Kematian Tersangka Pengedar Pil, Diduga Tidak Wajar

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Probolinggo, Liranews.com | Keluarga Nur Hasan (17), tersangka narkoba yang tewas pasca penangkapan Satreskoba Polres Probolinggo Kota, meminta pihak kepolisian untuk melakukan otopsi ulang. Pasalnya mereka menduga kematian Hasan tidak wajar.

Musa (45) paman Hasan mengatakan, keluarga menemukan beberapa tanda bekas kekerasan pada jasad Hasan. Menurutnya, jenazah Hasan mengeluarkan darah di bagian telinga dan hidung, kaki dan tangan lebam, Selain itu bibir luka-luka dan mata seperti lebam.

“Kami menduga, bahwa keponakan kami ini meninggal akibat dianiaya oleh oknum polisi. Kami meminta otopsi ulang. Selain itu, oknum polisi yang menganiaya harus dipecat dan dihukum,” pinta Musa, Sabtu (27/7/2019).Bahkan, Musa mengaku dirinya melihat secara langsung proses penangkapan dan pemukulan yang dilakukan oleh petugas kepada Hasan, Kamis (25/7/2019) sekitar pukul 20.00 WIB.
“Petugas memukulnya dengan tangan. Pukulan itu, tepat mengenai kepala bagian belakang. Petugas lantas memborgol dan membawanya ke rumah Ridwan (tetangga di sekitar situ),” tuturnya.

Yuyun (38), paman hasan yang lain juga menyakini dugaan penganiayaan oleh petugas. Apalagi, ada oknum polisi meminta uang Rp 15 juta sebagai tebusan agar Hasan keluar.

“Ayah hasan datang ke rumah usai anaknya ditangkap. Ia bermaksud pinjam uang ke saya, katanya mau nebus anaknya,” katanya.

Oleh Yuyun, Busari ayah Hasan, diberi pinjaman sebesar Rp 15 juta. Uang itu lantas diberikan kepada Muis, warga Pohsangit Leres, Kecamatan Sumberasih. Pria inilah yang dihubungi polisi untuk menyampaikan pesannya. Sekitar pukul 23.00 WIB, Busari langsung menyerahkan uang Rp 15 juta pada Muis. Setelah itu, Busari pulang ke rumah tanpa diikuti oleh Hasan.

“Saya tanya ke Bapaknya. Kan sudah bayar, tapi kok anaknya tidak dilepas. Biasanya kan kalau sudah ditebus, orangnya dikeluarkan. Nah ini tidak dikeluarkan. Sementara uangnya sudah diambil. Kata bapaknya nanti akan dilepas setelah ada penggantinya,” ungkap Yuyun.

Herannya lagi, ketika NH dinyatakan meninggal, Muis kemudian menyerahkan kembali uang utuh-utuh ke Busari. “Jadi uang yang diserahkan itu dikembalikan oleh Muis ke ayahnya. Dikembalikan saat di kamar mayat,” tandas Yuyun.

AKBP Alfian menuturkan pada Kamis malam (25/7/2019), anggota Satreskoba mengamankan Nur hasan (17) atas pengembangan penyelidikan terkait peredaran pil Trihexypenidyl. Saat petugas datang ke rumahnya, NH mencoba kabur melalui pintu belakang. Namun berhasil dikejar petugas.
“Terjadi perlawanan dari NH yang menyebabkan perkelahian dengan petugas. Namun berhasil diamankan beserta barang buktinya,” ungkap kapolresta.

Sedangkan permintaan untuk otopsi ulang pada jenazah Hasan, AKBP Alfian mengatakan sudah menyurati Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya untuk melakukan otopsi. Sehingga, ada kejelasan tentang sebab meninggalnya Hasan.”Kami sudah surati. Paling cepat sekitar dua hari lagi tim labfor datang ke Probolinggo,” ucapnya. (gus)

Sun Jul 28 , 2019
Oleh Dimas Huda | CeknRicek Rasio pajak Indonesia masuk dalam jajaran paling rendah di negara-negara di Asia Pasifik. Setidaknya begitu kesimpulan laporan berjudul Revenue Statistic in Asia and Pacific Economies 2019 yang diplublikasikan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Menurut OECD, sebanyak 9 negara mengalami kenaikan tax ratio […]