Memahami Terjemahan Alquran Merujuk Kemenag Tahun 2002

  • Whatsapp
banner 468x60

Jakarta, LiraNews — Dewan Pertimbangan (Wantim ) MUI gelar rapat pleno yang ke 41. Rapat tersebut mengangkat tema, “Memahami Terjemahan Alqur’an Kementerian Agama” di Gedung MUI Pusat, Jalan Proklamasi, Cikini Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Rapat Pleno digelar rutin itu, menghadirkan nara sumber dari Wantim Nasir Zubaidi, Sekertaris Wantim Prof. Noor Ahmad, Prof. Din Syamsudin, Kepala Bidang Pengkajian LPMQ, Abdul Aziz Sidqi, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud RI Riyanto.

Kepada liranews.com, Sekertaris Dewan Pertimbangan MUI Profesor Noor Ahmad, mengatakan Rapat  Pleno Wantim MUI ke 41 akan dilakukan pengereksian, ada perubahan-perubahan memahami terjemahan Alquran.

“Banyak hal yang perlu disesuaikan, terutama sekali terumit beberapa makna yang selama ini kurang tepat,” ujarnya.

Dalam pembahasan, terangnya, sudah banyak yang disampaikan oleh pembicara dan kedepan nanti, semua proses perubahan-perubahan itu disampaikan didalam buku atau terjemahan.

Ditambah lagi, ada beberapa makna yang memang “mustarakh” yang diterjemahkan sesuai dengan “asbabunnuzul” pertama sekali.

Jadi, lanjutnya, rapat-rapat yang “mustarakh” dikaitkan dengan “asbabunnuzul” sehingga menimbulkan makna yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan,  terkandung dalam Alquran.

Sebenarnya banyak hal terjemahan yang perlu dibahas lagi, kurang lebih 3 kali lagi pertemuan. Belum tuntas dibahas itu yakni terjemahan mulai dari tahun 2017, 2018 dan 2019.

Ini juga terjadi perubahan-perubahan yang sekarang ini dibaca adalah terjemahan Alquran 2002-2011 dan kebetulan juga belum terbit sekarang.

“Lalu terkait penggunaan bahasa Indonesia baku dalam terjemahan, itu hanya tehnis saja,” katanya.

Maka dari itu Noor berharap pada masyarakat, kalau belum membaca Alquran dengan baik yang terjemahan Alquran itu tidak apa-apa. Tapi, kalau bisa menampilkan Alquran dengan baik maka dibolehkan menggunakan terjemahan yang ada sekarang ini.

“Proses kita memahami terjemahan Alqur’an harus juga dengan hati-hati. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita membaca Alquran itu dengan baik, “ujar Noor Ahmad.

Sementara itu, dilokasi yang sama, saat ditanya, bagaimana pihak tertentu sengaja merubah huruf Alquran atau terjemahannya. Din Syamsudin mengatakan, Alquran ini dijamin oleh Allah, terjaga dan terpelihara. Tidak ada kitab suci yang gampang dihafal oleh sejuta anak-anak di dunia ini termasuk Indonesia, kecuali Alquran.

Oleh karena itu ketika ada gelagat untuk merubah satu huruf langsung ketahuan, apalagi mereka yang paham dan hafal Alquran.

“Terjemahanya pun demikian, jika tidak sesuai dengan terjemahan atau bahasa baku,” tegasnya.

Yang jelas, kata Din, semuanya harus merujuk keterjemahan, bahasa Malaysianya “mustahaq” dan itu bisa dijamin kebenarannya oleh Kementerian Agama. Karena Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ), itu jumlahnya puluhan akar ahli Alquran atau ahli bahasa Arab. Itu bisa dikoreksi langsung jika ada terjemahan yang salah.

“Boleh jadi ada orang perorang yang menerjemahkan dan orang terpengaruh. Jadi, sekali lagi kita merujuk pada Kementerian Agama terjemahan tahun 2002. Ada mahar perkawinannya, he he,” pungkas Din.

Sebelumnya, pada rapat Pleno itu, Din sempat menyinggung terjemahan Surah Almaidah yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Sebagai klarifikasi, sebenarnya kata aulia, pemimpin menjadi teman sejati itu sudah berubah sejak tahun 2002.

Kemudian, terkait penggunaan bahasa pun demikian, penyerapan kosa kata bahasa Arab kebahasa Indonesia itu sekitar 30 persen atau 3000 kosa kata. itu berubah hingga 180 derajat. Seperti “perlu” itu asal kata “fardhu”. Kedua kosa kata ini berbeda maknanya.

“Kita sepakat, terjemahan Alquran yang dipersembahkan pada masyarakat Indonesia ini yang mudah  dipahami oleh ummat. Itulah fungsi Alquran dan kemudian diamalkan. Maka orientasi  kepada pemudahan pemahaman itu harus diutamakan,” tutup. Din.

Reporter: Abuzakir Ahmad.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60