Indonesia Butuh Gundala?

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Jakarta, LiraNews —  Film Gundala karya Joko Anwar, meski banyak perbedaan dengan versi komiknya, bagi saya memiliki latar yang lebih kontekstual dengan zaman now. Di film tersebut, sosok Gundala hadir dalam atmosfer sosial-politik yang carut marut. Pertama, terjadi penindasan dan ketidakadilan terhadap rakyat kecil. Kedua, premanisme dan kriminalitas semakin marak.

Ketiga, rasa percaya rakyat terhadap pemerintah telah nihil. Keempat, pemerintah banyak diintervensi oleh kekuatan eksternal, bahkan bertekuk lutut kepada mafia yang lebih powerfull menentukan kebijakan, yang direpresentasikan oleh karakter Pengkor.

Dalam perspektif sosiologi politik, selalu saja ada kekuatan-kekuatan eksternal yang mampu mengintervensi pemerintah. Biasanya dilakukan oleh mereka yang kuat dalam financial resources. Celakanya, pola perselingkuhan antara politik dan modal hampir selalu berdampak negatif bagi bangsa dan masyarakat.

Apakah bisa berefek positif? Seharusnya memungkinkan, jika didalamnya ada virtue. Tapi yang dominan adalah keserakahan dan obsesi penguasaan sumber daya.

Tapi, konteks masalah di negeri ini sepertinya tidak sesederhana itu. Ada banyak variabel yang mempengaruhi atmosfer bangsa ini, baik di sektor ekonomi, sosial dan politik. Pertanyaannya, apakah kondisi bangsa ini sudah pada level dimana kehadiran sosok superhero seperti Gundala dibutuhkan?

Apakah presiden dan wakil presiden terpilih mampu merealisasikan kebijakan publik yang dapat menjamin kesejahteraan? Apakah anggota DPR terpilih mampu memerankan fungsinya lebih baik dari periode sebelumnya? Apakah KPK periode depan dapat dipercaya menjalankan fungsi pemberantasan korupsi dengan lebih efektif?

Apakah konflik sosial akan berkurang dan terkelola dengan lebih baik? Apakah polemik Papua bisa diatasi agar tidak berkepanjangan? Bagaimana dengan defisit BPJS? BUMN-BUMN terancam pailit? Ancaman resesi ekonomi?

Siapa yang bisa rakyat harapkan untuk mengatasi masalah yang kian hari kian parah? Apakah kekuatan alternatif diluar kekuasaan strukural (pemerintahan) sudah waktunya berperan lebih besar? Bukankah super hero semacam Gundala “hanya boleh” muncul di saat kondisi sebuah negara/dunia sudah terlalu kacau balau dan tidak dapat lagi ditangani oleh instrumen pemerintah?

Saya pribadi berpendapat, hingga hari ini “Gundala” belum perlu dimunculkan. Indonesia belum membutuhkan Gundala. Saya meyakini, kondisi riil bangsa ini belum sekacau latar yang digambarkan oleh Joko Anwar dalam filmnya itu. Apa justru lebih parah? Tidak lah.

Saya masih ingin bersabar. Menunggu gebrakan kebijakan baru dari pemerintah yang outcome-nya real: kesejahteraan, pemerataan, keadilan, kebahagiaan. Saya mau menunggu dulu untuk beberapa waktu ke depan. Jika kelak hasilnya tetap pepesan kosong, mungkin betul bahwa “Gundala” sudah waktunya hadir untuk menyelamatkan bangsa ini.

Lalu siapa sosok yang akan menjadi “Gundala”? Jangan-jangan salah satu dari anda yang membaca tulisan ini. Bersiaplah!

Ikhsan Kurnia, Entrepreneur/CEO KIU Group

 

Thu Sep 5 , 2019
Sampang, LiraNews — Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII) Cabang Sampang, dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sampang, menggelar aksi unjuk rasa didepan Gedung DPRD Sampang, Kamis pagi, (05/09/2019). Sesuai pantauan Liranews.com, rute gerakan aksi tersebut dimulai dari depan Pasar Srimagunan Sampang hingga menuju Gedung DPRD […]