Kasus Perselingkuhan pada tahun 2011 dengan salah seorang Direktur,” paparnya.

Bambang membeberkan informasi pada Rumah Sakit Khusus Pemerintah yang diduga dari 5 Direktur sama sekali tidak ada unsur Dokter Spesialis dari kekhususan rumah sakit tersebut.

Sebagai perumpamaan, Bambang menjelaskan jika dari 5 Direktur Rumah Sakit Kanker tidak satupun jabatan Direktur ber unsur dari dokter spesialis kanker, maka dalam hal seperti ini mestinya ada direktur yang berasal dari Dokter Spesialis Kanker pada Rumah Sakit Khusus tersebut.

“Sebab dokter spesialis tentu sangat tahu dan dapat membimbing dokter umum atau dokter spesialis lainnya, bagaimana cara menangani pasien dengan penyakit khusus tersebut,” tukas Bambang.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60