IPW Imbau Polri Ringkus 2 Buronan di AS, Jangan Terlena Penangkapan Djoko Tjandra

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews – Saat ini ada 2 orang buronan kelas kakap Indonesia yang sudah tertangkap pihak keamanan di Amerika Serikat (AS), namun pihak Polri masih adem ayem saja menyikapinya. Tidak heboh seperti saat memburu Djoko S. Tjandra.

Padahal kedua buronan ini lebih merugikan banyak orang dan jumlah uang yang dikemplangnya lebih besar.

Read More

banner 300250

Hal tersebut diungkapkan Ketua Indonesian Police Watch (IPW) Neta S. Pane kepada para awak media melaui keterangan tertulis, Senin (3/8/2020).

Neta menyatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari AS, diketahui ada 2 buronan Indonesia yang masuk dalam red notice yang sudah diketahui keberadaannya di AS dan sudah berhasil ditangkap Pihak Imigrasi AS (ICE).

“Kedua buronan itu masuk Red Notice tahun 2018. Kami sedang koordinasikan untuk bisa dibawa pulang ke Indonesia. Doakan bisa kita lakukan segera ya, sebab masih ada hambatan dari pihak AS disini” ujar Neta menirukan ucapan sumber IPW Senin sore ini.

Neta pun mengungkapkan, kedua buronan kakap itu adalah Indra Budiman dan Sai Ngo NG.

“Kasus Indra Budiman adalah kasus penipuan dan money laundering terkait penjualan Condotel Swiss Bell di Kuta Bali, sedangkan Sai Ngo NG terlibat kasus korupsi terkait pengajuan 82 KUR fiktif ke Bank Jatim Cabang Woltermonginsidi Jakarta,” kata pria kelahiran Medan, 55 tahun lalu ini.

Neta mengatakan, kedua kasus itu terjadi pada Mei 2015.

“Dalam kasus Indra Budiman, rekannya Christopher Andreas Lie berhasil ditangkap oleh Subdit Fiskal Moneter dan Devisa Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pada Mei 2015. Kasus ini terungkap setelah keduanya diketahui menipu 1.157 orang dengan kerugian Rp800 milyar,” ungkapnya.

Menurut Neta, pelaku dan rekannya Indra Budiman melakukan penipuan dengan membuat perusahaan konsultan properti yang menjual apartemen dan condotel dengan harga Rp1 milyar lebih.

“Ada 12 properti yang mereka jual. PT Royal Premier Internasional bentukan keduanya menawarkan properti dikemas dengan program investasi emas dan asuransi. Iming-iming yang dilancarkan adalah balik modal di tahun ke-10 hingga ke-15. Nasabah juga mereka janjikan keuntungan, cash back sebesar dua persen, dan mendapatkan hadiah kendaraan mewah,” tutur penulis buku Jangan Bosan Kritik Polisi ini.

Dalam kasus ini, jelas Neta, Christopher melakukan kontrak pembelian dengan developer atas nama korban, namun tidak membayarkan uang customer sepenuhnya.

“Korban tersebar di Jakarta, Bandung, Bali dan Yogyakarta. Sebagian uang digunakan untuk trading dan investasi, sebagian lagi untuk membeli rumah, tanah dan kendaraan pribadi,” ucap mantan Wapemred Harian Jakarta itu.

Saat Christopher tertangkap, lanjut Neta, Indra berhasil kabur ke Korea Selatan dan kemudian ke AS hingga tertangkap.

“Kita upayakan barter dengan buronan AS yang sudah ditangkap oleh Polda Bali minggu lalu,” kata Neta menirukan sumber IPW.

Sayangnya, tambah Neta, hingga saat ini para jenderal di Mabes Polri belum merespon penangkapan dua buronan kelas kakap di AS tersebut.

“Rupanya para jenderal Mabes Polri masih terpukau dengan penangkapan Djoko Tjandra,” pungkas mantan Redpel Koran Aksi Jakarta tersebut. LN-RON

banner 300x250

Related posts

banner 468x60