Kerap Diblokir, Pendiri Telegram Tegaskan Konsisten Membela Privasi Pengguna

  • Whatsapp
banner 468x60

Rusia, LiraNews.com – Pendiri Telegram Pavel Durov mengatakan, bahwa dirinya tidak heran pemerintah dan regulator tidak senang dengan Telegram. Durov memahami aplikasi layanan pesan Telegram kerap diblokir di sejumlah negara.

“Biarkan mereka memblokir kami sebanyak yang mereka mau. Kami tidak akan mengubah prinsip kami atau mengkhianati pengguna kami,” ujar pengusaha asal Rusia ini, Sabtu (15/7/2017).

Durov mengingatkan kepada para pengguna aplikasinya, memang tidak menyenangkan kalau Telegram, atau bagian dari layanannya, dibatasi di suatu negara.

Tapi, dia menegaskan, terkadang lebih baik berhenti menggunakan layanan komunikasi sama sekali daripada menggunakan aplikasi yang tidak dapat dipercaya. 

Menurutnya, pemblokiran itu karena upaya secara konsisten membela privasi pengguna dan tidak pernah melakukan kesepakatan dengan pemerintah.  

Melalui laman telegra.ph pada 19 April 2017, Durov menulis, Telegram secara historis memiliki masalah dengan regulator di beberapa bagian dunia.

“Karena, tidak seperti layanan lainnya, kami secara konsisten membela privasi pengguna dan tidak pernah melakukan kesepakatan dengan pemerintah,” tulis Durov.

Sejak diluncurkan ada Agustus 2013, Durov menyatakan, tidak pernah mengungkapkan data kepada pihak ketiga. Layanan seperti WhatsApp tidak diblokir di Cina, Arab Saudi, Iran, atau negara lain yang memiliki sejarah penyensoran.

Hal ini, karena WhatsApp dan perusahaan induknya, yaitu Facebook, sangat ingin memperdagangkan kepercayaan pengguna untuk meningkatkan pangsa pasar.

Klaim bahwa WhatsApp dan pihak ketiga tidak dapat membaca atau mendengarkan pesan dan panggilan WhatsApp Anda, menurutnya, sebagai sesuatu yang salah. 

“WhatsApp dapat membaca dan mendengarkan panggilan dan pesan para pengguna. Sebab, mereka 99,99% dapat mengubah kunci enkripsi pengguna mereka,” kata pengusaha berusia 33 tahun ini.

Durov juga menerangkan, pihak ketiga seperti Google atau Apple memiliki akses langsung ke sebagian besar riwayat obrolan pengguna WhatsApp. Hal ini terjadi karena WhatsApp menipu mayoritas pengguna agar tidak mengizinkan backup terenkripsi pihak ketiga tanpa end-to-end. 

Bahkan, penyebaran obrolan tidak berhenti hanya dengan pihak ketiga. Pada gilirannya, Apple dan Google harus berurusan dengan permintaan data dari semua negara tempat mereka berbisnis.

“Karena itu, data pun mengalir ke negara tempat mereka berbisnis,” ujar Durov. LN-AZA

banner 300x250

Related posts

banner 468x60