IPW: Gatot Eddy Pramono Figur Tepat Kapolri Pengganti Idham Azis

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews – Saat ini ada gagasan dari lingkungan Istana Kepresidenan untuk membuat satu paket pergantian Kapolri dan Wakapolri. Yakni menaikkan Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono menjadi Kapolri pengganti Idham Azis dan sekaligus mendorong Kabareskrim Komjen Sigit menjadi Wakapolri menggantikan Gatot Eddy.

Demikian diungkapkan Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S. Pane kepada para awak media, Rabu (6/1/2021).

Read More

banner 300250

Dari pantauan IPW, kata Neta, gagasan ini semakin serius dibahas kalangan Istana atau kalangan dekat Presiden Jokowi menjelang penyerahan nama Kapolri baru ke DPR RI, setelah Wanjakti Polri dan Kompolnas menyampaikan usulan nama nama calon Kapolri kepada Presiden.

“Diperkirakan usulan nama calon Kapolri itu sudah disampaikan Wanjakti Polri, sementara usulan nama dari Kompolnas diperkirakan baru diserahkan pada Jumat (8/1/2021),” ungkap Neta.

Neta mengatakan, setelah mendapat usulan nama-nama calon Kapolri, Presiden akan memilih satu nama yang kemudian pada Senin (11/1/2021) diserahkan kepada DPR RI.

“Hal ini agar Komisi III DPR RI bisa melakukan uji kepatutan, sebelum Kapolri Idham Azis pensiun pada 25 Januari 2021 mendatang,” kata pria kelahiran Medan, 56 tahun lalu ini.

Neta mengungkapkan, di lingkungan Istana Kepresidenan saat ini memang sudah mengkristal dua nama calon Kapolri, yakni dari senior Akpol 88 dan junior Akpol 91.

“Sementara dari kalangan internal Polri berharap Presiden Jokowi memilih jenderal senior sebagai Kapolri pengganti Idham Azis. Begitu juga untuk posisi Wakapolri diharapkan dipilih dari jenderal senior dan bukan jenderal junior,” ujarnya.

Dengan demikian, tutur Neta S. Pane, pada periode 2021 sampai 2024, Presiden Jokowi masih bisa mengangkat dua Kapolri lagi. “Pertama, figur yang diangkat menjadi Kapolri adalah jenderal senior dengan NRP 65 yang berakhir masa tugasnya di tahun 2023,” jelas penulis Buku Jangan Bosan Kritikan Polisi ini.

Kedua, sambung Neta, Kapolri NRP 65 yang pensiun di tahun 2023 itu selanjutnya akan digantikan oleh jenderal dengan NRP 67 atau 68 yang berakhir masa dinasnya di tahun 2025 atau 2026. “Dengan demikian proses suksesi di Polri berjalan tanpa gejolak dan tanpa keresahan,” tegasnya.

Neta sendiri melihat, proses suksesi di Polri kali ini sangat berbeda dengan suksesi sebelumnya. “Saat ini suksesi Polri diwarnai situasi sosial politik yang penuh dengan dinamika munculnya kelompok kelompok garis keras keagamaan,” kata mantan Wapemred Harian Jakarta ini.

Bagaimana pun, tambah Neta, Presiden Jokowi patut mencermati situasi dan dinamika yang berkembang, sehingga Kapolri yang dipilih tidak rentan terhadap masalah dari dinamika sosial politik yang berkembang tersebut.

“Presiden harus memilih figur Kapolri yang tidak hanya loyal, tapi juga harus memilih figur yang mampu mengkonsolidasikan institusinya dengan kapabilitasnya yang disegani senior maupun juniornya,” ungkapnya.

Selain itu, imbuh mantan Redpel Koran Aksi ini, Kapolri yang baru haruslah merupakan figur yang dekat dengan tokoh-tokoh masyarakat dan memiliki jam terbang yang tinggi dalam menjaga keamanan masyarakat. “Sehingga keberadaan Kapolri tersebut tidak menjadi beban sosial bagi Presiden hingga usainya masa jabatan Jokowi di 2024,” pungkas Neta S. Pane. LN-RON

banner 300x250

Related posts

banner 468x60