Melawan Radikalisme, Pertahankan Persatuan dan Kerukunan

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Jakarta, LiraNews – Berbicara tentang persatuan dan kerukunan bangsa, bagi Dosen Komunikasi Fisip UI Ade Armando, adalah sesuatu hal yang harus ditangani dengan serius, kerja keras dan lain-lain. Terutama gerakan radikalisme karena gerakan ini sangat mengkhawatirkan.

Kata dia, semua pihak harus balik lagi mengingat, itu sebuah “mission”, bangsa ini sudah menyatakan kesepakatan bahwa negeri ini terdiri dari beragam suku bangsa dan beragama yang semuanya sejajar.

“Nah, konsep “mission” ini yang terus kita pertahankan. Ini terancam adanya kelompok-kelompok gerakan radikalisme itu,” ujar Ade Armando pada Liranews.com di Jakarta, belum lama ini.

Munculnya gerakan radikalisme itu karena mereka ada kesempatan  melakukan radikal. Kalau pada masa pemerintahan otoriter itu dilarang. Beda dengan saat ini, yakni dibukanya kran ruang demokrasi sejak era reformasi 1998 oleh Almarhum Presiden Ketiga RI Professor BJ Habibie.

Jadi, dalam demokrasi memberikan ruang pada semua, pada elemen masyarakat termasuk kelompok-kelompok gerakan itu. Artinya, Semua pihak harus menyadari dalam demokrasi memberikan ruang pada pihak yang demokratis.

Makanya Ade setuju dengan pernyataan dari Kapuspen Kemendagri Bachtiar, bahwa demokrasi ini yang melelahkan. Artinya, semua pihak menghadapi pula dengan demokratis.

Tapi kalau ini memang sukses dan berhasil mengatasinya, maka radikalisme bisa berkurang. Masyarakat harus diedukasi atau diyakinkan pentingnya dengan kesadaran kebangsaan.

“Jadi, keberhasilan mengawasi krisis berdemokrasi, membuat bangsa ini akan maju dan bertahan waktu seterusnya,” katanya.

Untuk bertahan, pemerintah harus melawan kehadiran idiologi lainnya itu. Idiologi selain Pancasila. Artinya, orang-orang harus diajarkan, agama itu bukan untuk memecah belah. Melainkan, ajaran agama itu untuk perdamaian yaitu untuk menjalin persatuan dan kerukunan dan memahami perbedaan.

Jangan sampai perbedaan agama itu saling membenci. Artinya, ajaran-ajaran agama itu yang harus dilakukan reinterpretasi. Penafsiran ulang terhadap agama yang mereka percaya itu.

Sebenarnya, gerakan radikalisme di Indonesia sudah berkembang sejak 15 tahun lalu. Gerakan sebelumnya belum ada media sosial. Makanya, Gerakan ini harus dilawan dengan cara memantau kegiatan dikampus, lewat televis, lewat buku, Masjid dan lain-lainnya.

Gerakan radikalusme pelan-pelan dari bawah, digerakan di akar rumput, hingga terus berkembang. Dilihatnya, sekarang gerakan ini sudah sangat besar. Jadi, pengawasan atau perintah itu dari atas kebawah. Jangan biarkan masyarakat sendiri yang harus bekerja.

“Harus bekerja keras. Pemerintah mengganti penceramah di Masjid yang lebih menyejukan para jamaah,” tambah dia.

Pemerintah harus memantau  Masjid-Masjid yang menjadi pusat pergerakan radikalisme. Apabila ada maka penceramah diganti. Ini tugasnya Dewan Masjid yang diketuai oleh Wapres Jusuf Kalla. Dari Dewan Masjid pun dilihatnya belum melakukan pengawasan.

Dia berharap, pemerintah bisa melakukan pengawasan gerakan radikalisme seperti yang sudah dilakukan oleh UI. Jika ada yang berkhotbah Jumat, harus diketahui oleh rektor. Sebelumnya sudah ada perintah dari menteri. Kemudian rektor memberitahukan ke Masjid

Jadi sekali lagi, pemberitaan hoax masih bisa diatasi dari pada gerakan Masjid karena dalam khotbah atau ceramah tidak pakai hoax. Itu hanya bangun komunitas, misalnya mahasiswa baru diajak bicara masuk dalam kelompok dan lain-lain.

“Jadi, pemerintah harus tegas melawan gerakan ini karena bisa  memecah persatuan dan kerukunan bangsa,”pungkas Ade.

Lain Ade lain pula Ari Nurcahyo. Kepada Lira news.com, penulis buku “Gerakan Radikalisme Dalam Negara Pancasila” ini mengatakan,  bagaimana agar persatuan dan kerukunan terjaga dengan baik. Artinya, semua elemen bangsa ini harus memahami seni dan Budaya.

Kata dia, jalan kebudayaan itu seperti kembali kepada kearifan lokal mulai dari tradisi, adat istiadat, kerukunan dan lain-lain. Itulah sebenarnya hakekat dari budaya, warisan leluhur yang harus dirawat dengan baik.

Warisan leluhur yakni, saling silatutrahmi, menghargai antar sesama, gotong royong, musyawarah untuk mufakat dan lain-lain. Bukan saling sindir saling membenci, apalagi rasis atau persoalan SARA hingga terjadi kerusuhan.

Semuanya kembali pada budaya, karena budaya itu akar. Intinya, sebagai bangsa yang cinta budaya maka jalan satu-satunya kembali keakar. Kembali pada budaya dan tradisi, kembali kepada bumi nusantara dan kembali kepada rahim republik.

“Kita hari ini menjadi generasi yang tercerabut dari akar. Semuanya  kembali membangun peradaban berazas budaya dan tradisi,”katanya.

Reporter: Abuzakir Ahmad.

Mon Sep 16 , 2019
Jakarta, LiraNews – Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin menyampaikan, bahwa semua mendambakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bisa bekerja sungguh-sungguh secara benar, konsisten, konsekuen, dan imparsial serta independen memberantas korupsi. “Khususnya di kalangan pemangku amanat,” ujar Din terkait revisi Undang-Undang (UU) No 30/2002 tentang KPK, Senin (16/9/2019). […]