Instrospeksi Diri di Balik Banjir

Jakarta, LiraNews – Banjir di era kini telah menjadi alat pukul dalam dunia politik. Pada era Nabi Nuh, banjir antara lain sebagai pembuktian tentang kenabian. Pada zaman itu, hutan masih perawan. Sungai-sungai belum rusak karena erosi. Tidak ada gubug-gubug liar yang mengganggu aliran sungai. Masih normal dan natur sehingga tidak perlu normalisasi maupun naturalisasi.

Banjir besar masa kuno itu diyakini kebenarannya. Pada ahli dan peneliti sepakat bahwa banjir besar itu benar-benar ada. Bahkan dalam berbagai agama dan kepercayaan, termasuk kebudayaan beberapa negara, menceritakan kisah banjir besar yang melanda umat Nabi Nuh.

Dalam buku Tafsir Ilmi ‘Air dalam perspektif Alquran dan Sains’ yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang & Diklat Kementerian Agama RI dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melukiskan besarnya banjir Nabi Nuh dengan tergenangnya permukaan bumi dan tenggelamnya gunung-bunung. Peristiawa itu berlangsung dalam waktu yang lama.

Banjir itu muncul dari air yang jatuh dari langit maupun yang memancar dari dalam Bumi. “Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku,” Surah Al-Qamar Ayat 11-13.

Beda Pendapat

Nama Nabi Nuh disebut 43 kali dalam 28 surah di Al-Qur’an dan 58 kali dalam 48 ayat dalam 9 buku Alkitab Terjemahan Baru. Umat Islam mengimani bahwa Nuh sebagai Rasul. Ia masuk dalam daftar 25 nabi dan berada di urutan ketiga setelah Adam dan Idris.

Ada beberapa hal yang sampai kini masih diperdebatkan perihal banjir di era Nabi Nuh itu. Ada perbedaan pendapat, terkait benarkah banjir besar itu menenggelamkan seluruh dunia. Apakah seluruh hewan yang ada di muka bumi ini naik ke kapal Nabi Nuh?

Para ahli pengetahuan alam saat ini juga masih sulit menerangkan asal-muasal air tersebut. Mereka yang merujuk pada Injil dan kitab Perjanjian Baru, menafsirkan bahwa banjir Nabi Nuh tersebut menggenangi seluruh permukaan bumi, sedangkan sebagian lainnya percaya bahwa hanya sebagian permukaan bumi saja yang tergenang banjir.

Sebagian permukaan bumi itu yakni daerah yang sudah dihuni manusia, yaitu di daerah Timur Tengah. Meskipun hanya sebagian permukaan bumi yang tergenang banjir pada saat itu, tetapi luas, kedalaman dan lamanya banjir melukiskan air yang sangat besar yang sulit diterangkan darimana datangnya air.

“Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera,” Surah Al-Haqqah Ayat 11.

Harun Yahya, penulis buku Kisah-kisah dalam Alquran, berpendapat banjir itu hanya terjadi di wilayah tertentu, tempat umat Nabi Nuh berada. Menurutnya, banjir Nabi Nuh terjadi hanya regional (domestik) dan tidak terjadi secara global yang menenggelamkan dunia. Pendapat ini mendasarkan dengan peristiwa yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud.

Mereka yang beranggapan banjir itu hanya menimpa daerah tertentu saja menyebut daerah itu adalah Mesopotamia yang meliputi wilayah Turki, Iran, dan Rusia. Daerah itu berupa cekungan raksasa yang luasnya mencapai sekitar sembilan hingga 10 juta hektare. Banjir pada saat itu besarnya bisa disamakan seperti lautan karena puncak bukit setinggi 5000 meter tidak akan tampak pada jarak 250 km.

Mesopotamia adalah tempat bagi peradaban tertua dalam sejarah. Posisi wilayah ini berada di antara sungai Tigris dan Eufrat, tempat ini sangat memungkinkan untuk terjadinya sebuah banjir yang besar.

Di antara faktor penyebab terjadinya banjir kemungkinan adalah meluapnya aliran kedua sungai ini, sehingga membanjiri wilayah tersebut. Bukit Judi yang disebutkan pada ayat di atas terletak di Armenia.

Tampak bahwa banjir pada zaman Nabi Nuh tersebut meliputi daerah yang membentang dari Armenia hingga Iran-Irak.

Alquran menyebut, ketika Nabi Nuh berdoa: ”Ya Tuhanku, janganlah engkau biarkan seorang pun di antara orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya, jika engkau membiarkan orang-orang kafir itu tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS Nuh 25-27).

Doa itu, menurut Ibnu Katsir dalam bukunya, Qishash al-Anbiya’, menyatakan, hanya ditujukan untuk umat Nabi Nuh, bukan semuanya. Selain itu, umat yang mendiami bumi ini juga terbatas, dan belum merata seperti sekarang ini.

Berpasang-pasangan

Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh untuk menaikkan ke atas perahu pasangan-pasangan dari setiap spesies, jantan dan betina, serta keluarganya. Seluruh manusia di daratan tersebut ditenggelamkan ke dalam air.

Semuanya tenggelam kecuali yang dimuat di dalam perahu bersama Nabi Nuh. Ketika air surut di akhir banjir tersebut, dan kejadian telah berakhir, perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah tempat yang tinggi, sebagaimana yang diinformasikan oleh Alquran.

“Dan difirmankan: “Hai Bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim,” Surah Hud Ayat 44.

Soal binatang ini, para ahli juga beda pendapat. Ada yang berpendapat, seluruh hewan dan binatang yang ada di muka bumi naik ke atas kapal secara berpasang-pasangan. Pendapat kedua, hanya sebagian hewan yang naik ke kapal Nabi Nuh. Penjelasan mengenai agar hewan dinaikkan ‘hanya’ sepasang, telah mengindikasikan tidak semuanya dinaikkan ke kapal.

Sejumlah ahli menyatakan, jikalau seluruh hewan dan binatang naik ke kapal, bagaimana mungkin binatang Bison yang ada di Amerika, Komodo di Indonesia, Kanguru di Australia, Panda di Cina, bisa berkumpul dalam waktu singkat ke dalam kapal Nabi Nuh. Selain itu, bagaimana mengumpulkan berbagai jenis serangga, semut, nyamuk, laba-laba, dan lainnya secara berpasangan. Sementara, umat Nabi Nuh belum diberi kemampuan untuk membedakan jenis kelamin serangga antara jantan dan betina.

Banjir Bandang

Lepas dari itu, Alquran telah menceritakan tentang bencana yang menimpa umat-umat terdahulu akibat kesombongan dan keingkaran mereka. Hampir seluruh cerita mengenai bencana yang diceritakan Alquran menyangkut azab terhadap umat-umat yang sombong dan ingkar atau karena melakukan perbuatan buruk yang melampaui batas.

Banjir lainnya yang diceritakan dalam Alquran adalah banjir bandang yang menimpa Kaum Saba’.

Allah SWT berfirman, ” Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu: dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya!’ (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar. Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” [Saba’ [34]:15-17]

Banjir terjadi karena bobolnya bendungan yang pada awalnya dipakai sebagai sumber air dan sarana irigasi pertanian kaum tersebut.

Salah seorang Ratu kaum Saba’, Ratu Bilqis, beriman kepada Allah melalui Nabi Sulaiman dan menjadi istri Nabi Sulaiman. Bangsa ini memiliki kebudayaan yang cukup tinggi pada masanya dan memiliki angkatan perang yang kuat.

Selepas masa Ratu Bilqis, kaum Saba’ kembali ingkar kepada Allah sehingga Allah menghukum mereka dengan mendatangkan banjir. Lahan-lahan pertanian kaum Saba’ yang tadinya subur, hancur tersapu banjir. Setelah kejadian banjir tersebut lahan-lahan pertanian tidak dapat lagi ditumbuhi tanaman, kecuali tumbuhan liar yang tidak berguna.

Kini, banjir yang melanda berbagai daerah di Indonesia hendaknya menjadi bahan instropeksi diri. Mereka yang tidak kebanjiran membantu mereka yang kena musibah. Bukan malah menjadikan banjir sebagai alat pemukul lawan politik.

Dimas Huda