Kpa: Dialog Interaktif Memutus Mata Rantai Kekerasan Terhadap Anak

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:

LiraNews.Com

Bagikan:

LiraNews, Surabaya — Kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia terus meningkat. 58% didominasi oleh kejahatan seksual. 82% persen pelakunya adalah orang terdekat dan 16% diantara pelaku adalah usia anak. Selain dilakukan secara sendiri-sendiri tetapi juga dilakukan oleh orang dewasa maupun anak secara bersama atau bergerombol (gangRAPE).

Selain pelakunya adalah orang terdekat anak, pemicu (triger) terjadinya kekerasan khususnya kekerasan seksual adalah merajalelanya tayangan atau konten-konten pornografi dan pornoaksi, narkoba dan minuman keras.

Sebarannya pun merata dari desa dan di kota serta penegakan hukum untuk kasus-kasus kekerasan terhadap anak masih sangat lemah, sehingga seringkali para predator terlepas dari jeratan hukum, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak dihadapan 300 peserta Seminar dan Diskusi Interaktif Memutus Mata Rantai Kekerasan Terhadap Anak yang diselenggaran Darma Wanita Pembangunan (DPW) Surabaya bekerjasama dengan Komnas Perlindungan Anak dan PAUD Institute di gedung Darma Wanita Surabaya Kamis (16/5/2019).

Bunda Lis Hendro selaku Ketua DPW Surabaya dalam kata sambutan dan presentasinya menyampai pesan moral kepada ratusan ibu-ibu peserta diskusi. Ibu Hendro megajak semua peserta seminar, selepas acara diskusi ini diharapkan seluruh peserta seminar dapat mengambil peran dan fungsi untuk memulai gerakan memutus mata rantai kekesan terhadap anak dilingkungan rumah dan sekolah. Tanggungjawab memberikan perlindungan bagi anak adalah tanggungjawab bersama keluatga dan masyarakat. Memberikan yang baik bagi anak belum tentu dibutuhkan oleh anak itu sendiri. Oleh sebab itu berikanlah kepada anak yang dibutuhkan anak.

Sementara itu Ibu Chin Chin, seorang ibu rumah tangga dan aktivist pegiat perlindungan Anak di Surabaya dalam testimoninya dihadapan ratusan ibu-ibu peserta seminar yang berprofesi sebagai guru dan pegiat perlindungan anak, menyampaikan pengalamannya mendidik anak dan menghadapi konflik keluarga, “janganlah tanamkan nilai-nilai atau ajaran-ajaran kebencian terhadap anak kita sekalipun kita sebagai orangtua telah berpisah karena perceraian, karena itu dapat berdampak negatif bagi perkembangan psikologis anak dimasa depan”.

Danang Sasongko Direktur PAUD Institute dalam presentasinya menyampaikan terjadinya kekerasan terhadap anak dilingkungan rumah dalah satunya karena orangtua berlaku kasar, tempramental, otoriter dan seringkali tidak ber syukur terhadap potensi yang dimiliki anak. Seringkali posisi anak ditempatkan pada posisi anak bermasalah, bukan ditempatkan pada posisi anak yang membawa solusi.

Diakhir acara diskusi interaktif, para pemateri dan peserta seminar mengajak untuk bersama-sama membangun gerakan perlindungan anak di masing-masing desa, kelurahan, rumah, lingkungan masyarakat dan sekolah yang diintegrasikan dengan program dan anggaran desa. Sehingga para predator dilingkungan anak dapat dipantau dan dilokalisir.

Arist dalam “closing statementnya” mengingat kejahatan seksual terhadap anak merupakan kejajatan luar biasa dan penanganannya juga harus luar biasa dan disetarakan dengan tindak pidana korupsi, narkoba dan terorisme, mengajak peserta seminar untuk memberikan kepedulian terhadap perlindungan anak sebagaimana dimaksud pasal 78 UU RI Nomor 35 tahun 2015 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penerapan Perpu No. 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dimana predator kejahatan seksual terhadap anak dapat dikenakan hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati.**

Bagikan:
Komentari Melalui Facebook
Fri May 17 , 2019
LiraNews.Com