Kasus Penganiayaan Anggota TNI Oleh Pengendara Moge, IPW: Polri Jangan Mau Diintervensi

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews – Para pensiunan dan mantan pejabat tinggi jangan mengintervensi Polres Bukittinggi maupun Polda Sumbar dalam menangani kasus penganiayaan yang dilakukan sejumlah pengandara motor gede (moge) terhadap dua anggota TNI di daerah itu.

Demikian disampaikan Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S. Pane kepada para awak media, Senin (2/11/2020).

Read More

banner 300250

Selain itu, Neta juga berharap agar jajaran Polres Bukittinggi dan Polda Sumbar tidak mau diintervensi oleh siapapun, termasuk oleh para pensiunan yang sok kuasa.

“Jajaran kepolisian di Sumbar harus promoter dalam menangani kasus penganiayaan terhadap dua anggota TNI itu,” kata Neta.

Neta mengatakan, para tersangka harus tetap ditahan dan jangan sampai penahanannya ditangguhkan hingga BAP-nya dilimpahkan ke kejaksaan.

“Penangguhan penahanan terhadap pengendara moge yang menganiaya kedua anggota TNI itu hanya akan menimbulkan ekses negatif bagi Polres Bukittinggi dan bukan mustahil penangguhan itu akan memunculkan kemarahan kawan kawan korban,” ingat pria kelahiran Medan, 56 tahun lalu ini.

Neta mengingatkan, kedua korban juga jangan mau menerima tawaran damai dari para pelaku penganiayaan.

“Kasus ini harus menjadi pembelajaran bagi para pelaku maupun para pengendara moge lainnya agar tidak arogan, tidak ugal-ugalan, dan tidak ringan tangan main keroyok di jalanan,” tegasnya.

Neta menilai, kasus ini perlu dituntaskan hingga di pengadilan agar terang benderang.

“Jika kasus ini damai di tengah jalan, bukan mustahil orang-orang di jalanan akan dengan gampang menganiaya dan memukuli anggota TNI atau Polri di jalanan. Toh bisa berdamai. Akibatnya, anggota TNI dan Polri sebagai aparatur negara tidak lagi memiliki wibawa di mata masyarakat,” papar Penulis Buku Jangan Bosan Kritik Polisi ini.

Neta menerangkan, jika selama ini anggota TNI-Polri yang terlibat melakukan aksi kekerasan terhadap anggota masyarakat ditindak tegas dan diproses hingga ke sidang propam, seperti kasus di Ciracas, Jakarta, maka sangatlah wajar, jika masyarakat sipil yang menganiaya dan mengeroyok anggota TNI Polri juga ditindak tegas dan kasusnya bisa dituntaskan di pengadilan.

“Apalagi dalam kasus moge ini, para pelaku bisa dikenakan pasal berlapis, yakni melakukan penganiayaan dan melawan anggota TNI sebagai aparatur negara,” ungkap mantan Wapemred Harian Jakarta ini.

Neta pun berharap para pimpinan TNI-Polri tidak melihat kasus penganiayaan kedua anggota TNI ini sebagai kasus sepele, seperti yang dikatakan Letjen (Purn) Djamhari Chaniago.

“Sebab kasus ini adalah kasus yang sangat serius karena menyangkut wibawa dan kredibilitas TNI sebagai aparatur negara. Jika kasus ini dianggap sepele, maka ke depan hanya gara-gara kasus sepele, orang orang akan dengan gampang mengeroyok dan memukuli anggota TNI di jalanan,” pungkas mantan Redpel Koran Aksi ini. LN-RON

banner 300x250

Related posts

banner 468x60