Lintas Budaya Indonesia, Titik Api Kecil Untuk Melakukan Perubahan Bagi Nusa Dan Bangsa

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, liranews.com – Lintas Budaya Indonesia (LBI) mengadakan acara silaturrahim di kediaman Dewan Pembina LBI, HM. Jusuf Rizal di kawasan Radar Auri, Cibubur, Jaktim, beberapa waktu lalu. Acara yang berlangsung akrab dan kekeluargaan dihadiri Ketua Dewan Pembina LBI Ibu Niniek L Kari, Boy Tirayoh, Ratna Listy, Sekjen LBI Ratu Ike Kartiwa dan beberapa pengurus dan anggota LBI.

LBI dibentuk pada dua bulan sebagai tempat berkumpulnya orang-orang seni budaya untuk bersinergi dalam menyatukan potensi-potensi yang ada. Lalu bagaimana LBI berkiprah ke depannya, Jusuf Rizal menjelaskan, bahwa ketika akan sebuah organisasi akan dihidupkan harus jelas tujuannya.

“Jangan sampai hanya sekedar berkumpul, kemudian menjadi ajang gossip,akhirnya pecah-pecah lagi dan tidak menemukan sesuatu yang substansinya,” ujar JR sapaan akrab Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) ini.

JR berharap pertemuan ini bisa menadi titip api kecil yang nanti membesar untuk melakukan perubahan bagi nusa dan bangsa. Perubahan bagi kita semua, dan mampu berkontribusi bagi pengembangan umat manusia,” ujarnya

Menurutnya, ada tiga pilihan jika kita ingin berkumpul. Pertama, apakah kita ingin membikin LSM, apakah membikin ormas atau yayasan. Ketiga-tiganya memiliki kelemahan dan kelebihan. Kalau yayasan bersifat terbatas tetapi punya peluang-peluang dalam rangka pengembangan usaha.

Kalau LSM tidak berbadan hokum akan mengalami kesulitan ketika melakukan deal-deal bisnis karena harus berbadan hokum. Sedangkan kalau berbadan hokum menjadi ormas atau badan perkumpulan. Maka diatur ada pengawas dan pengurus. Demokrasinya ada di rapat pengurus. Tinggal dipilih saja seperti apa?

“Yang jelas pilihan itu berdasarkan masukan-masukan mana yang dipilih untuk memperoleh legalitas  agar nanti di dalam aktivitas itu bisa berkembang tidak hanya di dalam forum yang hanya bersentuhan di dunia maya terus,” imbuhnhya.

LBI, lanjutnya, jangan sampai bergerak tanpa gerakan tetapi bergerak yang punya gerakan. Tentu dengan banuak ide-ide yang disampaikan untuk diramu menjadi pemikiran strategis agar nanti organisasi ini benar-benar bisa bermanfaat.

Sementara itu, Niniek L Karim menjelaskan, saat ini sedang berkembang budaya maya. Oleh karena itu tidak ada lagi batasan-batasan yang jelas. Ketika diundang untuk hadir dalam acara LBI, Naniek mempertanyakan kenapa dirinya bisa bergabung dalam kumpulan ini.

“Kenapa pertanyaan itu muncul, di zaman dulu mungkin kita tidak terlalu merasa harus bertanya demikian. Menurut saya, LBI ini harus jika betul-betul inign mengajak masyarakat Indonesia menuju kearah yang lebih baik, marilah kita membuat suatu ketentuan bahwa LBI ini mau kemana, dimana, siapa, lalu mau apa. Sehingga kita punya batasan-batasan yang jelas, dan ketika kita berkomunikasi walaupun di dunia maya sudah ada aturannya,” ujar dosen Psikologi Universitas Indonesia itu.

Di dalam dunia cyber ini, katanya, apa yang harus menjadi pegangan agar bisa tetap berkomunikasi dengan baik. Misalnya, mengapa agama itu diciptakan? Naniek menjelaskan, untuk mengatur agar kita bisa berhubungan satu sama lain dengan damai.

Untuk itu, ia mengingatkan, jangan sampai di dunia cyber yang sekarang sudah menjadi budaya di dunia ini kita biarkan dimana kita tahu bahayanya.

“Kita tidak tut wuri handayani dan membiarkan menjadi liar sehingga anak-anak kita saling membunuh, mereka belajar untuk survive harus kasar, vulgar, sikut menyikut, memfitnah dan sebagainya. Marilah kita menjadi suatu perkumpulan manusia kesitu arahnya, Insya Allah saya akan selalu berada disini,” katanya.

Sebelumnya, Dewan Pembina LBI, Prof. Dr, Marsudi Wahyudi Kisworo mengatakan, masyarakat kita ini sedang dihadapkan gonjang ganjing perang proxy yang direkayasa bahkan digambarkan Indonesia akan terpecah menjadi tujuh Negara.

Mungkin kelompok kita ini kecil, tetapi dengan kelompok kecil ini bukan berarti kita orang kecil. Maka perlu dilakukan kegiatan-kegiatan bagaimana menjadi bangsa besar yang harus tetap menjadi satu.

Karena mengerikan sekali jika perpecahan terjadi. Ada skenario jangka pendek jika Freeport tidak diperpajanng, maka tahun 2019 itulah akan dimulai. Lapangan rumput yang sudah ada minyaknya ini tinggal disulut.

“Hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi, maka perlu kita lakukan kegiatan-kegiatan kebudayaan bisa melalui film, musik untuk menyadarkan kita sebagai suatu bangsa. Diharapkan keberadaan LBI bisa membawa manfaat kepada bangsa dan Negara kita dan kepada umat manusia,” ujarnya.

Dedy Setiadi mengungkapkan, dirinya dulu hidup di zaman Soekarno sampai sekarang. Ada zaman yang saya lalui itu sangat amat luar biasa kebudayaan dikuasai budaya Indonesia. Bahkan anak-anak muda sangat menyukai lagu=lagu daerah.

Karena memang masyarakat kita waktu itu belum terkontaminasi dengan penyanyi luar. Dan Soekarno sendiri merangsang orang-orang untuk mencintai seninya. Contohnya, pada 17 Agustus orang-orang yang jago nari di daerah punya kesempatan untuk tampil di istana.

“Kalau sekarang saya melihat sangat membosankan karena setiap meryakan 17 agustusan ada yang minta sumbangan untuk lomba balap karung dsb. Kenapa bangsa ini begini terus tidak pernah berubah. Ayo kita adakan lomba puisi tentang kemerdekaan, sehingga ada kecintaan kita pada kemerdekaan,

Pada 17 Agustus, katanya, merupakan hari yang dihormati untuk mengenang sejarah kemerdekaan dengan memunculkan seni budaya, Kita memberikan motivasi agar generasi muda kita mencintai budaya sendiri.

“LBI perlu melakukan kreatifitas untuk merangsang generasi muda mencintai busaya Indonesia dengan mengadakan lomba seni budaya, tari untuk sekolah se Indonesia. Kita yang mensponsori untuk menumbuhkan kembali dengan memodifikasi seni budaya tradisional menjadi modern. Sehingga tidak monoton,” pungkasnya. –LN-IKE

 

 

banner 300x250

Related posts

banner 468x60