Gus Hans: Kita Bisa Jadi Pahlawan di Medan Laga Yang Berbeda

  • Whatsapp
banner 468x60

Surabaya(Liranews.com)”top of mind” masyarakat Indonesia ketika bicara tentang pahlawan maka pasti akan muncul Kota Surabaya. Demikian menurut ulama muda Nahdlatul Ulama, Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans).

“Melekatnya brand ‘pahlawan’ ini adalah potensi luar biasa yang bisa untuk menyemangati warga agar tetap bisa menjadi pahlawan-pahlawan dengan medan laga yang berbeda,” kata Gus Hans, Surabaya (10/11/2019).

Ia menambahkan, “Esensi dari jiwa kepahlawanan adalah keberanian untuk berkorban untuk sesama, bangsa, dan kemanusiaan, tanpa meletakkan citra pribadinya sebagai tujuan utama.”

“Kejujuran dan bersihnya niat adalah kunci utama untuk menjadi pahlawan kapan pun dan di mana pun. Indahnya taman pasti akan lebih bermakna jika disertai dengan indahnya hati dan pikiran yang mau menghormati dan memanusiakan rakyat,” ujar pria yang digadang sebagai calon Wali Kota Surabaya itu.

Sementara itu pemerhati sosial Dhimas Anugrah mengatakan pertempuran terbesar mempertahankan kemerdekaan terjadi di Surabaya pada 10 November 1945. Sebelumnya juga terjadi insiden perobekan bendera di hotel Yamato pada 19 September 1945, hingga merebut gudang persenjataan Don Bosco pada Oktober 1945.

Dhimas mengatakan, “Keberanian dan kemarahan masyarakat Surabaya tak pernah diremehkan lagi seperti pertempuran-pertempuran sebelumnya. David Wehl mencatat, tak ada pertempuran yang dapat disejajarkan dengan peristiwa di Surabaya, baik dalam keberanian, keteguhan, dan ketabahnnnya.”

“Pada masa kini, kita bukan sekadar berutang pada Kiai Hasyim Asyari, Bung Tomo, para ulama, dan arek-arek Suroboyo yang bertempur 74 tahun lalu, tapi kita juga wajib meneladani semangat patriotik dan nasionalisme mereka,” kata penerima beasiswa di Oxford, Inggris itu.

Ciri pahlawan menurut Dhimas adalah memiliki kerelaan untuk tidak mementingkan diri sendiri dan mau berkorban bagi sesama dan bangsanya.

“Musuh dalam konteks zaman para pahlawan nasional adalah penjajah, baik itu Belanda, Jepang, maupun Sekutu. Konteks zaman kita sekarang adalah kecenderungan hati yang koruptif dan intoleran,” ujarnya.

Pria asli Surabaya itu mendorong para pejabat dan masyarakat kembali menghidupi semangat patriotik para pahlawan nasional dengan melawan korupsi dan intoleransi agar Indonesia menjadi bangsa yang maju dan unggul.

Secara khusus Gus Hans dan Dhimas Anugrah juga sama-sama mengajak warga Surabaya menghayati nilai-nilai kebajikan yang dimiliki para pahlawan.

“Selamat Hari Pahlawan, selamat berjuang di medan laga kekinian,” pungkas Gus Hans.(Bbg)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60