Ini Alasan Projo Mengundurkan Diri Dari Kegiatan Politik

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews – Relawan Jokowi yang menamakan Projo (Pro Jokowi) menyampaikan pada relawan Jokowi yang sejak pilpres me lawan intoleransi dan krsediaan berpolitik secara santun yang telah disepakati sejak awal telah dilanggar.

“Kubu rival yang kalah Dalam Pilpres karena perlawanan rakyat terhadap intoleransi, anti demokrasi dan pelanggaran HAM justru mendapat posisi yang terhormat di Kabinet, “ujar Sekjen Projo Handoko pada konferensi pers di DPP Projo Jalan Perdatam Raya 37, Pancoran Selatan Jakarta Selatan, Kamis (23/10/2019).

Kata dia, pihak-pihak yang tidak teruji loyalitasnya dipercaya mengurus negeri ini. Mereka tidak tampak ketika pendukung militan bekerja memenangkan Jokowi yang ketika itu belum menjadi tokoh nasional seperti sekarang.

Meski demikian, Projo mengucapkan selamat bekerja kepada Jokowi dan KH. Maruf Amin serta Kabinet Indonesia Maju untuk dapat menjalankan program-program dapat dijalankan dengan baik demi kemajuan dan kesejahtersan rakyat. Hal itu sesuai yang dissmpaikan Jokowi dalam pidatonya di Sentul pada 14 Juli 2019 yang dikenal sebagai Visi Indonesia.

Projo pun menghaturkan puji syukur kehadiran Tuhan YME karena diperkenankan menyumbangkan semangat aktivisme dan cinta tanah air dengan menjadi relawan garis keras Jokowi di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019.

Disamping itu, Projo menyampaikan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia dan para kader serta simpatisan Projo atas dedikasi dan perjuangan bersama menjaga demokrasi Indonesia dan Pancasila.

Selama 6 tahun kata dia, Projo telah monorehkan sejarah politik nasional di Indonesia, dalam mengelola dan memperkuat geliat politik rakyat dan membangun aktivisme yang penuh dengan nilai-nilai idea

“Kini saatnya kami, keluarga besar Projo mundur dari kegiatan politik diseluruh tanah air. Kami akan kembali ke habitat dan aktivitas semula. Kami bahagia telah menjemput sejarah, “pungkas Handoko.

Diketahui Projo didirikan oleh para mantan Aktivis  mahasiswa yang sebagian kader PDIP. Mereka bersepakat  menyuarakan Silent Majority diinternal PDIP setelah muncul figure Jokowi dalam kancah politik nasional.

Kala itu, PDIP terpecah “Mayorotas diam” menghendaki Jokowi menjadi Capres dari PDIP untuk Pilpres 2014. Sedangkan para elite berteriak dukung Mega yang kemudian melunak menjadi pasangan Mega-Jokowi.

Pertempuran wacana dipublik dan debat – debat politik di PDIP memanas dengan memunculkan Projo. Kemudian pada Pilpres 2014, Projo mulai menunjukkan geliatnya sampai Jokowi terpilih menjadi Presiden RI. Projo tetap bekerja menyokong Jokowi meski tidak ada dalam pemeritahan.

Tidak berhenti sampai pemilu 2014., Projo dibawah ketua umum Budi Aria Setiadi dan Sekjen Handoko, membesar hingga kepengurusan terbentuk dimayoritas Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Acara-acara Presiden Jokowi  tak pernah tanpa kehadiran massa Projo, serangan terhadap Jokowi dan pemerintah ditangkis secara trengginas oleh kader-kader Projo baik dimedia massa maupun duforum-forum seminar.

Reporter: Abuzakir Ahmad.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60