Jic Akan Gelar Diklat Kuantum Jodoh

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:

LiraNews.Com

Bagikan:

LiraNews, Jakarta –Jakarta Islamic Centre (JIC) bakal menggelar diklat kuantum jodoh, Ahad 28 April 2019. Hal tersebut diungkapkan Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan JIC yang juga merupakan inisiator kegiatan tersebut, KH Rakhmad Zailani Kiki.

Dia menjelaskan, sedikitnya ada tiga hal yang Allah SWT rahasiakan dari manusia, yaitu rezeki, jodoh, dan kematian. Tidak ada seorang manusia pun yang tahu seberapa besar dan kecilnya rezeki yang dia dapatkan selama dia hidup di dunia.

“Tidak ada seorang manusia pun yang tahu dengan siapa dia akan menikah. Dan, tidak pula ada seorang manusia pun yang tahu kapan dan di mana dia mati,” ujar pria yang akrab disapa Kiki, Kamis (11/1/2019).

Namun, kata dia, walau rezeki menjadi rahasia Allah SWT, umumnya manusia sangat serius mengejarnya, merencanakannya dengan matang dan menjalaninya dengan tekun. Berpegang pendapat bahwa umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin besar penghasilannya, ditempuhlah pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD, sampai ke perguruan tinggi.

“Dengan kata lain, untuk rezeki, manusia membuat tempat pendidikannya, membuat madrasahnya,” kata Kiki.

Seharusnya, hal yang demikian ini dilakukan pula untuk jodoh dan kematian yang sama misteriusnya dengan rezeki. Sayangnya, kebanyakan manusia di Indonesia tidak memandang penting urusan jodoh dan kematian. Maka, nyaris tidak dikenal adanya madrasah jodoh dan madrasah kematian di Indonesia.

Lebih lanjut, Kiki menjelaskan, khusus tentang jodoh, ada pernyataan yang populer yang disampaikan oleh para lajang, bahwa jodoh urusan nanti, bagaimana nanti Tuhan yang kasih. Pernyataan yang fatalistik, khas kaum Jabariyah ini, memang cukup ampuh sebagai senjata kaum lajang yang tengah sibuk mengejar rezeki untuk melawan pertanyaan “kapan nikah?” dari keluarga, kerabat, atau teman-temannya.

“Dari pengalaman saya mengelola komunitas taaruf, perlawanan lewat kalimat tersebut tentu hanya sementara, terutama untuk kaum hawa,” jelas Kiki.

Ditambahkannya, bagi kaum hawa yang lajang, ketika usia sudah kepala tiga lebih, walau pekerjaan sudah mapan, karir sudah lumayan dan penghasilan lebih dari cukup, muncul kecemasan mengenai jodoh yang tidak kunjung datang. Desakan “kapan nikah?” bukan lagi datang dari luar, melainkan dari diri sendiri.

Apalagi, ketika melihat kawan-kawan seusianya sudah menikah dan mempunyai anak. Juga bukan saja terhenti di pertanyaan tersebut, melainkan juga pertanyaan menikah dengan siapa? Dua pertanyaan ini, kapan dan siapa, tidak jarang menjadi gangguan harian bagi sebagian kaum hawa, yang lajang terbawa sampai menjadi penyakit psikis tersendiri, walau dalam kadar yang belum membahayakan.

“Agar terlepas dari desakan dan gangguan tersebut, tanpa bimbingan dan bekal agama yang kuat, ada sebagian kaum lajang terutama dari kaum hawa, yang akhirnya mengambil jalan pintas dan jalan yang instan,” tambahnya.

Menurut dia, melalui cara dan tahapan yang benar berdasarkan syariat Islam dan tanpa memandang lagi kualitas keislaman, keimanan serta kepribadian calon pasangannya, mereka pun menikah. Celakanya, ada pula yang menikah dengan yang tidak seiman.

“Maka, wajar jika cekcok rumah tangga terjadi dari orang-orang yang mengambil jalan pintas dan instan ini yang berujung pada perceraian,” imbuhnya.

Untuk diketahui, Diklat dan metode kuantum jodoh telah dirintis dan dikembangkan sejak tahun 2010 lalu, yang sampai saat ini telah banyak menjadikan pesertanya berhasil mendapatkan jodoh dan menikah.Teori dan metode kuantum jodoh memiliki motto: “Jodohmu Ada di Dalam Dirimu”, yang terinspirasi atau bersumber dari QS An Naba ayat 8.**

Bagikan:
Komentari Melalui Facebook
Thu Apr 11 , 2019
LiraNews.Com