IPW: Tindak Atasan Penyiksa Tiga Bawahannya di Padang Pariaman

Jakarta, LiraNews – Apa pun alasannya tindakan penyiksaan tidak boleh dilakukan oleh anggota polri kepada bawahannya, apalagi secara terbuka di lapangan yang bisa disaksikan semua orang, seperti yang terjadi di Polres Pariaman, Sumbar dimana atasan menyiksa tiga bawahannya.

Ind Police Watch (IPW) mengecam keras tindakan sadis tersebut. Ironisnya tindakan sadis itu terbiarkan cukup lama, padahal semua anggota Polres Pariaman bisa menyaksikannya.

“IPW berterimakasih kepada pihak yang sudah merekam dan memviralkan peristiwa yg sangat memalukan institusi kepolisian ini.,” ujar Ketua Presidium Ind Police Wacth, Neta S Pane, Kamis (27/3/2020).

IPW mengingatkan, Polri adalah lembaga dan aparatur penegak hukum, jika seorang bawahan melakukan kesalahan, sepatal apapun kesalahan itu, atasan harus menghukumnya dalam koridor hukum, bukan melakukan penyiksaan. Apalagi penyiksaan itu dilakukan di lapangan terbuka yg semua orang bisa menyaksikannya.

Yang sangat disayangkan penyiksaan ini dilakukan atas nama pembinaan. Ini sebuah kesalahan fatal dan persepsi yang ngawur tentang pembinaan. Tindakan sadis tsb mengabaikan fungsi polri sbg pelayan, pelindung, pengayom dan pelaku penegakan hukum yg promoter.

“Bagaimana ybs bisa menjadi polisi yg promoter dalam melayani masyarakat wong kepada sesama anggota polri sendiri saja bisa bersikap sadis, bengis dan tega melakukan penyiksaan,” katanya.

Sesuai dengan UU, pelaku haruss diproses secara hukum dengan pasal berlapis, yang antara lain pasal yg mengatur tentang penyiksaan. Selain itu, sikap pelaku yg sadis dan bengis menjadi bukti nyata ybs tidak pantas lagi menjadi anggota polri dan institusi polri hrs segera memecatnya. Begitu juga Kapolres yang menjadi atasan pelaku haruss segera dicopot karena membiarkan pelaku berbuat sadis, bengis dan semena mena di halaman polres.

Pembiaran tindakan sadis ini menunjukkan bahwa Kapolres tidak punya wibawa dan tidak mampu membina bawaannya, sehingga bawahan bisa bertindak semau gue di depan hidung polres. Sedangkan ketiga Bintara jika melakukan kesalahan tetap hrs diproses oleh propam Polda.

“Bagaimana pun kasus seperti ini dimana anggota polri bertindak sadis dan bengis melakukan penyiksaan, terutama di lapangan terbuka tidak boleh terulang lagi. Tindakan sadis itu hanya akan menunjukkan bahwa polri yg promoter hanya sebuah isapan jempol belaka,” pungkasnya Neta. LN-TIM