Gubernur LSM LIRA Sulut: 58 Ribu Hektar Tambang Emas Di Bolaang Mongondow Dirampok Para Taipan

Jakarta, LiraNews – Kita lahir di bumi yang sama kita menghirup udara yang sama kita minum air yang sama kita masih di bumi yang sama. Kita tidak makan makanan yang sama itulah dasar daripada Pancasila yang kita banggakan. Demikian ungkapan Gubernur LSM LIRA Sulut, Yossi,S Manoppo saat pelantikan pengurus DPW LSM LIRA Sulit di Gedung Graha Perwira, Jakarta, Sabtu (27/6/2020).

“Saya berterima.kasih atas LSM LIRA yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi Gubernur LSM LIRA Sulawesi Utara untuk menyuarakan rakyat Sulut termasuk daerah saya di Kabupaten Bolaang Mongondow,” ujar Yossi.

Bolaang Mongondow, paparnya, belum banyak yang mengenal bahkan di peta tidak kelihatan. Yossi mengungkapkan di daerah ini ada sekitar 58 ribu hektar tambang emas. Ironinya yang ada di sana dirampok para taipan.

“Dalam kesempatan ini saya minta LSM LIRA untuk menyuarakan langsung kepada bapak Presiden RI Joko Widodo agar regulasi UU Pertambangan ESDM itu harus disosialisasikan oleh para gubernur dan pemerintah daerah yang ada di daerah kami. Karena emasnya dikeruk di sana tapi kontribusi daripada taipan taipan ini tidak ada sama sekali,” tuturnya.

Kemudian, sambungnya, perubahan regulasi UU yang baru pihaknya tidak pernah tahu. Dirinya juga mengaku sedih melihat nasib rakyat di Bolaang Mongondow. Pada 2018 di dalam lubang di Desa Bakan satu lobang itu mati 125 orang. “ini PR kami, para investor tidak bertanggung jawab dan tidak memberikan kontribusi kepada masyarakat disana,” cetusnya.

“Sebelum saya berangkat ke Jakarta untuk menerima amanah ini sudah ada lagi korban setiap dua hari selalu ada korban. Karena tidak ada perhatian pemerintah daerah baik gubernur maupun bupati nya. Seakan-akan tutup mata. Memberikan santunan saja tidak pernah,” kata Yossi.

Dia berharap kepada pimpinan DPP LSM LIRA untuk merespon setiap dia memberikan laporan. Bahkan dirinya tahu dari Presiden Soekarno sampai Presiden Jokowi hanya dua presiden yang sudah mengunjungi Bolaang Mongondow. “Yaitu bapak Presiden Soeharto pada tahu 1970 dan Bapak Presiden Abdurrahman Wahid pada tahu 2004. Itu saya sendiri yang mengundang,” ungkapnya.

Pada 2015 Yossi mendirikan satu Yayasan Bangun Istana Negara. Dengan niat putra bangsa ingin membangun istana presiden di Indonesia secara resmi. Sebab 7 istana presiden yang ada di Indonesia semuanya bekas peninggalan kolonial belanda. Mana ada istana presiden yang murni dibangun oleh putra putra bangsa kita sendiri.

“Untuk itu saya sebagai putra daerah¬† melalui yayasan bangun istana negara pernah bertemu Presiden Jokowi, Zulkifli Hasan menyampaikan ingin membangun istana di ambarawa. Tapi saya urungkan. Maka kalau diizinkan bahwa tambang emas 58ribu hektar disisihkan sedikit untuk kami kelola dan hasilkan akan kami sumbangkan ke NKRI untuk membangun Istana Presiden RI di daerah kami sendiri. Masa Papua bisa kami tidak bisa,” pungkasnya. LN-TIM