LSM LIRA Desak KPK Segera Tuntaskan Dugaan Korupsi di UIN Sumut Puluhan Milyar

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Jakarta, LiraNews —- Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat), HM. Jusuf Rizal mendesak KPK segera tuntaskan dugaan KKN (Korupsi, Kokusi dan Nepotisme) di UIN (Universitas Islam Negeri) Sumatera Utara Puluhan milyaran rupiah. LSM LIRA akan kawal kasus ini dan akan melakukan aksi demo jika KPK dan Penegak hukum lain diam.

“LSM LIRA memiliki komitmen untuk terus konsisten membantu Pemerintahan Jokowi-KH. Ma’ruf Amin memberantas KKN. Di Sumut salah satu daerah terkorup karena lemahnya pengawasan dan main mata antara eksekutif, legislatif dan yudikatif,” tegas pria berdarah Batak-Madura yang juga Ketua Presidium Relawan Jokowi-Amin The President Center di Jakarta kepada media.

Menurut Penggiat anti korupsi itu, sesuai arahan Presiden Jokowi pemberantasan korupsi harus diperkuat agar program Visi Indonesia melakhirkan SDM Unggul untuk mendorong Indonesia Maju dapat tercapai. Masalahnya, bagaimana mungkin bisa tercapai bila lembaga pendidikan penghasil SDM Unggul justru dikorupsi.

 

Sebagaimana laporan di Polda Metro Jaya sejumlah elemen penggiat anti korupsi akan melakukan unjuk rasa Copot Rektor dan Usut Tuntas Segala Tidak Pidana Korupsi di UIN Sumatera Utara. Massa berjumlah 100 orang itu turut mendesak KPK segera turun tangan.

“LSM LIRA mengapresiasi gerakan masyarakat yang masih banyak peduli tentang kemajuan Kota di Sumut. Ini menunjukkan bahwa Civil Society Organization (CSO) tidak semua bisa dibungkam oleh oknum-oknum pelaku korupsi. Sebagai Presiden dan Pendiri LSM LIRA, saya minta kader-kader di Sumut tetap pro pemerintah, namun kritis dan independen,” pria yang kerap dipanggil Ucok itu memberi komentar aksi.

Adapun materi atas dugaan Korupsi di UIN Sumut, lanjut Sekjen DPP Perkumpulan MOI (Media Online Indonesia) itu antara lain dugaan korupsi mark up proyek penerimaan karyawan cleaning service tahun 2019, dianggarkan sebanyak 95 orang dengan gaji sebesar Rp 2.528.000 perbulan, namun karyawan yang bekerja diduga tidak sesuai dengan jumlah yang ditetapkan, diduga hanya 60 orang.

Kemudian, dugaan honor yang ditentukan untuk 95 orang, perbulannya hanya menerima gaji sebesar Rp 1.400.000 dengan dalih masih masa trening selama enam bulan, padahal masa trening diduga tidak ada dalam anggaran.

Dugaan korupsi menyambut lebaran, mereka terima THR (Tunjangan Hari Raya) sebesar Rp 1.300.000 yang seharusnya sebesar Rp 2.528.000. Selanjutnya untuk pakaian yang disediakan sesuai anggaran masing-masing 2 set. Namun realita yang diterima diduga hanya 1 set per orang.

Dugaan pengadaan outsourcing cleaning service indor dan outdor Kampus I dan II UIN SUmut tahun 2017 dengan nilai pagu Rp 2,7 miliar dengan volume 8 bulan. Dugaan pengadaan outsourcing cleaning service indor dan outdor Kampus I dan II UIN Sumut tahun 2018 dengan nilai Rp 3,7 miliar dengan volume 12 bulan.

Dugaan korupsi biaya tamu Rektor UIN Sumut tahun 2017 senilai Rp 1,7 miliar diduga tidak jelas realisasinya penggunaan anggarannya. Dugaan korupsi biaya tamu Rektor UIN Sumut tahun 2018 senilai Rp 1,8 miliar diduga juga tidak jelas realisasinya.

Dugaan pembangunan gedung kuliah terpadu Kampus II UIN Sumut tahun 2018 bernilai HPS sebesar Rp 45.766.730.079 diduga tidak selesai 100% . Dugaan program pengangkatan 9 orang BLU UIN Sumut yang terindikasi tidak melalui testing, dan telah terjadi KKN di UIN Sumut.

Dugaan korupsi proyek pagar Kampus Sutomo UIN Sumut sekira Rp 2,2 miliar yang telah habis masa kontraknya dan pembangunanya tidak sesuai dengan RAB atau menempel dengan pagar yang lama (mark-Up) pada September 2019 telah habis kontrak.

Dugaan pengecoran jalan Kampus I UIN Sumut Jalan Sutomo dengan pagu Rp 1,4 miliar yang telah habis kontrak September 2019. Dugaan pungli CPNS UIN Sumut tahun 2018 Rp 6.000.0000 per orang dengan kedok “wakaf paksa” untuk ambal masjid di Kampus I UIN Sumut Jalan Sutomo.

Dugaan pungli CPNS UIN Sumut tahun 2019 sebesar Rp 8.000.000 per orang sebanyak lebih kurang 86 orang untuk “wakaf paksa”. Dugaan kepemilikan kos-kosan mewah di Desa Laut Dendang yang diduga hasil dari money laundri(pencucian uang).

Tim Pokja UIN Sumut yang diduga “main mata” dalam pemenangan pemborong penganten penguasa oleh inisial MZ dan AH Nst. Dugaan uang makan yang dikemudikan oleh Fitri Fatima Kabag Kepegawaian UIN Sumut. Dugaan monopoli proyek pekerjaan langsung (PL) di UIN Sumut yang diduga dikomandoi oleh Asrul, salah seorang konsultan di UIN Sumut yang bergaji Rp 15.000.000 per bulan. Padahal tidak memiliki legalitas menjadi konsultan.

Terakhir, dugaan pungli pemanjaran paksa Asrama Mazonet terhadap pejabat UIN Sumut Rp 10.000.000 per orang

“Mempelajari atas dugaan Korupsi di UIN Sumut, tidak ada celah buat KPK untuk tidak menindaklanjuti kasus ini secara tuntas. LSM LIRA menengarai ada pihak-pihak tertentu yang mencoba agar kasus ini dipetieskan. Untuk itu, LSM LIRA mendesak KPK segera tuntaskan,” tegas pria yang dikenal tegas kelahiran Kotanopan, Tapsel, Sumut itu. LN-TIM

Wed Nov 13 , 2019
Jakarta, LiraNews – Kasus serangan teror bom bunuh diri di Polrestabes Medan adalah kasus serangan teror bom pertama di era kedua kepimpinan Jokowi sebagai presiden. Sebelumnya ada serangan teror penikaman terhadap Menko Polhukam Wiranto yg pelakunya juga berasal dari Medan. “Dua kasus serangan teroris ini, terutama kss serangan bom di […]