Korwil LSM LIRA Sulut Pertanyakan Ilegal Mining Belum Ditindak Aparat Penegak Hukum?

  • Whatsapp
banner 468x60

Bolmong, LiraNews – Sorotan demi sorotan terus saja disuarakan oleh berbagai LSM yang begitu prihatin melihat adanya kondisi aktivitas pertambangan emas tanpa ijin ( PETI ) yang kian menggurita di Bolaang Mongondow Raya ( BMR ).

Bahkan Korwil LSM LIRA Sulut, Moh Efendi Mokodompit SE.MM mempertanyakan mengapa ilegal mining belum ditindak oleh aparat penegak hukum?

Read More

banner 300250

“Sementara menurut mereka perusakan hutan terus terjadi dan dilakukan oleh oknum cukong dengan menggunakan puluhan alat berat excavator di beberapa lokasi PETI,” ujar Efendi.

Ketua LP2BM Ali Imran Aduka memberi contoh di lokasi Potolo, Lokasi Gunung Rumagit dan beberapa lokasi lainnya tepatnya berada di Kecamatan Lolayan ( Bolmong-red), khususnya di wilayah Bolaang Mongondow Raya ( BMR ) keberadaan PETI sudah menjadi rahasia umum.

Terlebih wilayah ini cukup menjanjikan, berlimpahnya material batu yang mengandung emas ini, menyebabkan aktivitas ilegal mining begitu bebas dilakukan tanpa melihat dan memperdulikan apa yang nantinya bakal terjadi dikemudian hari.

“Bila hutan telah rusak dan aparat penegak hukum pun terkesan tak berkutik menangkap para pelaku PETI. Logam mulia berjenis emas di lokasi kawasan hutan Gunung Rumagit dan Potolo seakan menutup mata para pihak yang memiliki peran untuk menindak,” katanya.

Penilaian ini, menurutnya, bukan hal yang keliru, sebab, sampai hari ini pengarukan material batu yang mengandung emas tersebut masih berjalan.

“Oknum cukong juga membuat bak rendaman dengan ukuran berskala besar di lokasi yang di maksud yang sudah tentu pelaku PETI ini pasti menggunakan bahan kimia B3,” pungkas Ali Imran Aduka.

Senada dikatakan Ketua Devisi Intelijen dan Investigasi LP2KP Ahmad Derek Ismail, bahwa Sulawesi Utara sangat terkenal dengan kekayaan SDA yang berlimpah ruah. Kandungan emas yang ada di Sulut dari data Potensi Sumber Daya Mineral dan Migas, khususnya emas berkisar 51,150,448 ton tersebar di Bolmong Raya, dan Sekitarnya.

Derek Ismail mengatakan, bahwa akibat besarnya kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) di Sulut ini, seolah memberi ruang dan mengguritanya ilegal mining yang hingga kini belum dilakukan penindakan yang terukur. Terutama di wilayah BMR yang kian hari bukan berkurangnya PETI sebaliknya terus bertambah. Maka ini seperti menciptakan bencana besar bagi masyarakat yang hidup dan tinggal berdekatan dengan lokasi PETI yang di olah oleh para cukong.

”Pak Kapolri diminta tindak aktivitas ilegal mining di wilayah bolaang Mongondow ( Bolmong). Kalau kegiatan ilegal mining tersebut dibiarkan, sama halnya negara ikut menciptakan bencana besar bagi rakyatnya sendiri, ketika hutan tidak lagi dijaga dan dilestarikan serta sudah dirusak oleh para oknum pelaku ilegal di tanah totabuan,” cetus Derek Ismail.

Masih kata Derek, untuk pengawasan pengolahan pertambangan di Sulut masih jauh dari kata “Baik”. Pasalnya masih banyak persoalan yang muncul dimasyarakat akibat lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah maupun aparat penegak hukum atas aktivitas liar alias ilegal.

Beber Derek, maraknya Pertambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) di BMR, telah banyak memakan korban Jiwa. Berjudi nasib di kedalaman tanah sudah tak asing lagi bagi mereka ( Penambang) meskipun nyawa jadi taruhannya.

Anehnya, ujar Derek, para penambang lokal ditindak dan ada beberapa sempat di jebloskan ke dalam penjara akibat menambang di lokasi areal terlarang. “Namun, cukong cukong ( Pemodal ) yang datang berjudi nasib dan menggunakan alat berat di areal terlarang di Bolmong seolah dibiarkan begitu saja. Ada apa?” tanya Ahmad Derek Ismail pada awak media.

Dia minta Kapolri tangkap pelaku ilegal mining, karena Negara harus hadir untuk melindungi hutan di BMR. Khususnya Sulawesi Utara.

Perlu diketahui sebelumnya di zaman kepemimpinan Kapolda Irjen Pol Royke Lumowa SH, Pertambangan Emas Tanpa Ijin ( PETI) ditutup dan beberapa aktivitas Ilegal Mining di sapu bersih olehnya.

Penindakan terukur oleh sang jenderal ini kepada pelaku PETI cukup menyedot perhatian publik (masyarakat) Sulut, Lebih Khusus BMR. Namun kemudian tiba tiba masyarakat dikabarkan bahwa bersangkutan mendapat mutasi dan dipindah tugaskan di Mabes Polri.

Seiring dengan hal itu, aktivitas PETI kembali menggurita lagi. Bahkan beberapa lokasi hutan di BMR tak tanggung tanggung di bongkar menggunakan excavator. Inilah yang diharapkan negara hadir untuk melakukan penegakan hukum dan tangkap para pelaku PETI yang merusak hutan dan melakukan kegiatan ilegal tanpa ijin. LN-TIM

banner 300x250

Related posts

banner 468x60