KPK Tetapkan Emirsyah Tersangka Pencucian Uang

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Jakarta, LiraNews – Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) menetapkan mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, dan eks Dirut PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang ( TPPU).

Penetapan tersangka dilakukan KPK setelah melacak suap dan penerimaan hadiah dari pihak-pihak terkait. “KPK menemukan adanya fakta baru, adanya program peremajaan di empat pabrikan pada periode 2008-2013 ketika yang ESA (Emirsyah Satar) menjadi direktur,” kata Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif saat konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Rabu (7/8).

“Dari hasil penyelidikan, KPK menetapkan ESA (Emirsyah Satar) dan SS (Soetikno Soedarjo) dalam tindak pidana pencucian uang,” ujar Laode M Syarif.

Penetapan tersangka juga dilakukan KPK berdasarkan pengembangan penyidikan terhadap Direktur Teknik Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia, Hadinoto Soedigno (HDS). “Uang itu diperoleh SS karena berhasil menggolkan kontrak antara empat pabrikan itu dengan PT Garuda Indonesia. SS kemudian membagikan komisi itu ke ESA dan Direktur Teknik Garuda HDS (Hadinoto Soedigdo),” kata Laode.

Soetikno juga merupakan beneficial owner pada Connaught International Pte Ltd, sebuah perusahaan yang berdomisili di Singapura. Dalam kasus ini, Emirsyah diduga telah menerima komisi dari Soetikno senilai Rp5,9 miliar, US$680 ribu dan US$1,02 juta. Suap tersebut, menurut KPK, berwujud uang dan barang yang tersebar di Singapura dan Indonesia. Sebagian dari uang itu, digunakan melunasi pembelian apartemen milik Emirsyah Satar di Singapura.

“Suap tersebut diduga berkaitan dengan pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus yang dipesan sepanjang dirinya (Emirsyah) menjabat sebagai Dirut (Garuda Indonesia),” tutur Laode. “Jadi, ada tambahan pasal TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) bagi ESA dan SS,” tambahnya.

Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo diduga melanggar Pasal 3 atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Emirsyah Satar telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK sebelumnya, setelah diduga menerima suap dalam bentuk transfer uang dan aset yang nilainya diduga lebih dari 4 juta dollar AS, atau setara dengan Rp52 miliar dari perusahaan asal Inggris Rolls-Royce.

Suap tersebut diduga terkait pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik Garuda Indonesia pada periode 2005-2014. Uang dan aset yang diberikan kepada Emir diduga diberikan Rolls-Royce agar perusahaan asal Inggris tersebut menjadi penyedia mesin bagi maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia.

Sedangkan, Soetikno sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga menjadi perantara suap dari Rolls-Royce kepada Emir. Beberapa aset dan uang yang ditransfer kepada Emir diduga dilakukan menggunakan perusahaan milik Soetikno di Singapura

 

 

Fri Aug 9 , 2019
Jakarta, LiraNews —  Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo mengaku merasa heran dengan berita yang mengatasnamakan dirinya yang menyalahkan kebijakan bupati di Sidrap, Sulawesi Selatan (Sulsel). Tjahjo menegaskan tidak pernah mengeluarkan pernyataan apapun yang menyalahkan apapun soal Sidrap. Berita-berita yang menyebar dengan mencatut dirinya tidak benar, alias hoax. “Rasanya saya […]