Kiprah Nu Dan Muhammadiyah Redam Radikalisme Dipuji Di Norwegia

  • Whatsapp
banner 468x60

LiraNews, Oslo — Pergulatan Indonesia melawan arus intoleransi dinilai patut dijadikan teladan untuk memberantas akar radikalisme dan terorisme. Alasan itulah yang melandasi Universitas Oslo mengundang dua organisasi Muslim terbesar di tanah air, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, untuk memberikan paparan terkait pendekatan lunak deradikalisasi.

Dalam seminar yang diselenggarakan atas kerja sama antara KBRI Oslo dan Oslo Metropolitan University berlangsung beberapa waktu lalu. Ketua PBNU, KH Marsudi Syuhud dan Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Muti,  diundang memberikan ceramah. Selain dua tokoh ini, juga hadir Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid yang bergabung dalam panel pembicara di sesi tanya jawab.

Dubes RI untuk Norwegia merangkap Islandia, Todung Mulya Lubis saat membuka seminar menyampaikan betapa pengaruh NU dan Muhammadiyah berperan penting menghadang gelombang radikalisme yang perlahan membekap Indonesia.

“Saat ini jumlah anggota NU sekitar 60 juta dan Muhammadiyah sekitar 40 juta. Kalau ditotal berarti jumlahnya sekitar 38,46 persen dari total penduduk Indonesia. Dengan prosentase yang cukup besar tersebut, peran kedua organisasi ini memiliki arti penting sebagai kekuatan untuk menjaga keutuhan NKRI,” ujar Dubes Todung.

Todung menambahkan bahwa kekuatan sebuah negara sangat dipengaruhi oleh kekuatan masyarakat sipilnya. Jika masyarakat sipilnya kuat maka otomatis akan kuat pula negaranya. Untuk itu NU dan Muhammadiyah punya andil besar untuk menjaga masyarakat sipil Indonesia yang toleran dan berkemajuan.

Pada seminar ini, KH Marsudi menjelaskan tentang konsep Islam Nusantara yang merefleksikan bentuk Islam moderat. Konsep Islam Nusantara yang mempromosikan nilai-nilai dasar Islam seperti  “jalan tengah” (tawasuth), berkeseimbangan (tawazun), dan toleransi (tasamuh) merupakan norma yang ditumbuhkembangkan untuk memelihara perdamaian dan persatuan bangsa Indonesia di tengah kemajemukan yang sangat kompleks.

Di sisi lain, Muti menjelaskan bahwa meskipun menggunakan pendekatan yang berbeda, Muhammadiyah juga mengenalkan konsep Muslim yang moderat, damai dan makmur. Menurutnya setiap Muslim memiliki tangung jawab terhadap pribadinya, masyarakatnya dan negaranya.

“Sebagai individu, setiap muslim bebas menjalankan amal ibadah sesuai ajaran yang diyakininya. Namun, harus diingat bahwa kebebasannya itu juga dibatasi dengan tanggung jawabnya sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Dia harus tunduk pada norma sosial masyarakat serta hukum positif yang diatur oleh negara,” jelas Muti.

Sementara Yenny Wahid, pada sesi tanya jawab menyinggung peran NU dan Muhamadiyah dalam mengkonter fenomena hoaks dan fakenews yang marak di sosial media.

Tantangan besar kita adalah bagaimana memainkan peran lebih besar di sosial media. Kita dituntut bisa membuat kontra narasi dan kontra identitas untuk menangkal berbagai hoaks dan pemberitaan keliru di media sosial.

“Anak muda sekarang kan semangatnya pengen jadi “hero”. Untuk menjadi hero mereka cenderung mencari “enemy”. Tugas kita adalah mendorong mereka untuk menemukan identitas yang tepat, sehingga mereka bisa menentukan dengan benar siapa yang patut dijadikan musuh dan siapa hero sesungguhnya,” kata Yenny.

Yenny juga menyebutkan bahwa kelompok radikal padahal jumlahnya tidak banyak tapi heboh, dan bisa menguasai media (noisy minority). Sementara mayoritas muslim Indonesia saat ini lebih cenderung tenang dan diam (silent majority) menjalankan rutinitas sehari-hari. Sehingga, pengaruh kelompok mayoritas ini di media sosial belum terlalu besar.

“Sudah saatnya kita berfikir untuk mentrasnformasi Silent Majority untuk bisa menjadi Noisy Majority,” pungkas Yenny. **

banner 300x250

Related posts

banner 468x60