Haruskah Kita Hidup Di Era Penegak Hukum Dan Penegakan Hukum Yang Tidak Aman?

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:

LiraNews.Com

Bagikan:

Jakarta, LiraNews.com – Ab Honesto Virum Bonum Nihil Deterret, Tidak ada yang menakutkan dan menggetarkan orang baik yang melaksanakan kewajibannya dengan jujur.

Itulah sebuah ungkapan Latin yang menjadi spirit keberanian, yang sering diucapkan kepada siapa saja yang dengan berani menegakkan kebenaran dan hukum. Ungkapan Latin itu pula yang ingin saya persembahkan kepada NOVEL BASWEDAN penyidik KPK yang tadi pagi mengalami serangan brutal selepas sholat subuh. Serangan tak berperi kemanusiaan itu adalah kejadian paling brutal dalam sejarah bangsa ini terhadap penegak hukum. Bangsa ini belum pernah mencatat serangan sebrutal seperti itu menggunakan cairan kimia atau air keras untuk merusak menghancurkan masa depan seseorang. Kasus seperti ini hanya terjadi di era rejim sekarang, dimana bekerja jujur untuk kebenaran menjadi ancaman dan menyuarakan kebenaran menjadi berbahaya dan menakutkan.

Penegak Hukum pun menjadi tidak aman, lantas bagaimana dengan nasib rakyat secara umum terutama pegiat-pegiat anti korupsi anti kejahatan? Jika aparat negara saja sudah terancam, Novel adalah seorang latar belakang Polisi, seorang penegak hukum lantas bagaimana nasib ratusan juta rakyat ini? Kemana harus mencari keamanan?

Memang sungguh memprihatinkan kondisi penegakan hukum saat ini. Di era pemerintahan sekarang seolah tidak butuh hukum dan aturan karena lebih berhasrat memerintah sesuai selera. Regulasi dan hukum tampaknya menjadi hambatan bagi rejim ini untuk mengekspresikan seleranya dan keinginannya. Inilah rejim yang selalu berhasrat tetap berkuasa namun tak pernah berhasrat sejahterakan bangsa ini sebagaimana mestinya sebagai pemerintah.

Hari ini ada 2 peristiwa besar yang menunjukkan,  betapa di era sekarang penghinaan terhadap hukum terjadi bebas dan tanpa rasa malu. Novel Baswedan sebagai penegak hukum diserang secara brutal, dan pembacaan tuntutan kepada terdakwa penodaan agama bernama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tidak dilakukan dengan alasan yang sangat menyedihkan yaitu, ketikan tuntutan belum selesai. Kedua peristiwa ini adalah peristiwa yang menghina dan menginjak injak hukum dan penegakan hukum. Dimana negara saat kejadian itu terjadi? Bukankah Negara yang diwakili JPU untuk menuntut? Negara tidak mampu menyelesaikan ketikan? Memalukan.

Namun tampaknya alasan itu hanya sebuah alasan yang kental aroma mengada-ada. Sesuatu yang aneh jika tuntutan tidak jadi dibacakan hanya karena alasan ketikan. Alasan itu menurut saya cuma alasan yang dicari-cari, namun alasan sesungguhnya adalah karena semua pihak ingin menyenangkan hati penguasa, memenuhi hasrat kekuasaan, maka hukum pun menjadi tidak penting untuk ditegakkan karena rejim ini memang terkenal sebagai rejim yang gemar menabrak aturan dan rejim yang gerah dengan regulasi.

Lantas dimana bangsa ini kelak akan berdiri jika penegakan hukum menjadi perbuatan yang tidak aman? Lantas kemana bangsa ini akan menuju jika menyatakan kebenaran menjadi berbahaya?

Pertanyaan untuk pak Presiden Jokowi, haruskah kita hidup di era penegakan hukum yang berbahaya?

Kami meminta pemerintah untuk tidak mempermainkan rasa keadilan publik, karena rasa keadilan yang terusik adalah api revolusi.

FERDINAND HUTAHAEAN,  RUMAH AMANAH RAKYAT BELA TANAH AIR

Bagikan:
Komentari Melalui Facebook
Wed Apr 12 , 2017
LiraNews.Com