Keluarga Miskin Kota Probolinggo, Kerap Menahan Lapar dalam Gubuk Rapuh Ditambal Kain Spanduk

  • Whatsapp
banner 468x60

Probolinggo, LiraNews – Hidup dalam kemiskinan harus dijalani Sugeng (37) beserta istri dan anaknya di Kelurahan Jrebeng Lor, kota Probolinggo, Jawa Timur.

Dia hanya bisa pasrah hidup di sebuah rumah tidak layak huni. Kontras dengan ingar bingar pembangunan Kota Probolinggo yang banyak digembar-gemborkan selama ini.

Read More

banner 300250

Untuk menyambung hidup, Sugeng tiap hari harus mencari barang bekas (rongsokan) untuk dijual. Ia pun belajar servis elektronik untuk sekedar mengais rejeki yang serba tidak menentu.

Jangankan untuk keperluan tambahan, buat makan pun sulit. Terkadang Sugeng hanya dapat Rp50 ribu untuk satu minggu.

“Saya juga sering puasa menahan lapar, asalkan anak saya makan. Kadang-kadang dikasih dari tetangga,” tutur Sugeng kepada Liranews, Selasa (8/7).

Sudah 6 tahun Sugeng hidup di rumah tak layak huni bersama keluarganya. Ia tinggal dalam gubuk di atas tanah warisan dari orang tuanya.

Dulunya Sugeng menjadi PKL (sejenis pedagang asongan) untuk menyambung hidup. Namun usahanya tidak berhasil karena modal habis buat kebutuhan sehari-hari serta rehab rumah untuk membeli bambu.

Suatu ketika di awal Juni 2021, Sugeng mendapat kejutan. Ada Babinsa dan Babinkamtibmas datang memberi bantuan satu kantong sak plastik beras.

Sugeng menyambut bahagia. Kepada anggota TNI dan Polresta Probolinggo. Ia terharu dan mengucapkan banyak berterima kasih hingga matanya berkaca-kaca.

Sejauh ini, Sugeng mengaku tidak pernah mendapat Program RTLH lantaran tanah yang ditempatinya masih tanah waris.

“Tidak ada bantuan, saya tidak pernah menerima bantuan sebelumnya,” ucapnya.

Segeng, seorang warga miskin Kota Probolinggo

Kondisi rumah Sugeng sendiri memang sangat memprihatinkan.
Semua bahan terbuat dari bambu yang sudah mulai rapuh. Ada tambalan kain-kain bekas baliho, banner yang dipasang unyuk menutup lubang agar angin dan nyamut tidak masuk.

“Memang hanya ini yang kami punya,” lanjutnya.

Soal sekolah anaknya, Sugeng menyebutkan anak pertamanya yang bernama Maylina Wulandari (7) mau masuk SD tahun ini. Sedangkan anak nomor dua bernama Abdul Ghofur yang usianya masih 3 tahun, sudah lulus TK.

“Anaknya yang pertama lulus TK tapi tidak dapat ijazah. Saat ini masih ada di TK karena tidak bisa diambil, karena saya tidak kuat bayar Rp200 ribu,” lanjutnya.

Pihak Dinas Sosial (Dinsos) saat dikonfirmasi oleh teman teman wartawan, mengaku belum mengetahui ada warga miskin yang belum menerima bantuan. Karenanya, kepala dinas sosial yang karib disapa Tiyok ini meminta kartu identitas Sugeng.

“Saya tidak tahu. Tolong kirim KTP dan kartu keluarganya. Nanti saya kroscek,” ujar Tiyok.(ID-LN)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60