Elektabilitas Airlangga Jeblok, Pakar: Kritikan GMPG Harus Jadi Atensi Golkar

Gravatar Image
  • Whatsapp

Jakarta, LiraNews – Gerakan Muda Partai Golkar (GMPG) melontarkan kritikan keras yang disertai data mengenai rendahnya elektabilitas Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menilai kritikan GMPG itu harus menjadi atensi Golkar jika tidak ingin melorot pada Pemilu 2024.

Read More
banner 300250

banner 300250

“Apa yang disampaikan GMPG merupakan auto-kritik yang bagus untuk Airlangga dan Partai Golkar,” tandas Ujang Komarudin, kepada wartawan, Jumat (14/1/2022).

Ujang Komarudin menilai sebuah kritikan yang disertai data tentu harus mendapat atensi. Dalam hal ini hasil survei kredibel sekelas Indikator Politik Indonesia terkait elektabilitas Airlangga Hartarto yang masih sangat rendah.

Pernyataan senada disampaikan pengamat politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Usni Hasanudin. Ia menegaskan kenyataan ini harus jadi perhatian Golkar, lantaran pendekatan yang dilakukan untuk mengerek tingkat keterpilihan Airlangga sebagai calon presiden (capres) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 belum membuahkan hasil.

“Apa yang disampaikan GMPG itu, kan, sesuai dengan hasil survei sejumlah lembaga, capaian Partai Golkar, dan pengalaman yang mereka rasakan selama ini. Jadi itu tidak bisa dinafikan,” ungkapnya.

“Para elite Partai Golkar harusnya mulai mereformulasi strateginya jika memang ingin mengusung kadernya sebagai capres,” lanjut Usni.

Menurut Usni, ada berbagai cara yang dapat dilakukan Partai Golkar. Mengganti capres ataupun mengubah pendekatan dalam meraih simpati publik.

“Jika terus memaksakan seperti ini ya Partai Golkar akan kembali mengulang pengalaman dua Pilpres (pemilihan presiden) sebelumnya,” tegasnya. Partai Golkar tidak mengusung capres pada Pilpres 2014 dan 2019.

Inisiator GMPG, Sirajuddin Abdul Wahab, sebelumnya menyebut, elektabilitas Airlangga memprihatinkan. Pangkalnya, tingkat keterpilihannya hanya 0,8 persen berdasarkan hasil survei Voxpol Center dan versi riset Indikator Politik Indonesia 0,2 persen.

Dia menambahkan, capaian tersebut berdampak sistematik terhadap reputasi Golkar. Padahal, pengurus dan kader di DPR sudah menebah baliho Airlangga di sejumlah daerah.

“Ini dapat dianggap bahwa masyarakat tidak tergerak memberikan dukungan. Jika ada kenaikan, maka kenaikan itu dapat dipastikan sebagai angka yang perlu dipertanyakan sumber dan kredibilitasnya,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Apalagi, imbuh Sirajuddin, perolehan kursi di DPR berkurang 6 saat dipimpin Airlangga. Sekarang, Golkar hanya memiliki 85 kursi; sedangkan sebelumnya, yang merupakan hasil Pemilu 2014, berhasil meraih 91 kursi.

Oleh karena itu, dia beranggapan, Airlangga tidak maksimal dalam “memanaskan” mesin partai. Pun demikian dengan pembagian kerja bidang-bidang, banyak penempatan kader yang tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

“Ini mengakibatkan absennya penyelenggaraan program kerakyatan Partai Golkar di masyarakat. Padahal, itu merupakan bagian langkah memperbaiki citra partai di mata publik,” tutup Sirajuddin.

Related posts