Misteri Candi Ceto Dan Candi Suku Maya di Meksiko dan Suku Inca di Peru

| Diterbitkan Pada:
Keterangan Foto:
Bagikan:

Wonosobo, LiraNews – Candi Ceto adalah salah satu candi Jawa-Hindu abad ke-15 yang terletak di lereng barat Gunung Lawu dengan ketinggian 1495 meter di atas permukaan laut, berada di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Daya tariknya mampu membuat 3 orang pendaki wanita dari Surabaya, Jakarta, dan Medan terdiri dari Yanni Khrishnayanni, Onaria Fransisca, dan Silvya Sembiring mengunjungi tempat ini usai mendaki Gunung Prau di Wonosobo, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Nama Candi Cetho ini sebenarnya juga merupakan nama dusun tempat candi berada, yaitu Dusun Cetho,” jelas Dar Edi Yoga yang memandu para pendaki wanita.

Dalam bahasa Jawa, terang Dar Edi Yoga, cetho itu artinya jelas, karena bila kita berada di Dusun Cetho maka akan terlihat jelas ketika melihat pemandangan pegunungan di sekitar dusun ini, seperti Gunung Merbabu, Gunung Lawu dan Gunung Merapi, serta puncak Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Selain pemandangan pegunungan terlihat juga dengan jelas pemandanga kota Surakarta dan Kota Karanganyar.

“Candi Cetho telah dibangun di abad ke 15, masa Kerajaan Majapahit Hindu dan memiliki arsitektur yang berbeda dengan candi Hindu lainnya di Jawa, karena Candi Cetho memiliki arsitektur seperti punden berundak,” terang Yoga.

Ditambahkan Yoga, dalam beberapa literatur, perbedaan arsitektur ini lantaran candi ini dibangun diakhir masa kejayaan Kerajaan Majapahit, dimana saat itu kerajaan ini sudah akan runtuh. Dengan keruntuhuhan Kerajaan Majapahit, maka kebudayaan asli masyarakat sekitar kembali muncul. Oleh karenanya arsitektur Candi Cetho ini merepresentasikan kebudayaan asli masyarakat sekitar Dusun Cetho.

Penemuan Kembali Candi Cetho pertama kali oleh sejarahwan Belanda bernama Van de Vlies. Ia menemukan Candi Cetho di tahun 1842. Selain Van de Vlies, terdapat beberapa sejarahwan dan ahli lainnya yang telah melakukan penelitian terhadap Candi Cetho yakni A.J. Bennet Kempers, K.C. Crucq, W.F. Sutterheim, N.J. Krom dan Riboet Darmosoetopo yang berkebangsaan Indonesia.

Setelah penemuan pertama dan penelitian dari para ahli, di tahun 1928 Candi Cetho ini digali kembali. Dari penggalian ini, diketahui bahwa Candi Cetho ini dibangun di masa akhir Majapahit yakni di sekitar abad ke 15. Sejak penemuan kembali Candi Cetho ini, banyak wisatawan yang telah mengunjungi candi ini karena keunikan arsitekturnya bila dibandingkan candi pada umumnya. Selain itu, karena letaknya yang berada di dataran tinggi membuat Candi Cetho memiliki pemandangan pegunungan yang mampu menarik hati para wisatawan.

Candi Cetho memiliki arsitektur unik berupa 13 punden berundak. Sejarah Candi Cetho dibangun dengan material batu andesit dengan memakai relief yang sederhana, tidak seperti Candi Hindu lain yang memiliki relief yang cukup kompleks. Candi Cetho memiliki arsitektur yang mirip dengan candi Suku Maya di Meksiko dan Suku Inca di Peru. Patung yang terdapat di candi ini pun bila dilihat tidak mirip dengan orang Jawa melainkan mirip dengan orang Sumeria atau Romawi yang memiliki kuping besar dan bentuk kepala besar.

Bentuk mata arca itu juga dianggap sangat mirip dengan posisi mata pada patung Sumeria. Gelang pada tangan kanan dan kiri patung mirip jam tangan, yang konon juga merupakan ciri khas kebudayaan Sumeria (sekitar 3.500 – 2.300 tahun SM)

Keunikan arsitektur ini membuat perdebatan diantara para ahli sejarah tentang tahun dibuatnya candi ini. Melihat arsitekturnya, bisa jadi Candi Cetho telah dibuat jauh sebelum masa Kerajaan Majapahit dan tertutup material letusan Gunung Lawau pada masa lalu. Bahan Andesit yang digunakan di candi Cetho ini berbeda dengan candi Hindu di masa kerajaan Majapahit yang pada saat itu dibangun menggunakan batu bata merah.

“Bentuk punden berundak ini mirip dengan situs Gunung Padang di Cianjur yang usianya jauh lebih tua, antara 5000 hingga 14.000 sebelum Masehi,” ujar Dar Edi Yoga.

Mendengar itu, Silvya Sembiring pun sangat antusias mengajak Onaria Fransisca dan Yanni Krishnayanni untuk segera mengunjungi situs Gunung Padang di Cianjur.

“Candi Cetho memang sangat mempesona, dan saya ingin juga melihat situs Gunung Padang,” ucap Silvya Sembiring. LN-OGA

Fri Nov 29 , 2019
Dobo, LiraNews – Kegiatan Kampanye Keluarga Hebat Menggunakan Botol Minum Sendiri yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan kabupaten Kepulauan Aru di kompleks Kampung pisang Dobo, Jumat (29/11/2019). Hadir Bupati dr Johan Gonga beserta Istri, kepala Dinas Kesehatan Y. E. O Uni iplaita dan undangan lainnha. Bupati Kepulauan Aru dalam sambutannys mengatakan, […]