Kader PDIP Dibajak, Hasto: Parpol yang Seperti Klub Sepakbola Pasti Berwatak Kapital

Jakarta, LiraNews – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyinggung partai politik yang suka membajak kader partai politik lain, dengan menyatakan partainya bukanlah klub sepakbola yang biasa melakukan jual beli pemain.

Hasto mengungkapkan hal itu ketika berbicara di hadapan lebih dari 3000 anggota DPRD tingkat provinsi, kabupaten/kota, yang mengikuti Bimbingan Teknis (PDIP) di Hotel Grand Paragon, Jakarta Barat, Selasa (14/6/2022).

Read More
banner 300250

Awalnya Hasto berbicara soal isu pilpres. Ditegaskan Hasto, keputusan mengenai itu berada di tangan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Tugas kader adalah berkonsolidasi, memperkuat gerak ke bawah, membantu rakyat mengatasi persoalan yang dihadapi.

Kunci elektoral partai adalah ketika mampu membantu menyelesaikan permasalahan rakyat, bukan elektabilitas hasil pencitraan. Bila elektabilitas diperoleh dari kerja pencitraan, itu sifatnya semu.

“Kita ini partai politik. Kita ini bukan klub sepakbola, yang ketika melihat pemain handal dari klub sepak bola yang lain, lalu kita tergoda untuk merekrut dan membajak pemain sepak bola dari klub lain,” kata Hasto.

“Kalau itu terjadi, maka pasti watak politik adalah kekuasaan kapital. Pasti calon-calon yang dibajak itu hanya dipakai untuk kepentingan kekuasaan dan kapital, saudara-sajdara sekalian. Bukan untuk kepentingan membangun bangsa dan negara,” tegas Hasto.

Hasto juga menyinggu parpol yang masih jaih-jauh hari sudah berbicara calon presiden. Di acara itu, hadir Ketua KPU Hasyim Asyari. Hasto bercerita, dia sempat bertanya kapan pendaftaran capres-cawapres akan dibuka oleh KPU, dan dijawab pada Agustus 2023.

“Masih Agustus 2023 saudara-saudara. Masih ada waktu panjang bagi ibu ketua umum kita untuk mempertimbangkan dan melihat semuanya dengan baik. Sebab yang dicari Ibu Megawati adalah bukan sekedar presiden dan wakil presiden, namun calon pemimpin bangsa yang berani bertanggung jawab akan masa depan 270 jutaan rakyat Indonesia,” kata Hasto.

Ditegaskan Hasto, PDIP bukanlah klub sepakbola seperti dimaksud di atas, dan bukan gerombolan politik. Namun partai politik yang memiliki kaderisasi politik demi menghadirkan kepemimpinan yang mumpuni.

“Makanya kita punya sekolah partai, memperkuat institusionalisasi partai, membangun sedikitnya 82 kantor selama pandemi. Artinya kita bangun kelembagaan, parpol sebagai kekuatan kolektif. Melalui kaderisasi mengajarkan teori politik dan ideologi,” ulas Hasto.

Ditegaskan Hasto, kondisi ideal adalah ketika partai politik menyiapkan calon pemimpin dari internal partai. Bakal calon diterima dan digembleng melalui proses kaderisasi, lalu diuji di lapangan sebelum dicalonkan di tingkatan eksekutif maupun legislatif.

“Semua harus melalui proses kaderisasi karena itu fungsi dasar dari parpol,” imbuhnya.

“Kalau PDI Perjuangan bukan klub sepak bola, artinya kadernya not for sale ya? Tidak boleh dibajak partai lain?” Tanya wartawan.

“Emangnya ada jual beli manusia? Yang ada adalah membangun kekuatan kader partai sehingga ini menjadi kekuatan perubahan bagi kemajuan Indonesia,” jawab Hasto.

“Kalau ada anggota partai yang dibajak partai lain apakah akan dibicarakan di Rakernas?” Tanya wartawan lagi.

“Dalam konteks berpartai itu kan ada disiplin.
Disiplin untuk menyatukan pada cita-cita partai politik, setiap kader partai akan menghadapi ujian-ujian di lapangan termasuk godaan-godaan kekuasaan. Keteguhan dalam memilih jalan kepartaian bersama PDI Perjuangan merupakan salah satu bagian kedisiplinan partai dan inilah yang hidup dan terus dibangun PDI Perjuangan,” jawab Hasto.

Related posts