Kajian Penggiat Lingkungan Atas HGU PT LUIS

  • Whatsapp
banner 468x60

Lumajang, LiraNews – Hasil dari sejumlah kajian pemerhati lingkungan, yang dimotori oleh Gerakan Masyarakat Peduli Pesisir (Gempar) bersama DPD LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) Kabupaten Lumajang, menyatakan bahwa pasca kejadian meninggalnya Almarhum Salim Kancil pada tahun 2015 lalu, sejumlah elemen masyarakat dan aktivis mahasiswa telah melakukan reboisasi penanaman pohon Cemara Sewu di seluruh area tambang ilegal di pesisir pantai selatan Kabupaten Lumajang.

“Dan kegiatan itu dimulai dari pesisir pantai Kecamatan Tempursari sampai pesisir Desa Selok Anyar, Kecamatan Pasirian ini,” kata Rohim, salah satu aktivis penggiat lingkungan setempat.

Read More

banner 300250

Dikatakan Rohim, bahwa pada tahun 2015 lalu, usai penanaman reboisasi tersebut, sempat ada kunjungan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar, waktu itu mengatakan kalua daerah tempat tinggal almarhum Salim Kancil di Desa Selok Awar-awar, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, bisa menjadi lokasi wisata pesisir. Peran pemerintah daerah sangat penting untuk mewujudkan rencana tersebut. Dalam pernyataannya waktu itu, disampaikan bahwa seluruh pesisir Lumajang adalah area konservasi.

“Namun kenapa pada tahun 2017 lalu, bisa diterbitkan HGU atas nama PT LUIS di Desa Selok Anyar,” bebernya.

Dan dalam pengajuannya, yang diketahui oleh sejumlah penggiat lingkungan setempat, ada 40 hektar (ha) lahan, namun yang di clear-kan hanya 20 ha saja termasuk Izin Mendirikan Bangunannya (IMB) nya.

“Karena itu masuk pada kawasan hutan, maka diajukan lagi oleh PT LUIS 5 ha lahan di Desa Selok Awar-Awar dan di clear-kan 1,8 ha saja,” ungkap Rohim lagi.

Artinya, HGU PT LUIS yang disyahkan adalah sekitar 21,8 ha, sedangkan IMB yang sudah diterbitkan / di keluarkan pihak terkait adalah seluas 20 ha, dan yang 1,8 ha masih belum terbit. Jika dilihat secara keseluruhan, menurut Rohim, pihak PT LUIS juga masih belum mengantongi izin Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) nya.

“Di sisi lain, pada kenyataan setelah dilihat dari satelit, area yang di kelola oleh PT LUIS lebih luas dari HGU yang dimilikinya, sekitar 50 ha,” ujarnya.

Atas hal tersebut diatas, maka sesuai dengan hasil investigasi dilapangan, beberapa hari yang lalu, telah ditemukan sejumlah pelanggaran yang telah dilakukan oleh PT LUIS, diantaranya, menurut Rohim PT LUIS telah melakukan pengelolahan di luar titik koordinat dan melakukan pengelolahan berupa pengurukan sebelum izin Amdal terbit dan pengurukan dilakukan diluar titik koordinat HGU.

“Ketiga, adanya dugaan penyerobotan lahan garapan milik almarhum Salim Kancil, yang mana dalam hal ini telah di atur oleh UUPA Nomor 5 Tahun 1960, dan Perpres Nomor 86 Tahun 2018 tentang Reforma Agraria,” tambahnya.

Dikatakan pula, bahwa PT LUIS telah melakukan penyempitan aliran sungai, sehingga berdampak negatif kepada petani sekitar (merusak lingkungan) UU Nomor 32 Tahun 2009, dan juga melakukan pengurukan di area sempadan pantai yang mana dalam hal ini, telah di atur dalam UU Nomor 27 Tahun 2007 dan direvisi UU Nomor 1 Tahun 2014 tentang Sempadan Pantai dan Pulau-Pulau Kecil, Perpres 51 Tahun 2016.

Berdasarkan beberapa kajian tersebut diatas, DPD LSM LIRA KAbupaten Lumajang juga turut serta melakukan investigasi lapangan, dan menerangkan bahwa pada tahun 2019 yang lalu, Bupati Lumajang, Thoriqul Haq (Cak Thoriq), telah melakukan sidak di area / lokasi PT LUIS, atas laporan dari warga Selok Awar-Awar atas nama Sutijah (istri almarhum Salim Kancil).

“Kondisi waktu itu bisa dikatakan masih kondusif dan tidak ada konflik apapun dari warga,” kata Bupati DPD LSM LIRA Kabupaten Lumajang, Angga Dhatu Nagara kepada media ini.

Sedangkan pada bulan Juli 2020 lalu, kunjungan Bupati Lumajang, Thoriqul Haq (Cak Thoriq) kedua kalinya, ada perlawanan dari PT LUIS, atas laporan adanya penyerobotan lahan garapan milik almarhum Salim Kancil.

“Perlu diketahui bahwa masyarakat dan pemuda di Desa Selok Anyar memanfaatkan pohon Cemara Sewu yang sudah besar untuk dijadikan wisata pantai, namun mendapatkan perlawanan atau terjadi konflik antar warga,” ungkap Angga.

Padahal, Cemara Sewu itu di tanam pasca Salim Kancil meninggal. Dan itu dilakukan oleh aktivis penggiat lingkungan, mahasiswa, elemen masyarakat lainnya. Sehingga baru-baru ini, masyarakat setempat sudah merasakan manisnya dari konservasi / wisata cemara, sehingga terjadi konflik antar masyarakat setempat.

Dan selang beberapa hari kemudian, dari pihak PT LUIS melakukan pelaporan terhadap Bupati Lumajang, Thoriqul Haq (Cak Thoriq) dan Sutijah ke Polda Jatim yang sampai saat ini masih dalam tahap proses pemanggilan saksi-saksi.

Berdasarkan informasi yang diterima DPD LSM LIRA Kabupaten Lumajang, pada pada 9 Juli 2020 lalu, pihak PT LUIS melakukan penutupan akses jalan menuju wisata cemara yang ada di pantai Selok Anyar, dikarenakan masuk dalam kawasan HGU PT LUIS, walau sebenarnya jalan tersebut pada awalnya sudah ada sebelum PT LUIS melakukan HGU disitu. Sehingga hal tersebut, menjadi pemicu konflik warga dengan PT LUIS. Dan kenyataan di lapangan sangat berdampak terhadap lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi, terutama masyarakat pesisir.
LN-AFU/TIK

banner 300x250

Related posts

banner 468x60