Kenangan Am Fatwa Dialog Dengan Sekpri Dn Aidit Dan Peristiwa Rohingya

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews.com – Dalam peristiwa kekerasan terhadap Rohingya, terkenang dialog saya dengan mantan Sekpri DN. Aidit yang juga sekretaris Harian Rakyat, Iskandar Subekti pada tahun 1990-an ketika kami sama-sama sebagai Tapol di LP Cipinang.

Dia bercerita bagaimana dia sampai keluar dari Islam lalu masuk Budha padahal ayahnya seorang haji dari keluarga yg taat beragama di Rangkas Bitung.

Mungkin karena kalangan Islam yg paling keras menentang komunis sementara dia sebagai kader PKI, maka dalam persepsinya Islam itu agama yg keras, ekstrim. Lalu dia berpikir pindah ke agama yang dianggapnya paling damai dan lunak. Ia menyimpulkan agama itu ialah agama Budha.

Dia kaget ketika terjadi kekerasan di Srilangka yang dilakukan orang-orang Budha. Lalu saya menimpali ceritanya kalau begitu apa pak Is (panggilan akrabnya) tidak terpikir kembali saja keagama Islam. Dijawab “Wah sudah terlanjur”.

Ketika saya sudah bebas sementara dari penjara, sedang dia dalam status hukuman mati, saya sempat menjenguknya ketika sakit keras dan berujung kematian di RS St.Carolus.

Saya saksikan semua Tapol PKI yang dianggap beraliran komunis Rusia, dalam menjalani hukuman matinya dibiarkan saja mati ditempat tidur. Sedangkan yg beraliran komunis Cina waktu itu dieksekusi tembak mati.

Seandainya Iskandar Subekti masih hidup, saya tidak tahu apa komentarnya tentang peristiwa Rohingya sekarang.

AM Fatwa, Mantan Tapol 

banner 300x250

Related posts

banner 468x60