Mengembalikan Kejayaan Sarinah Menjadi Trading House Bagi Ukm Indonesia

LiraNews, Jakarta – Zaman dahulu, kalau orang ke Jakarta tidak lengkap jika tidak ke Sarinah karena ada kebanggaan tersendiri. Artinya, orang datang ke Sarinah bukan sekadar belanja tapi juga ingin mencoba fasilitas yang ada.

“Orang terpesona dengan gedung Sarinah yang menjadi salah satu gedung tertinggi di Jakarta juga lingkungannya tertata rapi, barang yang dijual cukup bersaing. Begitu bangganya orang membawa tentengan tas bermerk Sarinah, karena dia merasa datang dari lingkungan yang bisa menaikkan kelasnya,” ujar President Director PT Sarinah (Persero), Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa kepada LiraNews di kantornya yang asri.

Sugiarta menekankan, itu sebenarnya yang harus dilakukan. Artinya, barang-barang Indonesia yang unik-unik itu harus disajikan dengan cara yang sedemikian rupa. Sehingga orang bilang, misalnya, batik jika dibeli di pengrajin harganya hanya 100 ribu rupiah. Tapi jika dijual di Sarinah bisa mencapai 1 juta. “Karena disini ada nilai sejarahnya, ada cerita menarik tentang batik itu. Mengapa kita mau bayar mahal ? Karena kita membayar harga kenyamanan,” terang Pak Ngurah, sapaan akrabnya.

Menurutnya, itulah nilai-nilai yang dia bawa ke Sarinah dengan melakukan perombakan-perombakan beberapa lantai dengan menyajikan tempat berjualan yang lebih nyaman. Sehingga bisa memberi nilai lebih barang-barang yang dijual. “Itu yang kita lakukan, dari 7 lantai memiliki nuansa yang berbeda-beda. Kita buat tempat coffee shop untuk menarik orang berbelanja,” katanya.

Pada awal-awal di Sarinah saya melakukan survei sederhana di resto siap saji. Sugiarta bertanya kepada pengunjung yang sering makan sambil berjumpa dengan temannya. Saat ditanya tahukah gedung ini, anak muda itu menjawab tahu bahwa ini gedung Sarinah.

“Kenapa tidak belanja di Sarinah? Jawabnya mahal. Itu kesan yang terpatri di masyarakat. Justru, orang mau bayar dengan harga mahal kalau apa yang dikeluarkan itu sesuai dengan nilai yang diperoleh,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sugiarta menerangkan, sekarang masyarakat lebih jeli untuk melihat apa yang dia bisa peroleh di Sarinah. Dengan daya beli makin turun dia melihatnya masyarakat bukan tidak mau berbelanja, tapi mereka sekarang membuat skala prioritas. “Masyarakat membeli sesuai kebutuhan, kalau dulu kita gelap mata kalau melihat barang meski belum tentu dipakai,” tuturnya.

Sarinah, terangnya, mencoba membaca fenomena itu. Dulu orang kemari untuk belanja, sekarang dibuat atmosfir dengan lingkungan yang nyaman. Kedua, dibuat sebagai tempat kongkow, karena mereka datang tidak hanya belanja mungkin mau ngopi atau mau makan atau mungkin juga dia butuh hiburan.

“Maka kita rancang tempat hiburan menjadi sebuah kawasan. Sarinah itu tagline nya the window of Indonesia. Bagaimana orang datang ke Sarinah punya persepsi pemahamanan opini Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke kita masukan dalam konteks hasil kebudayaannya. Bisa berupa kerajinan tangan, fashion, semakin hari kita lengkapi,” jelasnya.

“Kita juga ingin masyarakat memahami tidak hanya dari sisi industri kreatif, kita juga ingin masuk ke food and beverage, bagaimana makanan-makanan kuliner disajikan di Sarinah. Kita bertahap melakukan itu, sampai kepada healthy food, makanan sehat. Kita siapkan tempat yang menyajikan makanan sehat,” tambahnya.

Inilah yang sekarang sedang disesuaikan bagaimana Sarinah bisa beradabtasi, bisa membaca tren atau animo kebutuhan masyarakat itu. Sarinah dibuat senyaman mungkin. Sarinah bisa melakukan perubahan-perubahan itu.

“Mohon doanya, jika tidak hambatan untuk bulan September kita akan bangun tower baru lagi di lahan parkir.  kita bangun ruang mice, convention, hotel, apartemen,” imbuhnya.

Selain itu, tambahnya, gedung Sarinah lama akan dikembalikan ke aslinya, klasik tapi modern. Disesuaikan dengan membuat tower yang baru agar bisa menjadi icon kembali, kembanggaan kita sebagai anak bangsa dan juga menjadi pusat perekonomian di Jakarta ini, khususnya bagi masyarakat Indonesia.

Kedepan Sarinah akan menjadi trading house bagi UKM Indonesia yang menampung hasil karya para UKM dari seluruh Indonesia. Yang visinya menjadi ekosistem bagi bisnis UKM, Sarinah bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata, agen, komunitas tour guide untuk program kunjungan ke Indonesia belanjanya ke Sarinah, seperti turis dari China, Jepang, Arab jumlahnya cukup besar.

Presiden Soekarno, ungkapnya, ingin menekankan betapa pentingnya kesadaran untuk menghargai setiap warga negara yang memberikan sumbangsih terhadap pembangunan Indonesia, seberapapun besar atau kecilnya jasa mereka, atau tinggi atau rendahnya latar belakang sosio ekonomi mereka.

“Bangun Sarinah betul-betul dengan akar budaya bangsa yang ditaruh di hati. Bung Karno membuat Sarinah itu bukan untuk main-main. Beliau membuat Sarinah ini menjadi inspirator, stabilisator dan dinamisator untuk perkembangan perekonomian Indonesia dalam bentuk membangun perdagangan modern,” pungkasnya. LN-MHS