Mengenal Upacara Labuhan dan Adat

Sinuhun Panembahan Agung Tedjowulan

Oleh: KRT H Parno Wibagsa*)

Surakarta, LiraNews – Tujuan dari diadakannya upacara adat salah satunya adalah untuk keselamatan diri, keluarga serta masyarakat dalam suatu lingkungan sosial.

Upacara adat memiliki fungsi spiritual karena upacara adat mampu membangkitkan emosi keagamaan, menciptakan rasa aman, tentram dan selamat. Fungsi sosial bermaksud semua yang menyaksikan upacara adat dapat memperoleh atau menyerap pesan-pesan yang disampaikan dalam upacara tersebut.

Upacara adat adalah segala aktifitas penduduk local yang dimana sifatnya menjadi suatu kebutuhan dan sebagai bentuk acara perayaan. menjelaskan upacara adat adalah segala kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama.

Masih banyak lagi upacara-upacara adat yang dilakukan ditengah-tengah masyarakat, Karena pada saat ini masyarakat hanya menganggap bahwa upacara adat hanya mitos semata , Juga mereka bekerja sehingga tidak ada waktu untuk melakukan upacara adat. Selain itu saat ini banyak masyarakat yang asyik dengan gadgetnya sehingga melupakan kebudayaan dan upacara adat di sekitarnya.

Labuhan adalah salah satu upacara adat yang dilakukan oleh Raja-raja di Keraton Yogyakarta. Upacara adat ini bertujuan untuk memohonkan keselamatan sinuhun dan keluarga besar nya, Kraton kasunanan dan rakyat Surakarta. Upacara tersebut sarat akan makna magis yang biasanya dihubungkan dengan legenda-legenda tertentu.

Labuhan itu dilaksanakan dengan cara melabuh uburampe yang sudah disiapkan. Adapun uburampe yang akan di labuh adalah nasi tumpeng, jajan pasar, buah-buahan, dan berbagai macam bunga, namun bagi Labuhan yang dilakukan oleh pihak keraton, seperti Labuhan Ageng ditambahkan dengan pakaian Sultan.

Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mengikuti upacara ritual Labuhan Tutupan Suro Tahun Ehe 1556 di Pesisir Laut Selatan, tepatnya di Pantai Parangendog, Yogyakarta, berangkat dari Sasono Poernomo Surakarta Hadiningrat, Sinuhun Panembahan Agung Tedjowulan juga turut menghadiri upacara yang dipimpin oleh Kangjeng Pangeran Haryo Adipati Panembahan Pakoenegoro tersebut.

KRH Aryo Gus Ripno dan KRT H Parno Wibagsa

Selain itu hadir juga Garwadalem Kangjeng Gusti Ratu Mas, dua putri Sinuhun, dan seorang cucunya, beserta sejumlah pangeran sepuh.

Mengutip penjelasan Sinuhun Tedjowulan, “kita wajib iman pada yang gaib, sebagaimana dalam Q.S. Al Baqarah ayat 3, dan menghormati sesama makhluk Allah,” hubungan manusia dengan Tuhannya harus disertai pula hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam semesta. Termasuk di dalamnya hubungan dengan sesama makhluk lainnya. Terlebih, manusia menjalani titah sebagai khalifah fil ardli atau pemimpin di muka bumi.”

Labuhan Tutupan Suro diadakan hanya jika ada Dhawuhdalem atau Perintah Sinuhun. “Alhamdulillah, Labuhan Tutupan Suro tahun ini berlangsung lancar meski kami sempat menerima informasi bahwa ketinggian ombak hingga ke bibir pantai diperkirakan akan cukup mengkhawatirkan,”

*) Ketua Prajurit Pengawal Sinuhun Tedjowulan Malang Raya

Related posts