Harga Murah Peternak Ayam Potong

  • Whatsapp
banner 468x60

LiraNews, Jakarta –Delapan bulan terakhir, harga broiler potong hidup (live birds) anjlok jauh di bawah produksi. Jatuhnya harga daging ayam diduga karena terjadi over supply. Jika benar ada kelebihan pasok, mengapa tidak ada upaya menjual daging itu ke manca negara?

Pada 25 Juni 2019, secara nasional, harga rata-rata ayam ras potong di tingkat peternak Rp12.826 per kg. Menurut Pinsar Indonesia, harga lebih rendah lagi terjadi di Jawa Tengah, Yogyakarta, Solo dan Jawa Timur. Di wilayah tersebut harga live birds hanya di kisaran Rp10.500 per kg. Di Bogor dan sekitarnya, sedikit lebih baik yakni Rp14.000 per kg. Sedangkan di Pantura Jawa, harga ayam potong hidup diharga sekitar Rp13.000 per kg. Harga daging tersebut jauh di bawah harga pokok produksi (HPP) yang sebesar Rp19.500/kg. Akibatnya, peternak merugi. Sebagai tindakan protes, sejumlah peterbak membaggi-bagikan ayam ternaknya kepada masyarakat.

Selain di bawah HPP, harga di tingkat peternak tersebut berada di bawah harga acuan pembelian yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan atau Permendag Nomor 96 Tahun 2018, yaitu berkisar Rp18.000-Rp20.000 per kg.

Para peternak mandiri menyebut, harga ayam potong terpuruk karena terjadi kelebihan pasokan di pasar. Daging ayam yang membanjiri pasar itu datang dari perusahaan peternakan terintegrasi (integrator). Kementerian Perdagangan mengakui menurunnya harga ayam ras potong di tingkat peternak, merupakan cerminan dari kondisi keseimbangan persediaan dan permintaan yang terjadi saat ini.

Saking banyaknya ayam di pasar, berdasarkan pantauan Kemendag, cold storage yang dimiliki masing-masing rumah potong ayam saat ini dalam kondisi penuh. Bahkan, sebagian besar rumah potong itu harus menyewa cold storage baru untuk menyimpan karkas beku. Kondisi seperti ini belum pernah terjadi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

Tim Investigasi

Temuan Kemendag ini terasa mengejutkan. Soalnya, harga ayam potong di tingkat pedagang tidak serendah itu. Harga ayam potong di Jakarta dan sekitarnya masih di kisaran Rp30.000 per kg. Bahkan bazaar yang digelar Kemendag pun membanderol harga Rp32.000 per kg. Harga tersebut adalah dua kali lipat dibandingkan harga di tingkat peternak.

Sementara itu, warung makan dan restoran di Jakarta dan sekitarnya pun tidak merespon penurunan. Harga ayam goreng di Rumah Makan Padang rata-rata Rp15.000 per potong. Bahan baku ayam di warung-warung padang itu adalah ayam hidup ukuran 8 ons dipotong menjadi empat.

Ada disparitas harga yang lumayan besar antara harga di tingkat konsumen dengan harga di tingkat peternak. Nah, inilah yang membuat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian, mengerahkan tim pengawas dan investigasi di tiga provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sejak Sabtu (29/6) kemarin. Tim ini bertugas menyelidiki penyebab disparitas harga ayam hidup di tingkat produsen dan daging ayam di konsumen akhir.

Salah satu hal yang menjadi pengawasan tim adalah pelaksanaan pengurangan day old chick final stock (DOC FS) melalui penarikan telur tertunas berumur 19 hari di tempat penetasan di tiga perusahaan besar pembibitan parent stock (PS) ayam ras broiler di Jawa Tengah yakni PT Charoen Phokphand Indonesia, PT Japfa Comfeed Indonesia, dan PT Sumber Unggas Jaya.

Kebijakan ini berlaku mulai 28 Juni 2019 dengan berdasarkan pada Surat Edaran Dirjen Peternakan dan Keswan Nomor 6996/SE/PK.010/F/6/2019 tentang Pengurangan DOC Final Stock (FS) Broiler di Wilayah Jawa Tengah Tahun 2019.

Kegiatan ini akan dilakukan selama dua minggu pada 26 perusahaan pembibit PS yang mendistribusikan DOC FS ke Provinsi Jawa Tengah. Sebagai bentuk transparansi, proses penarikan telur tertunas akan disertai dengan pengawasan silang (cross monitoring) antarperusahaan. Setiap perusahaan akan diawasi oleh dua perwakilan perusahaan lain.

Surplus

Daging ayam berdasarkan Perpres Nomor 71 Tahun 2015 merupakan satu di antara jenis bahan pangan pokok yang perlu dijaga ketersediaan dan stabilisasi harganya. Sebagian besar penduduk Indonesia saat ini sudah terbiasa mengkonsumsi daging ayam sebagai salah satu sumber protein hewani.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia adalah sebanyak 268 juta jiwa. Konsumsi daging ayam Indonesia tercatat 12,13 kg per kapita per tahun. Kementerian Pertanian memproyeksikan produksi daging ayam nasional tahun ini sebanyak 3,6 juta ton, sedangkan kebutuhan daging ayam nasional mencapai 3,3 juta ribu ton. Dengan begitu terjadi surplus sebanyak 396 ribu ton.

Produksi daging ayam yang melimpah ini harusnya bagus. Dengan begitu Indonesia bisa mengekspor daging ayam. Ini adalah tugas Kementerian Perdagangan. Kementerian ini mesti mencari cara bagaimana bisa menjual daging yang berlebih itu ke luar negeri.

Selama ini, Kemendag hanya fokus melakukan pengaturan harga acuan di tingkat konsumen. Begitu harga di tingkat konsumen naik, pemerintah langsung cepat turun tangan melakukan operasi pasar, atau bahkan jika produksi kurang langung dipenuhi dengan impor. Namun ketika harga ayam jatuh di tingkat peternak, Kemendag tidak memiliki instrumen untuk mengatasi hal itu.

Lebih dari itu, seharusnya Kementerian Perdagangan juga memiliki daftar integrator yang kemungkinan dapat diajak menyelesaikan keganjilan harga ayam ini. Sebab bukannya tidak mungkin selisih harga tersebut terjadi disebabkan oleh jaringan distribusi yang tidak beres.

Berdasarkan Undang-undang No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan disebutkan pada pasal 26 bahwa Kementerian Perdagangan menetapkan kebijakan harga, pengelolaan stok dan logistik, serta pengelolaan ekspor/impor dalam rangka menjamin stabilisasi harga kebutuhan pokok. Sayang, tugas ini tampaknya terlalu berat bagi kementerian yang dipimpin Enggartiasto Lukito ini.**

Miftah H. Yusufpati, Wartawan Senior

banner 300x250

Related posts

banner 468x60