Kembangkan Pariwisata, Kolaborasi Gorontalo dan Pasundan Siapkan SDM

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto: Made Handijaya (kedua kiri) Des Winarta (kedua kanan) Ramang Demolinggo (kanan). Foto : LN-Zack
Bagikan:

Jakarta, LiraNews — Untuk mengembangkan obyek wisata di Provinsi Gorontalo, Badan Penghubung Gorontalo adakan “Talk Show” dengan tema “Peluang dan Tantangan Pengembangan Pariwisata Gorontalo In Pasundan.

“Talk Show” itu menghadirkan pembicara, Rifli M. Katili (Kadis Pariwisata Gorontalo) Diana Ramadiany (Kepala Penghubung Provinsi Jawa Barat) Made Handijaya Dewantara (Direktur Bidang ITRC) Deswinarta(Plt Kepala Penghubung Gorontalo. Moderator Ramang Demolinggo  (Dosen Pariwisats Unas)

Deswinarta serahkan cendera mata pada Made Handijaya usai acara talk show. Foto : LN/Zack

Menurut Made Handijaya Dewantara, Sebenarnya peluang untuk kembangkan obyek wisata di Provinsi Gorontalo terbuka lebar, jika dilihat dari sisi internalnya sendiri. Untuk promosinya cepat, tidak seperti dulu lagi yang konvensional, meskipun kurang “budget”, tidak menjadi penghalang bisa promosi.

“Disana (Gorontalo) ada peluang destinasi. Generasi milenial, generasi sekarang itu lebih mencari obyek wisata yang unik. Tidak ada didaerah lain yang bisa mereka temukan di Gorontalo. Belum lagi yang ditawarkan itu keheningan, jauh dari tempat wisata seperti Bali dan Jakarta. Itu jadi peluang utama sebenarnya,” ujar Handi, sapaan akrab pada liranews.com usai acara di kantor penghubung Gorontalo, Jalan Kedondong Raya, Jakarta Timur, Jumat (16/8/2019).

Lanjut dia, peluang itu karena ada sistem informasi yang makin mudah, ditambah lagi kehadiran generasi milenial. Kemudian ada peluamg pertumbuhan tingkat wisatawan yang datang ke Sulawesi. Jadi ada kenaikan cukup signifikan dari tahun ketahun karena sudah ada pengunjung yang diarahkan ke Manado dan Makassar.

Nah, peluang-peluang seperti ini sebenarnya suatu kesempatan yang bisa ditangkap oleh pemerintah daerah setempat. Ibarat bus penumpang lewat depan mata, kalau tidak di stop, maka bus akan lewat, tidak dapat apa-apa.

Nah, lanjut Handi, peluang itu ada didepan mata apakah berhasil diraih atau tidak. Seperti pada diskusi yang disampaikan oleh beberapa nara sumber, yakni peningkatan SDM. SDM itu menjadi kunci untuk menangkap peluang, seperti analogi bus penumpang yang distop.

Handi mengaku bisa menangkap peluang yang ada tantangannnya, Pertama, misalmya Gorontalo belum dikenal banyak turis baik manca negara maupun demostik, tidak seperti daerah di Sulawesi lainnya.

Tantangan Kedua, persoalan SDM-nya, apakah siap atau tidak. Nah, pada diskusi dia buka dengan “goal setting”, apakah di save goalnya. Bagaimana menargetkan berapa wisatawan yang datang, berapa persen wisatawan manca negara seperti  dari Australia, China, India dan lain sebagaianya.

Tapi, dalam mengembangkan obyek wisata, semua daerah dihadapkan pada persoalan lingkungan hidup, seperti kebersihan lingkungan atau pengelolaan sampah.

“Artinya, kebersihan obyek wisata itu penting demi menghargai. Turis itu kita anggap sebagai tamu istimewa. Bagaimana tuan rumah menghormati tamunya,” katanya.

Kemudian, ada tantangan sinergi,  apabila ketersediaan SDM itu diwujudkan dengan lembaga lain. Nah, tambahnya, disini sebenarnya ITRC yang dipimpinnya itu, memberikan posisi sebagai alat untuk menjawab tantangan.

Foto bersama usai acara talk show. Foto : LN/Zack.

Pengembangan obyek wisata ini juga sekaligus mendukung program pemerintah. Pemerintah menargetkan banyak desa wisata baru. Lalu, pariwisata yang tadinya nomor dua, katanya dinaikkan jadi posisi pertama.

Presiden juga dalam pidatonya menekankan pengembangan dunia pariwisata. Tidak banyak difokuskan pada pembangunan infrastruktur, tapi lebih fokus peningkatan SDM.

“Pas juga hari ini kita adakan talk show, bagaiamana pengembangan SDM di Gorontalo, yaitu harus dikolaborasikan antara Gorontalo dan Pasundan,” pungkas Handi.

Sementara itu, Deswinarta, kepada Liranews.com mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi pengembangan obyek wisata di Gorontalo, makamya dilakukan workshop atau talk show untuk mendapatkan “chemistry” dengan tanah Pasundan, Jawa Barat.

“Kami harapkan, kerja sama pariwisata Gorontalo dan Pasundan ini saling menguatkan. Apalagi Gubernur juga sudah mengapresiasi, bahkan sudah datang kekantor penghubung ini. Akhirnya kami eratkan dan memperkuat,”ucap Des.

Pengembangan pariwisata yakni
kelaborasi kedua provinsi Jawa Barat dan Gorontalo terus dilakukan dengan melakukan berbagai pertemuan seperti talk show, saling sharing. Ini diakuinya bisa mengadopsi apa yang telah dilakukan oleh tanah Pasundan dengan apa yang belum dikembangkan di Gorontalo.

Apa yang dilakukan oleh pariwisata di Pasundan sebagai salah satu contoh, bagaimana pariwisata Gorontalo itu ditata lebih baik lagi. Artinya, pihaknya mencontoh bagaimana Pasundan itu menata wisata alamnya tanpa merusak lingkungan.

Dalam pengembangan pariwisata ini pihaknya tidak pilih kasih, daerah mana saja yang difokuskan. Artinya, mana yang layak atau tersedia, maka itu akan dikembangkan. Hanya yang jelas, sejauh mana ketersediaan SDM diwilayah tersebut.

“Utama itu kan SDM. Pendidikan  pariwisatanya. Untuk lebih spesifiknya mindset atau cara berpikirnya. Orang itu harus diurus  biar terbuka cara berpikirnya tentang pariwisata,” tambah lelaki yang pernah main di sinetron Bajai Baijuri 2011.

Kata dia, selama ini pariwisata dianaktirikan, namun adanya tahun pariwisata yang dicanangkan dibarengi peningkatan SDM, masyarakat menyambut baik. Apalagi di obyek wisata tersedia sport air dan lain-lain yang sebelumnya belum Ada.

Bila diperhatikan, sebagian besar masyarakat  masih memanfaatkan potensi obyek wisata yang sudah ada, seperti di Lombongo, salah satu wisata bentukan alam. Bentukan alam dan ditata lagi sedikit  oleh tangan manusia.

Menurutnya, obyek wisata bentukan  manusia itu belum terlalu “booming” atau populer. Masyarakat hanya  melihat potensi pariwisata yang sudah ada, tersedia yang sudah dibentuk oleh alam.

“Insya Allah dengan kerja nyata, masyarakat tahu bahwa inilah pariwisata. Tidak perlu bicara panjang lebar. Kita bekerja saja untuk karya nyata,” tandas Des.

Reporter: Abuzakir Ahmad

Sun Aug 18 , 2019
Makassar, LiraNews –  Pengadaan makan minum harian dan rapat instansi pemerintah adalah termasuk belanja operasional yang besaran setiap tahunnya tidak dapat dikatakan kecil. Untuk pemerintah Kota Makassar dari data bruto Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) tidak kurang dari 5 Miliar/tahun. Data itu masih belum diperhitungkan secara riil pada kegiatan-kegiatan […]