Ketika  Artis Senior Dan Tokoh Bicara Kerukunan Bangsa

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Jakarta, LiraNews – Membicarakan persatuan dan kerukunan bangsa baik di era orde lama hingga masuk ke era reformasi, sudah dilewati oleh artis senior tahun 60-an Erny Johan. Sebuah peristiwa sejarah perjalanan bangsa yang dia tidak lupakan.

Diceritakan, pada era Soekarno pernah disuruh bapaknya untuk mendengarkan pidato langsung bersama saudara lainnya meski sedang belajar atau mengerjakan PR. Berbagai peristiwa dia alami seperti G/30/S-PKI dan lain.

“Makanya, berkat perjuangan Bung Karno, sudah sepatutnya anak bangsa ini harus cinta Indonesia. Bung Karno adalah seorang nasionalis, berkharisma dan menguasai 8 bahasa,” ujar Erny pada Liranews.com di Waroeng ATM Kranggan Bekasi baru-baru ini.

Bung Karno juga menyukai seni. Tak heran ada beberapa artis kerap menyanyi di Istana. Saat itu dia masih anak-anak, suka pakai kaus kaki, rambut dipakai pita. Penyanyi Istana itu seperti, Titi Puspa, Rita Zahara, Ivo Nilakreshna, Fatimah dan banyak lagi.

Dulu juga waktu ikut bapaknya, saat itu kerja di Deplu RI Singapore, usianya baru 11 tahun. Ketika ada HUT kemerdekaan RI, nuansanya sangat terasa. Setiap HUT kemerdekaan RI lagu Indonesia raya berkumandang.

Kemudian peralihan era Soeharto, dia pernah ditawari caleg anggota DPR-RI tapi dia tidak bersedia. Saat itu 60 persen partai dikuasai Golkar. Hanya yang bersedia adalah temannya sendiri yakni Lilies Suryani yang menjabat hingga 3 Periode DPR FG.

Sekarang, era reformasi ceritanya beda, apalagi era digital dan dikaitkan lagi pasca Pilpres 2019, hingga hasilnya disengketakan di  MK. Dia tidak membela salah satu pihak yang bersengketa. Intinya, kedua belah pihak bertanggung jawab untuk kedamaian negeri yang  akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ditegaskan, dalam persoalan apapun terjadi dinegeri ini, Erny tidak ingin ada campur tangan negara lain, seperti kerusuhan di Papua baru-baru ini. Bahkan dia sempat menangis melihat kerusuhan Papua.
Dia bertanya-tanya dan bisa merasakan, kalau begini terus, lalu bagaimana bangsa ini bisa berdiri kokoh tanpa rakyatnya bersatu dan rukun.

“Tidak mudah memimpin bangsa sebesar Indonesia. Beragam suku, agama, seni dan budaya,” katamya.

Jadi, semuanya menjaga persaudaraan, kasih sayang sesama, “Hablulminannas”. Juga tidak ada dendam, dengki, saling hujat dimedsos. tidak egois, balas dendam, penyebaran berita bohong atau hoax dan lain sebagainya. Yang jelas, semuanya untuk keutuhan bangsa ini.

Selain itu para pemimpin tidak hanya memikirkan diri sendiri, kroni-kroni. Tapi, harus memikirkan rakyat. Apalagi sebagai orang Muslim akan mempertanggungjawabkan  kepemimpinannya diakhirat nanti,  dihadapan Allah.

“Saat ini kita harus memperkuat keimanan. Agama kuat, bangsa ini terjaga dengan baik dan tidak terpecah belah,” terangnya.

Dengan kasih sayang, “Ar Rahman (Maha Pengasih) Ar Arhim” (Maha Penyayang). Jangan mencampuri urusan kepercayaan agama lain. Padahal dalam rukun iman itu harus percaya pada kitab-kitabnya itu. Kitab tersebut seperti Alquran, Injil, Taurat dan Zabur.

Erny lalu mengaitkan petuah, dalam agamanya, Islam “Arrahmanirrahim”. Sedangkan dalam ajaran Kristen yakni kasih sayang. Jadi, kutipan dari dua agama saja dulu, belum dikaitkan lagi dengan Hindu dan Budha.

Artinya, semua agama bagus. Untuk itu dia mengajak semua warga Indonesia bersatu menyelamatkan negeri ini. Jangan sampai negeri ini jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, termasuk negara asing.

Dia sedih melihat sesama anak bangsa saling bertikai seperti pasca Pilpres muncul kerusuhan Bawaslu. Lalu ditambah lagi dengan rasis pada mahasiswa di Surabaya hingga terjadi kerusuhan Papua. Padahal, saat itu baru saja memperingati kemerdekaan RI ke 74.

Yang jelas dia tak ingin kejadian terulang lagi. Artis saja bisa rukun dan damai kasih sayang seperti saudara, tidak ada persaingan. Intinya, semuanya bersatu, menjaga keutuhan bangsa, seperti yang dia alami era sebelumnya.

“Jadi, untuk membenahi bangsa dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga. Tapi serba salah diri sendiri yang membenahi tapi orang-orang lingkungan tidak menunjang,” kata dia.

Orang tua harus mengontrol anak dengan sedemikian rupa. Jangan anak itu hanya di perintah-perintah. Tapi orang tua harus memberikan contoh yang baik. Apalagi banyak anak muda salah pergaulan hingga seks bebas dan narkoba. Termasuk mereka yang terpapar pemahaman radikalisme.

“Semuanya balik lagi ke keluarga, orang tua,” tandas Erny.

Lain lagi dengan artis yang dikenal dengan tembang lawas “Bukit Berbunga” itu tidak ingin berkomentar lebih jauh tentang  persatuan dan kerukunan bangsa. Yang jelas, kata kakak Adi dan Iyut Bing Slamet, semuanya  berdoa kepada Allah agar negara ini kondisi aman dan kedepannya makin jaya.

“Kondisi dulu berbeda dengan yang sekarang. Yang jelas bangsa ini makin lama makin tentram. Makin jaya dan perekonomian semakin oke, Insya Allah,” ujar Uci singkat

Sementara itu, Brigjen Akmad Tamim Mustofa, mengatakan kepada Liranews.com dilokasi yang sama, semua pekerja seni tidak boleh terpecah belah. Perbedaan itu disatukan melalui kekuatan seni. Mempersatukan banyak genre-genre dari luar apapun bisa diadopsi, sharing sesuai dengan karakter bangsa Indonesia.

Dalam kehidupan bermasyarakat tentu dihiasi segala perbedaan. Kalau mau jujur, suatu perbedaan bukan untuk diperbedakan tapi untuk dipersamakan. Justru perbedaan itu ciri khas, sesuai Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu.

“Itulah Indahnya Indonesia karena orang bilang sepotong hidup itu ada di Indonesia. Sepotong bumi itu ada di Indonesia. Meski ada pihak-pihak yang berusaha memecah belah bangsa ini, maka dengan bahasa seni kita mempersatukan semuanya,” katanya.

Kehadiran Waroeng Rakyat Nusantara atau Waroeng ATM (Akhmad Tamim Mustofa), tujuannya untuk mempersatukan perbedaan warna kulit, suku, agama dan lain-lain. Artinya, Tamim memberikan ruang berkarya kepada artis-artis senior tanpa ada perbedaan.

Bahkan memberikan apresiasi kepada seniman asal Papua, dulu Irian Jaya, yang berkarya dinegeri ini.Lagu-lagu Papua banyak digemari oleh orang Jawa. Demikian juga, lagu Jawa digemari oleh orang Papua.

Di Waroeng Rakyat tidak peduli latar belakang sosial, suku, ras dan antar golongan. Semuanya menyatu dalam suatu wadah, Waroeng ATM untuk anak bangsa. Hal itu sudah dibuktikan dengan mengundang Grup Band Black Brothers. Mereka tampil selama dua jam.

Bila dikaitkan lagi dengan persoalan Papua, justru yang memperkeruh suasana adalah para provokator. Tujuannya adalah untuk memecah belah bangsa ini. Namanya bukan Indonesia tanpa Papua. Papua diharapkan jangan sampai terpisah seperti Timor Leste.

“Sekarang Timor Leste menyesal. Ingin gabung lagi, tapi tidak bisa. Mereka alami ketidakpastian ekonomi karena Australia sudah melepaskan diri juga dari Timor Leste,” pungkas Tamim.

Reporter: Abuzakir Ahmad.

Sat Sep 14 , 2019
Sampang, LiraNews – Kepolisian Daerah Jawa Timur belum lama ini melakukan mutasi maupun promosi jabatan perwira setingkat kabag,  kasat fungsi maupun kapolsek jajaran secara serentak termasuk pada Kepolisian Resort Sampang sebanyak 1 Kabag,  3 Kasat Fungsi dan 5 Kapolsek Jajaran. Serah Terima Tugas dan Jabatan dilaksanakan pada hari sabtu, 14 […]