KaKanwil Kemenag Jatim Terima Rombongan TV Pakistan

Surabaya, LiraNews – Kepala kantor wilayah Kementerian agama (KaKanwil Kemenag) Jawa Timur (Jatim) mendapat tamu kehormatan dari repoter TV Pakistan.

Rombongan TV Pakistan beranggotakan Nabiya dan Shafi diterima langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Jatim Husnul Maram di kantor Kemenag Jl. Raya Bandara Juanda No.26, Semalang, Semambung, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (16/8/2022).

Kehadirannya disamping bersilaturahim dengan Husnul Maram, kedua repoter asal Pakistan ini, ingin meminta penjelasan terkait moderasi beragama dan pemberdayaan perempuan di pondok pesantren di Jawa Timur.

Saat di konfirmasi KaKanwil Kemenag Jatim Husnul Maram kepada LiraNews terkait hal tersebut mengatakan sesungguhnya moderasi beragama dipondok pesantren sudah ada sejak adanya pondok pesantren di Indonesia.

“Pasalnya Itulah menjadi model di Indonesia, bahwasanya beragama sangat tepat diterapkan di Indonesia,” ujarnya.

Termasuk pemberdayaan perempuan di pondok pondok perempuan, itu juga sudah dilaksanakan, semisal contoh dengan pemberdayaan guru guru atau ustadah ustadah di pondok pesantren.

Sambung Maram, bahwa itu bukti salah satu wanita Indonesia khususnya yang mengabdi di pondok pesantren itu, sebut dia diberikan peran penting untuk memberikan pengajaran kepada santri santri, baik santri perempuan maupun santri laki laki.

Pasalnya, itu pun ada yang memperbolehkan para kyai, termasuk para santri santriwati diberikan hak yang sama di dalam pondok pesantren itu.

Lanjutnya, ada organisasi organisasi santri wanita. Santri wanita itulah belajar tentang organisasi termasuk di dalamnya ada kajian kajian keilmuan, termasuk ada kajian kajian fiqih wanita dan sebagainya. Nah itulah yang sudah diterapkan di pondok pesantren.

Terlebih Maram kembali menjelaskan nilai nilai moderasi beragama yang ada di pondok pesantren. “Ada sejak adanya pondok pesantren, bahwasannya semuanya harus moderat,” terangnya.

Bukti mereka adalah, yang pertama komitmen kebangsaan, artinya semua warga pondok pesantren dengan komitmen kebangsaan, itu sudah sangat menerima dan tidak mempermasalahkan lagi, tentang dasar negara kita Pancasila dan UUD 1945.

“Negara kita Bhinneka Tunggal Ika dan juga NKRI, itu komitmen kebangsaan, ini diterapkan di pondok pesantren,” sebutnya.

Selanjutnya yang kedua moderasi beragama di pondok pesantren itu anti kekerasan, bahwa semua di pondok pesantren mengajarkan anti kekerasan.

Baik kekerasan secara fisik.maupun kekerasan tidak mengunakan fisik, lebih tepatnya fsikis dan lain sebagainya.

Lalu yang ketiga dengan moderasi beragama, para santri diajarkan bagaimana cara menghormati para sesama santri, atau yang dikenal toleransi.

“Disamping itu, semua pondok pesantren di Indonesia khususnya di Jawa Timur menghormati muatan muatan lokal yang ada di Jawa Timur,” kata Maram.

“Muatan muatan yang ada di Jawa Timur harus dihormati, kemudian diberikan masukan nilai ke Islaman, seperti halnya kayak wayang kulit yang ada di pondok pesantren Sunan Drajat Lamongan dan lain sebagainya,” tegas Husnul Maram. LN-Heri

Related posts