Keragaman Seni dan Budaya Satukan Perbedaan

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Jakarta, LiraNews — Indonesia terdiri dari beragam suku bahasa dan adat istiadat dan agama. Keberagaman tersebut menjadi  warna tersendiri dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan menjadi ciri khas Indonesia yang sudah diakui dunia internasional.

Aneka ragam seni dan budaya, seperti pakaian adat yang dipertontonkan pada perhelatan akbar, hari kemerdekan RI belum lama ini, menjadi petunjuk untuk memahami perbedaan. Tapi, disayangkan, sebagian masyarakat menganggap perbedaan hanya  menjadi benalu dalam hidupnya.

Hal itu menyebabkan terjadinya pergeseran nilai dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mengabaikan kerukunan sehingga terjadi rasisme dan lain sebagainya,
ditengah derasnya arus informasi teknologi global.

“Ingat, pendiri bangsa itu membangun Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai Pulau Rote. Nah, itu harus kita jaga. Kita pertahankan. Jangan sampai menyinggung SARA,” ujar Wantimpres Sidarto Danusubroto pada liranews.com di Jakarta, baru-baru ini.

Makanya, tambah lelaki kelahiran   Pandeglang 11 Juni 1936, pasca kerusuhan Papua, semua pihak tetap menjaga persatuan dan kerukunan dalam berbangsa. Karena, proses hukum bagi pelaku rasisme atau perusuh saat ini sedang berjalan.

Yang jelas, peringatan kemerdekaan Indonesia  di Istana itu sangat menggambarkan wajah Indonesia yang harmoni. Harmoni dalam nuansa semangat kemerdekaan dengan mencintai seni dan budaya.
Untuk itu, budaya terutama pakaian adat diharapkan bisa menular ke daerah-daerah.

Sekarang bisa dilihat, dibeberapa instansi pemerintah daerah mewajibkan pegawai mengenakan pakaian khas daerahnya, seperti Yogjakara, setiap hari Kamis diwajibkam mengenakan pakaian daerahnya. Kemudian Bandung juga mulai menerapkan. Jakarta juga demikian dengan Betawinya.

Jadi, semangat ini adalah amunisi yang paling kuat untuk membangun toleransi dan keberagaman. Keberagaman budaya daerah sebagai wajah kebhinekaan bangsa.
Keberagaman ini sekarang sedang dibangun oleh presiden Jokowi.

Jokowi memperlihat pada publik
saat HUT ke 74  kemerdekaan RI di Istana 17 Agustus lalu. Saat itu para undangan termasuk Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengenakan pakaian adat, khas daerah. Hal itu menunjukkan betapa kayanya bangsa ini dengan adat istiadat warisan leluhur.

“Itulah Indonesia yang saya lihat, aneka ragam pakaian daerah. Kebudayaan daerah itu perlu dibangkitkan sebagai satu wajah kebhinekaan Indonesia. Itu penting sekali,” ungkap Opa Sidarto.

Sebelumnya, diberbagai kesempatan, sejak dimulainya perhelatan akbar atau kampanye Pilpres 2019, Opa selalu menyampaikan pada para relawan tentang keindahan Indonesia dalam keberagaman seni budaya dan adat istiadatnya.

Keberagaman ini merupakan “suprise” dari para pendiri bangsa atau “the founding father”  untuk rakyat Indonesia yang berdasarkan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, sebagai pemersatu bangsa.

Artinya, relawan Jokowi tetap mengawal pemerintahan kedepan. Semua relawan berharap dan  percaya pada Jokowi 5 tahun kedepan tidak ada beban lagi. Jokowi lebih berani lagi untuk perbaikan Indonesia kedepan.

Ari Nurcahyo

Sementara itu, Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo, kepada lira news.com, membenarkan, apa yang dikatakan Opa Sidarto yang melihat Indonesia sesungguhnya saat HUT kemerdekaan RI di Istana Negara.

Artinya, lanjut dia, publik disadarkan, ternyata pakaian adat itu sebagai manifestasi. Indonesia punya kekayaan melimpah. Kaya dengan aneka ragam makanan, pakaian adat, bahasa, kultur identitas, etnisitas dan lain-lain.

Keberagaman menuntut lapisan masyarakat untuk kembali menancapkan kepada peradaban. “Merewet”, kembali menengok sejarah, bagaimana semangat kebersamaan tertuang dalam Pancasila, Bhineka Tunggal Ika itu berjalan dengan baik.

“Sayangnyai, nilai-nilai itu hilang sekarang karena banyak gelombang persoalan. Persoalan krisis politik identitas. Penyebaran berita bohong atau hoax dan lain-lainnya,” pungkas Ari.

Reporter: Abuzakir Ahmad

Wed Sep 4 , 2019
Surabaya, LiraNews — Curnamor dan narkoba sekarang ini memiliki keterkaitan sangat erat. Biasanya para pelaku curanmor setelah menjual hasil curiannya lalu uangnya dibelikan narkoba. Seperti kelima tersangka, Renggi Demonstra Revol (20) warga Jalan Tambak Asri Gg.31 Surabaya, Hermawan Budi (24) waega Jalan Gubeng Airlangga Gg. 2, Angga Prasetyo (18) warga […]