Mulyanto Minta Pemerintah Tak Buat Listrik PLTA Jadi Mahal

Gravatar Image
  • Whatsapp

Jakarta, LiraNews – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto minta pemerintah mempertimbangkan secara seksama penerapan tarif Biaya Jasa Pengelolaan Sumber Daya Air (BJP-SDA) terhadap PLTA (pembangkit listrik tenaga air).

“Sebab dengan pengenaan tarif itu harga biaya pokok pembangkitan (BPP) listrik dari sumber air menjadi mahal,” kata Mulyanto, Sabtu (18/9/2021).

Menurut Mulyanto, kalau sampai tarif listrik PLTA ini menjadi mahal, maka yang akan mendapat beban adalah masyarakyat dan subsidi negara untuk listrik akan meningkat.

“Jadi antara tarif BJP-SDA dengan subsidi listrik sebenarnya hanyalah soal “kantong kiri dan kantong kanan”. Namun demikian, kita tetap mendesak, agar opsi kebijakan yang akan diambil pemerintah haruslah yang lebih memihak kepada masyarakat banyak,” ujar Mulyanto.

Ditambahkan Mulyanto, ketimbang melaksanakan penarikan tarif BJP-SDA, lebih baik pemerintah mewajibkan PLTA Saguling untuk merawat waduk dan area tangkapan air di sekitarnya untuk menjaga debit dan kualitas air agar tetap baik.

“Kegiatan itu bisa melalui program reboisasi, pengambilan eceng gondok, pengerukan sedimen, dan kegiatan perawatan waduk lainnya. Kebijakan ini malah akan lebih produktif,” ungkap Wakil Ketua F-PKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan ini.

“Kegiatan tersebut bukan saja sangat penting dalam menjaga lingkungan waduk, namun juga akan mendorong peningkatan ekonomi rakyat di sekitar waduk Saguling,” tambah Mulyanto.

Mulyanto juga mendesak pemerintah untuk memanfaatkan area waduk Saguling ini untuk pemasangan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya), karena waduk ini memiliki area yang luas dan cocok untuk pembangunan PLTS.

“Grid jaringan transmisi 500 KV Jawa-Bali sudah tersedia, sehingga lebih mudah interkoneksinya,” beberapa Mulyanto.

Sebagai informasi, lanjut Mulyanto, dari perhitungan pihak PT Indonesia Power, BPP PLTA Saguling sekarang ini sebesar Rp. 260,- per kWh.

Bila dikenakan tarif BJP-SDA, jelas legislator asal Dapil Banten 3 ini, maka diperkirakan BPP-nya akan melonjak menjadi Rp. 645,- per kWh. Ini berarti lebih tinggi dari BPP PLTU Suralaya.

“Ini kan tidak masuk akal, pembangkit listrik dengan sumber air yang berlimpah lebih mahal dari pembangkit listrik dari bahan bakar fosil,” tandas Mulyanto.

PLTA Saguling sendiri dibangun pada tahun 1985 dengan kapasitas daya terpasang sebesar 700 MW. Dikelola oleh anak perusahaan PLN, Indonesia Power.

Dibangun di atas sungai Citarum secara kaskading (bertangga) dengan PLTA Cirata dan PLTA Jatiluhur. Faktor kapasitas PLTA Saguling hanya sekitar 40 persen. Tertinggi pada tahun 2016 dengan faktor kapasitas sebesar 60 persen.

Related posts