Indef Menilai Era Presiden Jokowi Laju Investasi Belum Tumbuh Hingga Tujuh Persen

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:

LiraNews.Com

Bagikan:

LiraNews, Jakarta — Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF menilai, selama era Presiden Joko Widodo investasi atau Pembentukan Modal Tetap Brutoo (PMTB) laju investasi belum mampu tumbuh hingga tujuh persen.

“Nantinya menjadi tugas berat bagi tim ekonomi, karena pertumbuhan global melambat, sementara investasi ditargetkan meningkat. Pada skenario pertumbuhan 2020, pemerintah menghendaki PMTB mampu tumbuh 7,0 persen sampai 7,4 persen,” ujar Wakil Direktur INDEF, Eko Listiyanto, kemaren.

Jika pemerintah mau mendorong pertumbuhan ekonomi, terangnya, maka struktur PDB yang ideal harus didominasi oleh investasi. Adapun struktur PDB Indonesia pada kuartal I 2019, 2,75 persen didominasi sektor konsumsi rumah tangga sedangkan investasi hanya 1,65 persen.

“Negara-negara dengan jumlah penduduk besar memang porsi konsumsi juga akan besar. Hal ini tidak menjadi masalah jika laju komponen lain seperti ekspor dan investasi lebih kencang dari konsumsi,” ungkap dia.

Dia pun mencontohkan, struktur PDB yang ideal dapat dilihat dari China, di mana komposisi PDB China 39,1 persen konsumsi rumah tangga, 14,6 persen konsumsi pemerintah, 43,3 persen investasi atau PMTB, 19,6 persen ekspor, dan  minus17,7 persen impor.

“Jadi di China, meskipun penduduknya terbesar di dunia dan pasti konsumsinya besar. Namun, ternyata kontribusi dari investasi masih jauh lebih besar lagi,” ungkapnya.

Dia juga menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 dalam asumsi makro yang dipatok pemerintah di kisaran 5,3 persen sampai 5,6 persen akan sulit tercapai. Hal itu disebabkan struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada periode tersebut masih ditumpu oleh konsumsi, dengan laju di kisaran 4,9 persen sampai 5,2 persen.

Padahal, dikatakannya, momentum untuk mendorong konsumsi semakin menipis, seiring perekonomian global yang mengalami perlambatan akibat kembali memanasnya perang perdagangan antara Amerika Serikat dan China dan sejumlah aspek geopolitik.

 “Terlebih lagi, dalam skenario pertumbuhan di 2020 tersebut, asumsi laju impor ditargetkan hampir setara dengan laju ekspor. Sementara, kita tahu bahwa pada 2018, laju impor hampir dua kali lipat laju ekspor Indonesia. Ini jelas tidak mudah,” katanya. **

Bagikan:
Komentari Melalui Facebook
Fri May 24 , 2019
LiraNews.Com