Komisi VIII DPR Bahas UU Baru, Ace Syadzily: Fokus Pada 1.000 Hari Pertama Janin Bayi

Jakarta, LiraNews– Komisi VIII DPR RI merasa berbahagia karena hari ini telah diputuskan satu undang-undang (UU) di mana UU tersebut sesungguhnya menjadi tonggak awal dari upaya kita untuk membangun kualitas manusia Indonesia. Saya katakan ini merupakan tonggak utama bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia karena UU ini mempertegas bagaimana negara hadir memastikan agar Indonesia memiliki SDM yang kuat.

Pada awalnya UU ini dinamakan UU Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA), namun di tengah proses pembahasan kami mempertajam ruang lingkup pembahasan kesejahteraan ibu dan anak ke dalam satu ruang lingkup yang lebih spesifik yaitu 1.000 hari kehidupan. Dari mulai seseorang ada di dalam perut lebih tepatnya adalah mulai terbentuk janin hingga berusia 2 tahun.

Jadi kalau dihitung dalam fase kehidupan itu dari mulai terbentuk janin di dalam perut seorang ibu hingga berusia 2 tahun maka negara wajib memperhatikan keberadaan seorang ibu dan anak yang ada di dalam rahim seorang ibu tersebut sampai kemudian dia berusaha berusia 2 tahun.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Tb. Ace Hasan Syadzily saat menjadi narasumber Diskusi Forum Legislasi DPR RI bertema “RUU KIA: Komitmen DPR Wujudkan SDM Unggul” di Ruang PPIP, Gedung Nusantara 1, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/6/2024).

Ace menuturkan, Komisi VIII DPR RI mempertajam pembahasan UU ini pada 1.000 hari kehidupan, karena secara spesifik kita sudah memiliki UU tentang Perlindungan Anak.

“Secara spesifik kita telah memiliki UU Perlindungan Anak, nah setelah itu bagi yang berusia di atas 2 tahun itu sudah ada undang-undangnya ya, namun yang secara spesifik membahas atau ruang lingkupnya usia kita tidak sebut bayi karena kalau bayi kan setelah keluar dari rahim,” kata Politisi Partai Golkar ini.

Ace menyatakan, urgensi dari UU baru ini adalah masih tingginya angka stunting di Indonesia.

“Karena kenyataannya hari ini yang namanya stunting di Indonesia masih menjadi masalah serius, kita tidak mungkin akan menjadi negara maju kalau stunting kita ini masih sangat tinggi,” ujar Ace.

Ace meyakini Indonesia tidak akan dapat mengatasi masalah stunting kalau tidak diselesaikan pada hulunya.

“Hulunya itu adalah di mana hulunya itu adalah pada saat orang mulai ada di dalam kandungan sampai usia 2 tahun, itu adalah masa atau fase yang paling krusial bagi tumbuh kembang anak,” jelas Ace.

Ace menjamin, Komisi VIII DPR RI memberi perhatian serius terhadap kualitas SDM Indonesia yang akan unggul kalau sejak dari dalam rahim sudah diurus dengan sebaik-baiknya oleh negara.

“Tentu bukan hanya anaknya tetapi juga ibunya, ibunya menjadi sangat penting untuk diurus terutama pada saat sedang mengandung, sedang hamil. Pada saat seorang perempuan lagi hamil tentu asupan gizinya penting untuk diperhatikan gitu kan, makanannya penting untuk diperhatikan, karena apa yang dimakan oleh seorang ibu itu pasti akan mempengaruhi terhadap janin yang dikandungnya, apa yang diminum oleh seorang ibu maka itu pasti akan mempengaruhi terhadap janin yang dikandungnya,” papar Ace.

Satu hal yang menjadi terobosan pada UU baru ini, ungkap Legislator asal Dapil Jabar 2 ini, adalah seorang suami diberikan cuti sebanyak dua hari pada saat istrinya melahirkan.

“Kenapa penting sekali memberikan cuti hamil bagi suami? Karena tanggung jawab mengelola atau mengurus anak itu bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga tanggung jawab dari seorang ayah yang ini memang tidak diatur di dalam UU yang lain, tetapi di dalam UU baru ini ditegaskan seorang suami diberikan hak cuti untuk mendampingi istri yang sedang melahirkan selama dua hari dan dapat diperpanjang ya tambahan 3 hari jika memang menuntut untuk didampingi oleh suaminya,” pungkas Ace Hasan Syadzily. LN-RON

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *