Indonesia Sentris Dan Jakarta Yang Akan Tenggelam

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:

LiraNews.Com

Bagikan:

LiraNews, Jakarta — Jakarta bukan lagi tempat menjalin mimpi-mimpi. Tanah tempat menyangga kota ini pelahan namun pasti ambles. Penggunaan air tanah, pembangunan gedung-gedung, dan infrastruktur secara ugal-ugalan menjadikan Jakarta keropos. Ada yang memperkirakan kota pernah menyandang nama Jayakarta ini akan tenggelam pada 2050. Gagasan pindah ibu kota pun kian relevan saja.

“Kita ingin memiliki ibu kota yang benar-benar inilah ibu kota Indonesia, Indonesia yang sentris,” begitu Bambang Brodjonegoro menyusun kalimat melankolis bak seorang istri yang mengimpikan rumah baru, tak lagi kumpul satu rumah bersama mertua.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas ini menjelaskan alasan perlunya memindah ibu kota Indonesia dari Jakarta ke luar Pulau Jawa dalam dialog Nasional II: Menuju Ibu Kota Masa Depan, Smart, Greed and Beautiful di Jakarta, Rabu (26/6/2019).

Pertama, karena sekitar 57% penduduk Indonesia terkonsentrasi di Pulau Jawa. Padatnya jumlah penduduk di Pulau Jawa, terutama di Jakarta, menurut dia, akan mengancam ketahanan pangan Indonesia, bukan hanya di Pulau Jawa, akibat konversi lahan yang mengurangi lahan pertanian.

Fakta bahwa Jakarta menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, bisnis, keuangan, perdagangan dan jasa serta pusat migrasi yang semuanya mengarah ke Jakarta juga akan semakin menciptakan beban yang luar biasa terhadap Jakarta.

Hal tersebut membuat kota yang dulunya bernama Batavia ini semakin susah terbebas dari masalah kemacetan, banjir dan kualitas air sungai yang 96% tercemar berat.

Sistem transportasi umum di Jakarta, menurut dia, juga belum mampu atau masih ketinggalan jauh dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat yang begitu besar untuk melakukan kegiatan ekonomi.

Penurunan Tanah

Ibu Kota Jakarta yang tadinya menjadi tempat membangun mimpi bagi banyak orang kini menjadi buruk rupa, banyak kelemahan, menjengkelkan dan tidak bisa diandalkan lagi. Ini semua gara-gara mimpi lain yang mengganggu: pindah ibu kota. Semua kekurangan Jakarta kini serasa dieksploitasi.

Sebelum ini, sejumlah media massa juga memberitakan tentang kian dalamnya penurunan tanah wilayah Jakarta. Ibu Kota akan tenggelam, begitu kesimpulannya.

Salah satu televisi swasta menampilkan bangunan telantar yang sedianya digunakan sebagai kantor di kawasan Pelabuhan Muara Baru, Penjaringan Jakarta Utara. Bangunan tersebut tak lagi bisa digunakan karena permukaan tanahnya turun drastis. Jangankan saat hujan dan pasang air laut, saat cuaca terikpun air menggenangi di sekeliling bangunan. 

Lalu, pada 24 Juni lalu, abc.net.au memuat laporan hasil reportase David Lipson dan Ari Wu di Kapuk Teko, Cekareng, Jakarta, yang selalu direndam air. Reporter media online ini mendatangi rumah Rudi Suwandi yang sudah ambles. Pepohonan dan taman tempat biasanya anak-anak bermain telah hilang, begitu juga rumah-rumah dengan pekarangan, termasuk seluruh kamar di rumah Rudi. Kuburan desa tempat para leluhur dan ribuan warga dimakamkan juga ikut menghilang, menjadi genangan air yang keruh.

Seluruh area Kapuk Teko terendam air setinggi dua meter. Semua rumah bertengger di atas air yang kini menyerupai danau, dihubungkan oleh kayu-kayu dan jalan terbuat dari beton.

Tanah Jakarta ambles karena maraknya pemompaan air tanah, pembangunan gedung bertingkat, hingga laju infrastruktur. Tiap tahun berdasarkan laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), rata-rata penurunan tanah terjadi sekitar 7,5 cm. Berdasarkan riset tim peneliti geodesi ITB, penurunan lebih dalam lagi yakni lebih dari 15 cm. Para peneliti ini bahkan memperingatkan jika dibiarkan,  bukan mustahil Jakarta tenggelam hingga 95% pada 2050.

Sejak tahun 1970-an, sebagian wilayah Jakarta tenggelam lebih dari empat meter, dengan kecepatan hingga 25 sentimeter per tahun. Itu berarti area ini tenggelam lebih cepat daripada berbagai kota lain di dunia. “Jika kita memodelkan ini dan memproyeksikan ke depan, sekitar 95% permukaan Jakarta Utara pada tahun 2050 akan berada di bawah laut,” kata Heri Andreas, pakar penurunan tanah di ITB, dilansir ABC, Senin (24/6/2019). “Itu berarti jika kita tidak melindungi Jakarta dengan tembok laut atau cara lain, Jakarta akan dibanjiri oleh air laut.”

Tanpa campur tangan besar untuk mencegah penenggelaman, tim peneliti memperkirakan bahwa lebih dari seperempat kota dapat dibanjiri oleh laut pada tahun 2025. Bagian utara kota, wilayah yang dihuni lebih dari 2 juta orang, khususnya sangat rentan.

Setiap tahun Jakarta memompa sekitar 630 juta meter kubik air dari dalam tanah. Ini adalah alasan utama kota ini tenggelam. “Rumusnya sederhana. Jika kita bisa berhenti menggunakan air tanah, penurunan tanah akan berhenti,” kata Profesor Andreas. “Pertanyaannya adalah, bisakah kita berhenti menggunakan air tanah?”

Dua Solusi

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyadari akan hal itu. Dalam jangka panjang, Pemprov DKI, akan berupaya mengurangi penyedotan air dari dalam tanah lewat kerjasama dengan  Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), menghadirkan air bersih kepada warga dengan menggunakan pipa. “Itulah sebabnya mengapa kita sedang dalam proses untuk melakukan take over atas pengelolaan oleh swasta supaya pemerintah bisa mempercepat pipanisasi di seluruh wilayah Jakarta,” jelas Anies di Jakarta, Selasa, (18/6/2019).

Sedangkan untuk jangka pendek, Pemprov DKI akan menjamin kebutuhan warga akan air bersih. Terutama bagi warga yang tidak memiliki akses untuk mendapatkan air minum secara gratis. “Jadi jangka panjang adalah menyiapkan pipanisasi, jangka pendek adalah dengan penyediaan air minum untuk warga. Sehingga kita bisa mengurangi penyedotan air dari dalam tanah,” jelasnya.

Benar apa yang dilakukan Anies. Upaya penghentian total pengambilan air tanah, harus diikuti ketersediaan sumber air bersih pengganti. Sebagai kota yang dialiri 13 sungai, harusnya Jakarta memiliki ketersediaan air bersih yang melimpah.

Kota-kota besar lainnya telah melakukannya sebelumnya. Tokyo, sebuah kota berpenduduk 38 juta orang, tenggelam lebih dari dua meter pada abad ke-20 sebelum langkah-langkah diberlakukan untuk membatasi ekstraksi massal air tanah.

Pasokan air kota juga sebagian besar dialihkan ke air permukaan. Perubahan tersebut telah menghentikan penenggelaman yang terjadi terhadap ibu kota Jepang. Tetapi para ahli percaya bahwa belum ada cukup upaya yang dilakukan di Jakarta untuk menghentikan penurunan tanah.

Kini, keinginan besar untuk memindahkan ibu kota baru yang jauh dari pulau Jawa sudah tak terbendung lagi. Jika rencana itu berjalan, mungkin butuh waktu setidaknya 10 tahun untuk merealisaskan itu.

Miftah H. Yusufpati, Penulis Wartawan Senior

Bagikan:
Komentari Melalui Facebook
Thu Jun 27 , 2019
LiraNews.Com